nataragung.id – JAKARTA – Ada yang lebih berbahaya dari hoaksโyaitu ketika hoaks itu diproduksi dan disebarkan oleh mereka yang pernah duduk dalam kekuasaan. Dengan legitimasi masa lalu, mereka bicara seolah penjaga kebenaran, padahal seringkali hanya penjaja kecurigaan.
Said Didu, mantan pejabat BUMN yang kini aktif sebagai komentator politik oposisi, kembali memantik keriuhan. Orang ini mengangkat unggahan yang menuding mantan Ibu Negara Iriana sebagai pemilik tambang emas di Raja Ampat. Tangkapan layar ditampilkan, lengkap dengan nama dan data administratif. Namun saat unggahan aslinya dihapus oleh si pemilik awal, Said Didu dengan entengnya ikut menghapus dan menulis: โ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ต๐ช๐ฏ๐จ ๐ช๐ฏ๐ง๐ฐ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ฑ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ฑ๐ถ๐ด.โ
Semudah itukah menyebar sesuatu yang bisa merusak reputasi, lalu menghapusnya tanpa konsekuensi? Dimana pertanggungjawaban etik seorang eks pejabat negara?
Dalam “๐๐ฏ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐๐ช๐ด๐ฐ๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ณโ (Claire Wardle & Hossein Derakhshan), disebutkan bahwa penyebaran misinformasi oleh tokoh publik jauh lebih destruktif karena memperbesar efek resonansi dan mempercepat pembentukan opini palsu. Artinya, apa yang dilakukan oleh mantan pejabat semacam ini bukan hanya sembronoโtapi memperpanjang kebodohan kolektif.
Di era ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ต-๐ต๐ณ๐ถ๐ต๐ฉ, di mana emosi lebih dipercaya daripada fakta, mantan elite seharusnya menjadi remโbukan bensin. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: kekuasaan yang telah ditanggalkan malah digunakan sebagai alat pendongkrak opini pribadi. Bahkan ketika informasi terbukti rapuh, mereka bisa mundur dengan ringanโtanpa klarifikasi, apalagi permintaan maaf.
Ini bukan sekadar soal Iriana atau Raja Ampat. Ini soal bagaimana seorang mantan pejabat yang seharusnya paham integritas, justru ikut memperkeruh demokrasi yang sedang susah payah belajar dewasa. Ketika publik percaya pada suara-suara yang penuh prasangka dan minim verifikasi, pendidikan politik akan kehilangan pijakan.
Sialnya, orang-orang seperti ini justru dielu-elukan oleh sebagian publikโbukan karena integritasnyaโtapi karena narasi bencinya.
Demokrasi akan gagal bukan karena rakyat tak mampu berpikir, tapi karena terlalu sering dibodohi oleh mereka yang seharusnya memberi contoh berpikir. Ketika yang diwariskan hanyalah sinisme, maka ke depan yang tumbuh hanyalah benih apatisme.
โ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฟ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ, ๐๐ฒ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฝ๐๐ฏ๐น๐ถ๐ธ ๐๐ฒ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐๐ป๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ธ ๐บ๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ถ๐ต๐ฎ๐ฝ๐๐ ๐๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ถ ๐๐๐ฒ๐ฒ๐.
*) Penulis adalah Profesional (Former), CEO Perusahaan Swasta, Penulis Buku, Kolumnis KOMPAS.

