nataragung.id – Bandar Lampung – Di tepian Way Komering, yang membelah Bumi Sekala Brak, terdapat sebuah pasar tradisional bernama Pasar Komering. Di sinilah segala rupa manusia bertemu: pedagang dari marga Pepadun yang menjual hasil bumi, pengrajin dari kalangan Peminggir dengan kain tapisnya, hingga saudagar dari negeri seberang.
Namun, di balik keriuhan transaksi, tersembunyi sekat-sekat halus yang jarang diterobos.
Seorang pemuda dari marga Pubian (Pepadun) bernama Arya, datang ke pasar untuk pertama kalinya. Ia dibekali pesan dari ayahnya, “Jagalah Piil Pesenggiri-mu, jangan sampai kau terlalu rendah hati hingga hilang wibawa.” Pesan ini disalahartikan Arya. Ia menjadi kaku, enggan berbaur, dan hanya berinteraksi dengan sesama pedagang dari marganya sendiri.
Hasilnya? Dagangan rempah-rempah pilihannya sepi pembeli.
Di sudut lain pasar, seorang gadis dari kalangan Peminggir bernama Kirana, membantu sang ibu menjual kain tapis. Kirana mempraktikkan Nemui Nyimah dengan sempurna; ramah pada setiap orang yang lewat. Namun, ibunya kerap berbisik, “Cukup jual saja, Nak. Jangan terlalu dekat dengan mereka yang bukan seadat.” Prasangka yang membuat Kirana merasa terpenjara dalam lingkaran pergaulannya sendiri.
Suatu siang, badai mengamuk. Pasar Komering porak-poranda. Kios Arya rubuh, dan kain-kain indah Kirana berserakan terendam lumpur. Dalam keputusasaan itulah, Arya melihat Kirana berusaha menyelamatkan dagangannya. Tanpa pikir panjang, Arya yang perkasa mendekat dan membantu mengangkat lembaran kain yang berat. Itulah pertama kalinya mereka benar-benar berinteraksi, melampaui sekat marga dan status.
Dari bencana itu, sebuah benih pemahaman tentang Nengah Nyappur mulai tumbuh.
Jalan Panjang Seorang Saudagar
Kisah tentang kegagalan Arya dan Kirana sampai ke telinga Sutan Muhammad Fadil, seorang saudagar kaya dan dihormati dari marga Selagai (Pepadun). Beliau adalah sosok yang dipandang berhasil karena mampu membangun jaringan dagang hingga ke Palembang dan Batavia.
Diundangnyalah Arya dan Kirana ke balai adatnya.
“Apakah kalian tahu, mengapa perahu bisa berlayar hingga ke lautan luas?” tanya Sutan Fadil. Arya dan Kirana menggeleng. “Karena air sungai yang Nengah Nyappur, berbaur, dengan air laut. Ia tidak menolak, tidak membangun tembok. Demikianlah manusia.”
Sutan Fadil kemudian bercerita tentang perjalanan hidupnya.
Dahulu, ia hanyalah pedagang kecil. Kunci keberhasilannya adalah kemauannya untuk Nengah Nyappur, aktif bergaul dan tidak individualistis . Ia menghadiri setiap undangan, duduk bersila dengan siapa saja, dari petani hingga bangsawan, mendengarkan cerita dan keluh kesah mereka. “Dengan Nengah Nyappur,” lanjutnya, “kita bukan hanya mencari keuntungan, tapi membangun Sakai Sambayan (tolong-menolong). Jejaring kita adalah kekuatan kita.”
Beliau juga membacakan petuah dari naskah Kuntara Raja Niti, yang menyatakan bahwa Nengah Nyappur adalah salah satu unsur utama dari Piil Pesenggiri yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari . Arya dan Kirana mulai menyadari bahwa selama ini mereka telah membangun tembok, bukan jembatan.
Kekuatan Sebuah Sapaan.
Diinspirasi oleh wejangan Sutan Fadil, Arya dan Kirana memutuskan untuk mencoba pendekatan baru. Mereka sepakat untuk memulai proyek bersama: menyelenggarakan Pekan Budaya Komering yang mengundang semua marga dan kalangan.
Arya, yang biasanya hanya diam di kiosnya, mulai berkeliling pasar. Ia menebarkan senyum dan menyapa. “Selamat pagi, Pak. Dagangan hari ini kelihatan segar sekali,” katanya pada seorang petani dari marga yang berbeda. Sapaan sederhana itu membuka percakapan yang hangat.
Ia teringat akan firman Allah SWT: “Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86).
Menyebarkan salam adalah bentuk nyata dari Nengah Nyappur yang diajarkan agama.
Sementara Kirana, dengan keberanian baru, mulai mendatangi kelompok-kelompok perempuan dari marga lain. Ia memuji kerajinan mereka dan bertukar pikiran tentang motif kain. Ia berusaha menerapkan sikap lemah lembut sebagaimana diperintahkan dalam QS. Ali ‘Imran: 159.
Ia menyadari bahwa Nengah Nyappur bukan berarti kehilangan identitas, tetapi justru memperkuatnya dengan akhlak mulia.
Proyek mereka tidak lancar. Ada bisik-bisik miring dan cibiran. Namun, dengan keteguhan hati, mereka terus melangkah. Secara perlahan, sekat-sekat itu mulai runtuh.
Semangat kebersamaan dan keterbukaan yang mereka pancarkan ternyata menular.
Jejaring yang Menyelamatkan
Pekan Budaya Komering akhirnya terlaksana. Pasar Komering menjadi hidup dengan warna-warna yang belum pernah terlihat sebelumnya. Stan-stan berdiri berjejer, tidak lagi dikelompokkan berdasarkan marga, tetapi berdasarkan jenis barang. Suasana persaudaraan (ukhuwah) yang dijunjung tinggi dalam Islam terasa kental di udara.
Namun, ujian terbesar datang tak terduga. Pada puncak acara, seorang anak dari pedagang baru tersesat. Kepanikan melanda. Daripada saling menyalahkan, semangat Nengah Nyappur yang telah dibangun menunjukkan wujudnya. Arya segera mengkoordinir para pemuda dari berbagai marga untuk membentuk regu pencari. Kirana memimpin para ibu untuk menenangkan suasana dan berdoa. Mereka bekerja sama bagai satu tubuh, sebagaimana sabda Rasulullah, di mana jika satu anggota tubuh sakit, yang lain turut merasakan.
Anak itu akhirnya ditemukan dengan selamat. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bagi semua warga Pasar Komering. Nengah Nyappur dan Sakai Sambayan bukanlah konsep usang. Ketika dijalankan, ia mampu menyelamatkan, mempersatukan, dan menguatkan. Isolasi sosial dan pergaulan yang tidak sehat, yang sempat menjadi tantangan, akhirnya terkikis oleh solidaritas yang tumbuh dari interaksi yang positif.
Harmoni di Bumi Sekala Brak
Beberapa tahun telah berlalu. Pasar Komering telah bertransformasi menjadi pusat ekonomi dan budaya yang benar-benar inklusif. Arya dan Kirana, yang kini telah menikah dan membina rumah tangga, menjadi teladan dalam masyarakat mereka.
Dalam sebuah upacara adat Begawi yang meriah, tetua adat menganugerahkan gelar kepada mereka berdua. Arya diberikan gelar “Sutan Batin Lembah Komering”, sementara Kirana menyandang gelar “Suttani Tapis Berseri”. Gelar (Bejuluk Beadok) ini adalah pengakuan atas jasa mereka mempersatukan masyarakat .
Dalam pidato penerimaan gelarnya, Arya berkata, “Wahai saudara-saudaraku, Nengah Nyappur telah mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam kotak-kotak sempit marga dan status. Dengan Nengah Nyappur, kita belajar untuk tidak merendahkan kelompok lain (QS. Al-Hujurat: 11) dan menjauhi prasangka pburuk (QS. Al-Hujurat: 12).
Kita telah membuktikan bahwa dengan membangun jaringan dengan akhlak, kita tidak hanya menciptakan kemakmuran, tetapi juga keharmonisan yang abadi.”
Kisah Arya dan Kirana bergema di seluruh Bumi Sekala Brak. Mereka menjadi bukti hidup bahwa Nengah Nyappur adalah seni berinteraksi yang memuliakan manusia, merajut perbedaan menjadi sebuah mozaik indah bernama persatuan.
Jejaring yang mereka bangun dengan akhlak menjadi fondasi kokoh bagi masyarakat yang beradab dan bermartabat.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Baharudin, M., & Luthfan, M. A. (2020). Aksiologi Religiusitas Islam pada Falsafah Hidup Ulun Lampung. International Journal Ihya’ ‘Ulum Al-Din, 21(2), 158-181. [Jurnal Akademik].
2. Bujuri, D. A. (2018). Implementasi Nilai-Nilai Falsafah Hidup Orang Lampung dalam Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan. Tesis Master, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. [Tesis Magister].
3. Romadhon, A., et al. (2024). Nilai-Nilai Tradisi Pelarian (Sebambangan) dalam Masyarakat Adat Lampung Pepadun Perspektif Sosiologi Hukum. Bulletin of Islamic Law, 1(1), 13-22. [Jurnal Akademik].
4. Rahman, A. P. (2024). Studi Nilai Tradisi Nyambai Adat Lampung Terhadap Konsep Tata Nilai dalam Masyarakat Modern. Skripsi, Universitas Lampung. [Skripsi].
5. Prof. Dr. Sudjarwo, dkk. (2017). Cerita Rakyat dari Lampung Barat. [Buku].
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

