nataragung.id – Bandar Lampung – Pada suatu masa, seorang musafir dari negeri seberang tersesat di hutan belantara Lampung. Kelelahan dan kelaparan, ia tiba di sebuah pekon (desa) yang dipimpin oleh Menak Batin yang bijaksana. Saat ia mengetuk pintu rumah pertama, seorang perempuan membukanya dan langsung memberikan segelas air putih. Di rumah kedua, ia disuguhi sepiring nasi. Kedua tuan rumah itu ramah, namun sang musafir masih merasa ada yang kurang.
Akhirnya, ia tiba di rumah Menak Batin. Sang pemimpin adat sendiri yang menyambutnya. Bukannya langsung memberi makanan, Menak Batin justru mengambilkan air untuk mencuci kaki sang tamu yang penuh lumpur. Kemudian, ia menghidangkan tiga cawan: cawan pertama berisi air bening untuk melepas dahaga, cawan kedua berisi kopi pahit yang menghangatkan, dan cawan ketiga berisi sirih pinang lengkap.
“Air pertama adalah tanda kami memahami lelahmu,” ujar Menak Batin. “Kopi kedua adalah simbol kehangatan persahabatan yang kami tawarkan. Dan sirih ketiga ini adalah lambang kehormatan, bahwa kedatanganmu bukan sekadar kebetulan, tetapi sebuah takdir yang patut kami sambut dengan sukacita.”
Sang musafir pun menitikkan air mata. Ia baru memahami bahwa Nemui Nyimah bukan sekadar memberi, tetapi tentang bagaimana memberi dengan sepenuh hati dan penghormatan. Sejak hari itu, ia tinggal dan belajar adat istiadat di pekon tersebut, menjadi jembatan persahabatan antara dua negeri.
Hakikat Nemui Nyimah: Menyambut Tamu, Menyambut Berkah.
Nemui Nyimah adalah filosofi hidup masyarakat Lampung yang berarti “menerima tamu dengan murah hati dan senang hati”. Nemui artinya menerima atau menyambut, sedangkan Nyimah berarti memberi, mengizinkan, atau bermurah hati. Nilai ini bukanlah sekadar formalitas sosial, melainkan sebuah kewajiban adat yang berakar dari keyakinan bahwa setiap tamu membawa keberkahan tersendiri.
Dalam perspektif Adat Bersendi Syara’, Nemui Nyimah adalah ladang praktik untuk mengamalkan akhlak mulia yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Al-Bukhari)
Analisis terhadap hadis ini menunjukkan bahwa kemurahan hati terhadap tamu tidak lagi sekadar tradisi leluhur, tetapi menjadi indikator keimanan seseorang. Keyakinan akan adanya hari pembalasan mendorong seorang Muslim untuk berlomba-lomba dalam berbuat baik, termasuk memuliakan tamu, karena ia yakin bahwa setiap kebaikan akan dibalas oleh Allah.
Dengan demikian, Nemui Nyimah menjadi ibadah sosial yang menghubungkan keyakinan hati (iman) dengan tindakan nyata (amal saleh).
Ritual dan Simbol dalam Nemui Nyimah: Sebuah Tafsir Budaya dan Spiritual.
Pelaksanaan Nemui Nyimah sarat dengan ritual dan simbol yang memiliki makna filosofis dan spiritual yang dalam:
1. Sekapur Sirih: Filosofi Penyambutan yang Mendalam: Prosesi penyambutan tamu agung selalu diawali dengan penyajian Sekapur Sirih. Sirih, pinang, kapur, dan gambir yang disusun dalam cerana atau bekhis bukanlah sekadar hidangan. Setiap elemennya mengandung makna:
(o). Daun Sirih: Berbentuk hati, melambangkan ketulusan niat dan kemurnian hati tuan rumah.
(o ). Buah Pinang: Keras dan perlu dikunyah, melambangkan keteguhan prinsip dan komitmen untuk “mencerna” segala sesuatu dengan baik dalam pergaulan.
(o ). Gambir: Rasanya pahit, mengingatkan bahwa dalam persahabatan pasti ada ujian dan kesulitan yang harus dihadapi bersama.
(o). Kapur Tohor: Warnanya putih bersih, melambangkan niat yang suci dan harapan agar hubungan tetap jernih.
Ritual mempersilakan tamu untuk mengambil dan mengunyah sirih ini adalah sebuah metafora visual yang powerful. Ini adalah undangan untuk memasuki ruang kehidupan tuan rumah dengan landasan ketulusan, keteguhan, kesabaran, dan kesucian. Praktik ini selaras dengan ajaran Islam untuk memiliki niat yang ikhlas dalam setiap perbuatan, sebagaimana sabda Nabi, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
2. Cangget Muli: Tarian Penyambutan yang Penuh Makna: Untuk tamu-tamu kehormatan, seringkali disuguhkan tarian Cangget Muli. Tarian ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga merupakan sebuah “narasi gerak” tentang nilai-nilai kemuliaan. Gerakan yang lemah gemulai, sopan, dan teratur mencerminkan etika pergaulan yang dijunjung tinggi. Tarian ini adalah bentuk komunikasi non-verbal yang menyampaikan pesan, “Kami menyambut Anda dengan penuh hormat dan kegembiraan, dengan tata krama yang kami jaga.”
Ini adalah implementasi dari ayat Al-Qur’an:
Waqsid fii mashyika waghdud min sawtik; inna ankaral aswaati lasawtul hamiir
“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqmān: 19).
Ayat ini mengajarkan tentang kesantunan dalam berperilaku, sebuah nilai yang diwujudkan secara estetis dalam tarian Cangget Muli.
3. Prinsip “Tigo Bulan Sehari”: Tanggung Jawab terhadap Tamu: Dalam adat Lampung, dikenal prinsip Tigo Bulan Sehari, yang mengajarkan bahwa seorang tamu harus dijamu dengan baik selama tiga hari pertama dengan segala yang terbaik yang dimiliki tuan rumah, tanpa beban. Filosofi ini menunjukkan komitmen yang luar biasa untuk memuliakan tamu.
Dalam Islam, hak tamu adalah selama tiga hari, sebagaimana dalam hadis. Lebih dari itu, ia menjadi sedekah. Nemui Nyimah dengan demikian telah menginternalisasi batasan waktu ini menjadi sebuah pedoman moral yang elegan, di mana kemurahan hati diberikan secara optimal dalam koridor yang diajarkan oleh syara’.
Legenda dan Jejak Sejarah: Marga dan Tradisi Menjamu Para Pendakwah.
Sejarah lisan dan naskah kuno seperti Kuntara Raja Niti menceritakan bagaimana falsafah Nemui Nyimah menjadi pintu masuk tersebarnya Islam di bumi Lampung. Sebuah legenda dari marga Pemuka menuturkan tentang kedatangan seorang ulama dari Jawa yang bernama Syekh Abdul Qohar di pesisir Lampung.
Saat itu, Sang Syekh dan pengikutnya disambut oleh kepala marga Pemuka dengan upacara adat yang lengkap. Sang kepala marga tidak memandang mereka sebagai orang asing, melainkan sebagai tamu agung yang membawa cahaya baru. Atas sambutan yang tulus dan penuh hormat inilah, Sang Syekh kemudian diizinkan untuk tinggal dan menyebarkan ajaran Islam, yang ternyata sangat sejalan dengan nilai-nilai adat yang sudah ada, termasuk Nemui Nyimah.
Kisah ini menunjukkan bahwa garis keturunan marga-marga di Lampung tidak hanya dibangun di atas prinsip kekerabatan, tetapi juga atas dasar komitmen untuk menjadi tuan rumah yang baik bagi siapa pun yang membawa kebaikan, termasuk para pembawa ajaran agama. Silsilah kebangsawanan mereka diperkuat oleh catatan tentang bagaimana leluhur mereka menjadi pelindung dan penyambut tamu-tamu yang mulia.
Nemui Nyimah di Zaman Kini: Menjadi Tuan Rumah Peradaban
Di era globalisasi di mana batas-batas negara semakin kabur, semangat Nemui Nyimah justru menjadi lebih penting. Nilai ini mengajak kita untuk tidak hanya menjadi tuan rumah yang baik di rumah sendiri, tetapi juga menjadi “tuan rumah” dalam pergaulan global yang penuh tantangan.
Nemui Nyimah modern berarti menyambut perbedaan pendapat dengan lapang dada, menerima kedatangan orang dari latar belakang yang berbeda dengan hormat, dan menggunakan media sosial dengan etika yang mencerminkan keramahan budaya. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW dikenal dengan akhlaknya yang mulia dan mampu menerima tamu dari berbagai suku dan agama dengan baik, kita pun diajak untuk meneladani sikap tersebut.
Dengan memaknai Nemui Nyimah sebagai manifestasi akhlakul karimah, setiap interaksi sosial kita, dari ruang tamu hingga ruang digital, dapat menjadi medan untuk menebar kemuliaan, merajut ukhuwah, dan pada akhirnya, menjadi sebab turunnya rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, tamu yang dimuliakan hari ini, bisa jadi adalah pembawa berkah untuk esok hari.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Kuntara Raja Niti. (Naskah Kuno Adat Lampung). Transliterasi dan terjemahan oleh Pusat Studi Lampung.
3. Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya. (Kemenag RI).
4. Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

