MIMBAR JUM’AT : Lembutnya Hati dan Hakikat Tawakkal. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Natar – Di antara keindahan ajaran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah petunjuk beliau tentang tawakkal, sebuah ibadah hati yang menghadirkan ketenangan, keyakinan, dan kelembutan jiwa. Dalam sebuah hadits mulia, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

النَّبيّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((يَدْخُلُ الجَنَّةَ أَقْوامٌ أفْئِدَتُهُمْ مِثلُ أفْئِدَةِ الطَّيرِ)). رواه مسلم.

“Akan masuk surga suatu kaum yang hati mereka seperti hati burung.” (HR. Muslim)

Para ulama menjelaskan makna hati yang seperti burung:

Ada yang berkata: mereka adalah orang-orang yang sangat bertawakkal.

Ada pula yang berkata: hati mereka lembut, halus, dan penuh ketenangan.

Hadits ini menjadi pokok agung dalam bab tawakkal. Sebuah sikap bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat. Tawakkal bukanlah kelemahan atau pasrah tanpa usaha, tetapi keyakinan yang hidup, yang menghidupkan langkah dan menguatkan harapan.

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Ketenangan yang Tak Dicuri Waktu. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Said bin Jubair berkata:

“التوكُّل جماع الإيمان”

“Tawakkal adalah inti dari seluruh iman.”

Allah Ta‘ala telah menenangkan hati para hamba dengan jaminan rezeki-Nya:

﴿ وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا ﴾ [هود: 6]

“Dan tidak ada suatu makhluk bergerak di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Ayat ini menjadi cahaya yang menuntun jiwa agar tidak gelisah dalam mencari kecukupan. Allah-lah yang memberi, meski tangan manusia berikhtiar. Karena itu para ulama menegaskan bahwa tawakkal tidak menafikan usaha, sebagaimana burung yang disebut dalam hadits: ia keluar pagi hari dalam keadaan lapar, lalu pulang sore hari dengan perut kenyang.

Baca Juga :  Mimbar Jum'at : Di Bawah Naungan Arsy, Saat Tak Ada Lagi Tempat Berlindung. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Yusuf bin Asbath memberi nasihat yang amat halus maknanya:

“اعمل عمل رجل لا ينجيه إلا عمله، وتوكَّل توكُّل رجل لا يصيبه إلا ما كُتب له.”

“Beramallah seperti orang yang yakin tidak ada yang menyelamatkannya kecuali amalnya, dan bertawakallah seperti orang yang yakin tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya.”

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga menegaskan hakikat rezeki yang telah ditetapkan:

((لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ)).

“Tidak akan mati satu jiwa sampai sempurna rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan indahkanlah cara kalian mencari (rezeki). Ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.” (Hadits Jaber)

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Rahmat Allah dalam berwudhu. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Inilah hakikat tawakkal:

Hati yang lembut seperti burung, tidak digelayuti ketakutan berlebihan.

Langkah yang mantap dalam ikhtiar, tidak meninggalkan sebab tetapi tidak menjadikan sebab sebagai penentu.

Keyakinan yang kokoh, bahwa apa yang ditetapkan Allah pasti datang, dan apa yang tidak ditetapkan tidak akan pernah menyentuh diri.

Maka berbahagialah mereka yang hatinya ringan, bersih, dan yakin kepada Rabb pemilik langit dan bumi. Hati seperti inilah yang menyerupai hati burung yang digembirakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai penghuni surga. (KIS)
____
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini