MUTIARA PAGI : Ketika Kebaikan Menjadi Lautan yang Menenggelamkan Luka. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Natar – Ada sebuah pelajaran yang begitu halus, yang seolah hanya berbicara tentang air, tetapi sejatinya sedang berbicara tentang jiwa manusia.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ

“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak mungkin dipengaruhi kotoran (najis).” (HR. Ad-Dâruquthni)

Bayangkan sebuah bejana kecil yang terkena setetes kotoran, ia langsung berubah rupa, bau, dan rasa.

Tetapi bayangkan sebuah telaga yang luas, atau kolam yang penuh, dilempar apapun ke dalamnya. ia tetap jernih, tetap bening, tetap memantulkan cahaya langit.

Itulah perumpamaan hati seorang hamba yang memenuhi hari-harinya dengan kebaikan.
Kebaikannya banyak, mengalir, tidak putus. Maka begitu ada dosa kecil yang menetes, kesalahan yang lewat, ketergelinciran yang menyentuh, ia tidak segera berubah menjadi buruk.

Hatinya terlalu besar untuk dikotori oleh satu noda.

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Ujian di Balik Keindahan Dunia: Memilih Allah di Atas Hawa Nafsu. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Ia seperti air dua qullah, cukup luas untuk menenggelamkan keburukan, cukup dalam untuk meredam kekhilafan.

Allah Ta’ala telah mengabadikan rahasia ini dalam firman-Nya:

إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan kesalahan-kesalahan.” (QS. Hûd: 114)

Ayat ini tidak sekadar menyuruh kita berbuat baik, tetapi juga menenangkan jiwa yang sering merasa patah, jiwa yang sering merasa tidak layak, jiwa yang merasa sudah terlalu banyak salah.

Allah berkata:
Tambahkan saja kebaikanmu. Biarkan ia menghapus kesalahanmu, sebagaimana cahaya menghapus gelap.

Dan sungguh, manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Ia berjalan dengan membawa rapuh, berlari dengan membawa kekurangan, dan bertahan dengan membawa dosa.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengingatkan:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang banyak salah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Di Mana Pun Allah Menanam, Mekarlah Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *).

Betapa lembutnya ajaran ini. Tidak ada tuntutan untuk menjadi yang paling suci, yang tidak pernah salah, yang selalu benar.

Yang diminta hanya satu, ketika engkau salah, kembalilah.
Ketika engkau jatuh, bangunlah. Ketika engkau gelap, cari cahaya-Nya. Ketika engkau kotori bejanamu, tuanglah kebaikan yang lebih banyak.

Karena kebaikan itu seperti air: ia membersihkan.
ia menenangkan.
ia memulihkan.

Maka jangan biarkan dirimu berhenti berbuat baik. Meski kecil, meski sederhana, meski tidak terlihat.

Sedekah yang disembunyikan, senyum yang menenangkan,
kata yang menyejukkan, istighfar yang terucap lirih, langkah menuju masjid, doa di tengah malam, air mata penyesalan.

Semua itu mengalir, mengisi bejana hatimu, hingga ia menjadi luas seperti dua qullah, bahkan lebih besar dari itu, menjadi seperti lautan yang menenggelamkan semua noda.

Pada akhirnya, Allah tidak meminta kesempurnaan darimu. Ia hanya meminta kebaikanmu mengalir lebih banyak daripada semua salahmu.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Ketika Lidah Manusia Tak Pernah Diam. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Karena pada hari ketika semua manusia berdiri di hadapan-Nya, yang akan menaikkan derajat seseorang
bukanlah bahwa ia tidak pernah jatuh, tetapi bahwa ia selalu membawa kebaikan lebih banyak daripada luka-luka kecil yang pernah ia buat.

Jadikan hidupmu telaga kebaikan. Jika engkau jatuh ke dalamnya, engkau akan tenggelam dalam ampunan. Jika engkau salah, engkau akan tersapu oleh kasih-Nya.

Biarlah kebaikanmu banyak, hingga keburukan tak mampu memengaruhimu,
sebagaimana air dua qullah yang tidak berubah meski disentuh kotoran. (KIS/126).
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini