Pohon Pisang dan Ritual Kewaspadaan di Jalan Raya. Oleh: Edi Sriyanto *)

0

nataragung.id – Sidomulyo – Januari 2026 terus menggulirkan narasinya yang sunyi. Di pertengahan bulan ini, alam tidak lagi menyuguhkan luapan air yang mendinginkan suhu aspal, melainkan sebuah anomali yang lebih puitis sekaligus getir di sepanjang ruas jalan Dusun Kampung Duren, Desa Seloretno.

Tepat di bawah langit yang muram pada Kamis pagi ini, sebuah pemandangan hadir menghentikan arus kesibukan: sebatang pohon pisang berdiri tegak di tengah jalan raya.

Ia tidak sedang tumbuh di tanah yang subur, melainkan “ditanam” oleh keadaan di dalam lubang aspal yang menganga, lengkap dengan bungkusan plastik yang berkibar pelan ditiup angin, seolah sedang melakukan ritual penjagaan di tengah bisingnya deru mesin.

Ini adalah bentuk “komunikasi visual” yang paling jujur dari nurani warga. Pohon pisang itu bukanlah penghalang yang kasar; ia adalah penanda batas antara keselamatan nyawa dan ketidakpastian realitas jalanan.

Baca Juga :  Sinergi Vokasi dan Pesantren, Siswa SMK Mathla’ul Anwar Rawa Selapan Panen Raya Melon Inthanon

Di sini, kearifan lokal sedang bekerja menjadi “rambu moral” bagi setiap pelintas, sebuah peringatan dini yang lahir dari rasa saling menjaga ketika sebuah sistem sedang memerlukan waktu untuk menyentuh luka-luka di permukaan aspal.

Bagi setiap pengendara yang melintas, kehadiran pohon pisang tersebut adalah sebuah “madrasah kewaspadaan”. Di sinilah letak ujian adab yang sesungguhnya.

Jalan yang rusak bukan sekadar hambatan teknis yang menyebalkan, melainkan ruang di mana empati kolektif kita kembali dipertaruhkan.

Saat seorang pengemudi memilih untuk melambatkan lajunya, merunduk hormat pada lubang yang kini menyerupai kolam-kolam kecil, di situlah sebuah “kebijaksanaan publik” sedang dipraktikkan. Kita sedang diajak untuk menanggalkan ego untuk segera sampai, demi memberikan ruang aman bagi sesama pengguna jalan.

Baca Juga :  Wabup Syaiful Buka Latihan Kader Dasar Fatayat NU, Dorong Kader Perempuan Responsif Isu Sosial dan Melek Digital

Di atas aspal yang rapuh ini, adab kita diuji: apakah kita akan melintas sebagai pembawa keselamatan, atau sebagai pemicu kesulitan bagi orang lain?

Kita menyadari bahwa di balik setiap kebijakan publik, ada mata rantai prosedur yang sering kali tidak terlihat oleh mata telanjang. Kita memilih untuk tetap memelihara husnuzan, percaya bahwa di sebuah ruang koordinasi yang tenang, ikhtiar perbaikan mungkin sedang diupayakan untuk menjangkau setiap sudut dusun.

Namun, selama fajar kepastian itu belum menyentuh bumi Seloretno, pohon pisang ini akan tetap berdiri sebagai saksi bisu tentang bagaimana rakyat merawat keselamatannya sendiri dengan cara yang paling sederhana.

Baca Juga :  Menakar Resolusi dan Adab Diawal Tahun. Oleh: Edi Sriyanto *)

Januari 2026 kembali memberi pesan: bahwa kebaikan tidak selalu datang dari narasi yang megah, tapi sering kali bermula dari sebatang pohon pisang di tengah jalan yang lelah. Ia adalah pengingat bahwa di balik kenyamanan mobilitas yang kita dambakan, ada tanggung jawab kolektif untuk tidak mengabaikan titik-titik rapuh di sekitar kita.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar tujuan di ujung cakrawala, hingga lupa pada lubang-lubang di bawah kaki kita yang sedang berteriak meminta perhatian dan sentuhan tangan-tangan yang peduli.
Tabik.

*) Penulis adalah : Aktivis PCNU Kabupaten Lampung Selatan tinggal di Sidomulyo – Lampung Selatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini