Perpanjangan Kerja Sama dengan PT Freeport, Bahlil: Meningkatkan Penerimaan Negara

0

nataragung.id – Jakarta – Perpanjangan dengan PT Freeport Indonesia skema peningkatan kepemilikan saham Indonesia dari 51 persen saat ini dan menjadi 63 persen pada tahun 2041. Perpanjangan ini harus menghasilkan penerimaan negara yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, termasuk melalui optimalisasi royalti, pajak, dan kontribusi kepada pemerintah daerah Papua sebagai wilayah penghasil. Demikian penjelasan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam keterangannya di Washington DC, Amerika Serikat, Jum’at (20/02/2026}.

“Penciptaan lapangan pekerjaan dapat bertambah, yang eksistensi bertahan pendapatan negara juga bertambah, begitu pun royalti PNBB dan pendapatan daerah,” ungkapnya.

Skema perpanjangan kerja sama ini juga dilakukan dengan sejumlah perusahaan internasional yang beroperasi di Indonesia. Ini untuk terus memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional melalui langkah strategis perpanjangan kerja sama, sekaligus meningkatkan porsi kepemilikan dan penerimaan negara.

Baca Juga :  Dr. H. Andi Surya Raih Gelar Magister Hukum dari Universitas Borobudur: Ilmu Tak Pernah Usai untuk Ditimba

“Perpanjangannya dengan maksud agar bisa dilakukan eksplorasi di awal dengan menambah 12 persen saham kepada negara. Jadi dilakukan divestasi 12 persen ini tanpa ada biaya apapun khususnya untuk pengambilalihan 12 persen,” ucap Bahlil.
Setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU dengan Freeport, kata Bahlil, akan melanjutkan pembahasan teknis terkait pemenuhan aspek administrasi oleh pihak Freeport. Dalam proses peningkatan eksplorasi ke depan, kebutuhan pendanaan akan ditanggung bersama sesuai porsi kepemilikan.

Dengan perpanjangan 2041 pendapatan negara harus jauh lebih tinggi ketimbang pendapatan negara sekarang ini. Termasuk dalamnya royalti dan pajak-pajak lain khususnya emas. “Ini biar tidak disalah terjemahkan lain-lain oleh saudara-saudara saya yang ada di Tanah Air,” ujarnya Bahlil.

Baca Juga :  Pemerintah Umumkan Kuota Haji 2025, Jawa Barat Terbanyak

Bahil menjelaskan selama dua tahun terakhir, pemerintah bersama MIND ID dan Freeport-McMoRan telah melakukan komunikasi dan negosiasi intensif. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan usaha pertambangan di Papua, mengingat puncak produksi Freeport diproyeksikan terjadi pada 2035.
“Konsentrat Freeport sekarang memproduksi 1 tahun pada saat belum terjadi musibah, Itu mencapai 3,2 juta ton biji konsentrat daripada tembaga yang menghasilkan kurang lebih sekitar 900 ribu lebih tembaga. dan kurang lebih sekitar 50 sampai 60 ton emas,” ucapnya.

Di sektor migas, pemerintah melanjutkan komunikasi dengan ExxonMobil terkait perpanjangan operasi hingga 2055. Dalam komunikasi ini, direncanakan tambahan investasi sekitar USD 10 miliar untuk menjaga dan meningkatkan produksi (lifting) yang saat ini berada pada kisaran 170–185 ribu barel per hari.

Baca Juga :  Pimpinan Partai Gelora Lampung Apresiasi Kepengurusan Sebelumnya, Siap Lanjutkan Perjuangan

Pemerintah menegaskan, seluruh negosiasi, di sektor tambang dan migas, dilakukan dengan tetap mengacu pada Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yang menempatkan pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. (MMD).

Keterangan foto : Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangannya kepada awak media di Washington D.C., pada Jumat, 20 Februari 2026. Foto: BPMI Setpres/Kris

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini