Cermin Retak: Kekuasaan Ala Kadarnya. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Tak sedikit suara rakyat bertanya tentang para pejabat di negeri ini. Tak hanya soal kebijakan, melainkan juga perkara pernyataan dan tindakan di lapangan. Dari mulai yang tampak serampangan, sampai yang lucu-lucuan.

Tak jarang juga setelah menyampaikan pernyataan, sehari kemudian klarifikasi, dan minta maaf karena sedang khilaf. Sebuah template prosesi di negeri gemah ripah loh jinawi.

“Saya enggak paham apa yang terjadi di kalangan para pejabat itu,” kata Pakde Kliwon sambil tengak-tengok kanan dan kiri. Mendusuk lesu dan mengusap-usap perutnya.

Baca Juga :  Pilkada dan APBD dalam Lingkaran Korupsi Kepala Daerah

“Sebenarnya sederhana perkaranya,” ujar Yuk Nah. Tampaknya ia sudah selesai menyiapkan menu untuk buka puasa di warungnya. Sehingga ia sempat ikut duduk bersama kami. Tidak seperti biasanya, kalau mengobrol disambil masak.

“Sembarangan ngomong sepele. Banyak orang bilang ini sudah kronis” sahut Pakde No.

Yuk Nah menjelaskan model politik di negeri ini disebut dengan mediokrasi. Sebuah model kekuasaan ala kadarnya.

“Wah, perlu dijelaskan ini biar kita paham,” kata Pakde No.

Begini, kata Yuk Nah. Mediokrasi itu model politik yang lebih mengutamakan ketundukan dan kepatuhan dari orang-orang yang menjabat kepada penguasa tertinggi.

Baca Juga :  Lampung Darurat Narkoba. oleh: Bustami HR, S.sos, MM _ Tokoh Masyarakat /Adat Unyi Gunung Sugih, Lampung Tengah

“Kalau di negeri ini, ya orang-orang yang diangkat itu bukan mementingkan kompetensi, tetapi orang yang memiliki kepatuhan,” ungkap Yuk Nah.

Ia juga menjelaskan dalam mediokrasi ini, orang-orang yang dipilih itu memiliki katakutan kehilangan jabatannya. Dengan begitu, ketundukan dan kepatuhan itu akan semakin mendalam.

“Pada posisi seperti inilah bekerja sistem hegemonik,” sela Pakde Kliwon.

Yuk Nah menganggukkan kepala. Lalu dia melanjutkan kuliah umumnya, dengan tiga mahasiswa laki-laki yang sama rentanya. Kalau ini terus berlanjut, yang akan terjadi negara kita sedang menuju pada sistem kekuasaan otoriter, dan pada titik tertentu akan menjadi fasis.

Baca Juga :  Biaya dan Cara Mengurus Pelat Nomor Polisi "Cantik" Kendaraan Bermotor

“Wah, kok bisa jadi begitu?’ kata Pakde No.

“Dengan sikap ketundukan dan ketakutan pejabat, maka penguasa tertinggi menjadi merasa selalu benar,” kata Yuk Nah.

Inilah yang membuat sistem akan menuju ke otoriter, lalu fasis. (*/23)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini