nataragung.id – Yogyakarta – Pakde No tiba-tiba muncul di warung Yuk Nah. Entah angin darat atau angin laut yang menyeret laki-laki gaek dari persembunyiannya.
“Oh, kalian salah sangka,” katanya sigap merespons tuduhan Pakde Kliwon yang dirinya bersembunyi dari hiruk pikuk kehidupan, dan timbul tenggelam kelucuan di negeri ini.
Ia mengaku baru saja melakukan riset mengenai persepsi warga negara mengenai situasi kehidupan masyarakat saat ini. Benarkah mereka diam dalam sebuah kehidupan panjang? Atau malah seperti peribahasa, diam-diam menghanyutkan?
Saya mengiyakan saja omongan Pakde No. Percaya dan tidak percaya sama-sama enggak mendapatkan untung dan enggak juga mendatangkan kerugian.
Namun, saya tertarik dengan risetnya. Katanya menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pengumpulan data survei alar distribusi platform digital.
Survei online itu enggak main-main. Bayangkan, sebagai riset amatiran, Pakde No mampu melibatkan 1.000.001 responden yang mengisi dengan sukarela tanpa iming-iming hadiah. Dan survei itu hanya mengajukan satu pertanyaann, “apa bedanya periset dan penjilat?”
Hasilnya, sama sekali tak mengejutkan, 10% responden menjawab periset orang yang nanya-nanya untuk menjawab pertanyaan yang dibuatnya sendiri, dan penjilat orang memuji-muji penguasa agar mendapatkan keuntungan.
Sedangkan 99% responden menyatakan penjilat itu orang yang kadang melakukan riset dan kadang membangun narasi untuk menyenangkan penguasa, mendukung penguasa.
Dan besoknya tiba-tiba menjadi komisaris BUMN, menjadi utusan khusus presiden, menjadi menteri atau wakil menteri. Bisa juga tiba-tiba diangkat menjadi staf ahli.
“Profil ini yang disebut dengan istilah penjilat berbasis bukti,” ungkap Pakde No
Saya dan Yuk Nah mengangguk bersamaan, meski tanpa komando dari siapapun. (*/34).
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

