Senja dan Kehidupan: Tentang Waktu Yang Tak Bisa di Ulang. Oleh: Mubarok Dzal Furkon *)

0

nataragung.id – Kota Metro – Senja selalu datang tanpa pernah meminta izin. Ia hadir perlahan, mengubah terang menjadi redup, menghadirkan warna jingga yang menenangkan sekaligus menyisakan rasa haru. Bagi sebagian orang, senja hanyalah peristiwa alam biasa. Namun bagi yang mampu merasakannya, senja adalah pengingat—bahwa waktu terus berjalan dan tidak pernah kembali.

Dalam kehidupan, kita sering terjebak dalam kesibukan yang membuat kita lupa akan hal-hal sederhana. Kita terlalu fokus pada apa yang akan datang, hingga lupa menghargai apa yang sedang berlangsung. Senja mengajarkan sesuatu yang penting: setiap momen memiliki batasnya. Seperti matahari yang perlahan tenggelam, waktu pun bergerak tanpa bisa dihentikan, apalagi diulang.

Baca Juga :  Walikota Metro Undang Para Alumni Serta Wali Santri Ponpes Al Falah Ploso Dalam Pengajian Akbar dan HBH di Rumah Dinas

Ada banyak hal dalam hidup yang baru kita sadari nilainya setelah ia pergi. Waktu bersama keluarga, kebersamaan dengan teman, atau kesempatan yang pernah datang namun diabaikan. Senja seolah menjadi simbol dari semua itu—keindahan yang hanya bisa dinikmati sesaat. Jika terlewat, kita hanya bisa mengenangnya tanpa mampu mengulanginya.
Namun, senja tidak hanya tentang kehilangan. Ia juga membawa ketenangan dan refleksi. Dalam keheningannya, kita diajak untuk merenung: sudahkah kita menggunakan waktu dengan baik? Sudahkah kita menghargai orang-orang di sekitar kita? Ataukah kita justru membiarkan waktu berlalu tanpa makna?

Baca Juga :  Sukses Itu Butuh Waktu: Pelajaran Berharga Dari Film "Tunggu Aku Sukses Nanti" Oleh : Shalfa Zahra Amalia Anggraini // Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung

Senja juga mengajarkan tentang penerimaan. Bahwa tidak semua hal bisa kita pertahankan. Ada fase dalam hidup yang harus kita lepaskan, seperti siang yang rela digantikan malam.
Menerima kenyataan bahwa waktu tidak bisa diulang bukanlah hal yang mudah, tetapi dari situlah kita belajar untuk lebih bijak menjalani hari.

Pada akhirnya, kehidupan adalah rangkaian “senja-senja kecil” yang kita alami setiap hari. Setiap keputusan, setiap pertemuan, dan setiap perpisahan adalah bagian dari perjalanan yang tidak bisa diulang. Maka, sebelum “senja” dalam hidup benar-benar tiba, sudah seharusnya kita belajar untuk lebih menghargai waktu. (*)

Baca Juga :  Metro, Lampung — Dalam tiga hari aksi kemanusiaan yang intens, 5–7 Desember 2025, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Metro berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp65.967.400 untuk membantu korban bencana beruntun di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Aksi galang dana yang digelar serentak di sejumlah titik strategis Kota Metro ini melibatkan puluhan kader lintas komisariat. Sejak hari pertama, arus dukungan masyarakat begitu deras—mobil, motor, hingga pejalan kaki tampak berhenti memberikan bantuan. Respon cepat masyarakat inilah yang membuat capaian donasi meningkat tajam. Ketua Umum PC PMII Kota Metro, Sahabat M. Luthfi Rafiuddin. A, menyampaikan apresiasi mendalam atas solidaritas warga. “Alhamdulillah, dalam waktu tiga hari kami berhasil menghimpun lebih dari Rp65,9 juta. Ini bukti nyata bahwa warga Metro memiliki kepedulian tinggi. Kami hanya menjadi perantara, sedangkan kemuliaan sesungguhnya datang dari para dermawan yang tergerak hatinya,” ujarnya. Luthfi menegaskan bahwa PMII tidak hanya berhenti pada pengumpulan dana, tetapi memastikan penyaluran dilakukan secara tepat dan transparan. “Bantuan ini langsung kami salurkan melalui pengurus koordinator cabang PMII Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, serta perwakilan OKP dan Pemerintah Kota Metro yang akan turun ke lokasi. Kami ingin memastikan amanah ini benar-benar sampai kepada korban yang membutuhkan,” tambahnya. Koordinator Lapangan aksi, Sahabat Ervan, mengungkapkan bahwa para kader bekerja tanpa kenal lelah. “Setiap hari kami turun dari pagi sampai sore. Hujan sempat turun, tetapi semangat teman-teman tidak pernah reda. Kami merasa bertanggung jawab untuk berbuat sesuatu bagi saudara-saudara kita yang tengah ditimpa musibah,” ucapnya. Dengan terkumpulnya hampir Rp66 juta, aksi PMII Kota Metro ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tetap memegang peran penting sebagai pelopor solidaritas dan agen sosial di tengah masyarakat. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban para korban dan menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan selalu melampaui batas wilayah. (SN)

*) Penulis Adalah Mahasiswa semester 2 UIN Jurai Siwo Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini