Mutiara Pagi : Kebahagiaan dalam Melepaskan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Seringkali manusia mengira bahwa kebahagiaan terletak pada apa yang ia miliki seperti : harta yang bertambah, jabatan yang tinggi, atau pujian yang terus mengalir. Namun dalam perjalanan hidup, tidak sedikit yang justru menemukan ketenangan saat ia mampu melepaskan, bukan saat ia mendapatkan.

Ada hal-hal yang, ketika digenggam, justru memberatkan jiwa. Ambisi yang berlebihan, cinta dunia yang melampaui batas, atau dosa yang terus dipertahankan, semuanya bisa menjadi penghalang kebahagiaan sejati.

Maka di situlah letak rahasia: kebahagiaan bukan selalu tentang menambah, tetapi terkadang tentang mengurangi, bahkan meninggalkan.

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Dua Pilar Makanan : Halal dan Tidak Berlebih. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)

Ayat ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tertinggi berupa surga, justru diraih dengan meninggalkan hawa nafsu. Menahan diri, melepaskan keinginan yang tidak diridhai Allah, itulah jalan menuju kebahagiaan yang abadi.

Dalam hadits, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya engkau tidak akan meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad)

Hadits ini adalah jaminan ilahi bahwa setiap yang kita lepaskan karena Allah bukanlah kehilangan, melainkan pertukaran menuju sesuatu yang lebih baik, meskipun mata kita belum tentu langsung melihatnya.

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Jangan Tunggu Sempurna, Berani Memulai Dari Yang Ada. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Para ulama dan ahli hikmah pun sering menyinggung makna ini. Seorang filsuf Muslim, Al-Ghazali, pernah mengisyaratkan bahwa kebahagiaan hati tidak terletak pada banyaknya dunia yang dimiliki, tetapi pada kebersihan hati dari keterikatan terhadapnya. Hati yang terlalu penuh dengan dunia justru sempit, sedangkan hati yang ringan dari beban dunia akan lapang dan tenang.

Bahkan seorang filsuf Yunani seperti Epictetus berkata: “Kekayaan bukanlah memiliki banyak, tetapi sedikit keinginan.”
Sebuah kalimat yang sejalan dengan ajaran Islam, bahwa kebahagiaan lahir dari kemampuan mengendalikan dan, jika perlu, meninggalkan keinginan.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Ketika Kebaikan Menjadi Lautan yang Menenggelamkan Luka. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Maka coba kita renungkan.
Bisa jadi yang selama ini kita kejar justru menjauhkan kita dari ketenangan.
Dan bisa jadi yang kita lepaskan dengan ikhlas, justru mendekatkan kita pada kebahagiaan.

Karena pada akhirnya, bukan semua yang didapatkan itu menenangkan, dan bukan semua yang ditinggalkan itu menyedihkan. Ada kehilangan yang justru menyelamatkan, dan ada pelepasan yang justru membahagiakan. (KIS/240).
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini