Mutiara Pagi : Ketika Para Birokrat Memilih Iman: Kisah Ashabul Kahfi. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Dikisahkan bahwa para pemuda Ashabul Kahfi bukanlah orang-orang biasa. Mereka hidup di lingkungan kekuasaan, sebagian riwayat menyebutkan bahwa mereka adalah para pejabat atau birokrat yang bekerja di istana raja. Mereka terbiasa dengan kemewahan, kedudukan, dan kenyamanan hidup. Namun di tengah gemerlap dunia itu, hati mereka gelisah—sebab mereka menyaksikan kekuasaan yang menyimpang dari tauhid, memaksa manusia untuk menyembah selain Allah.

Di saat itulah iman berbicara lebih lantang daripada jabatan. Mereka sadar, mempertahankan posisi berarti menggadaikan keyakinan. Maka mereka memilih jalan yang berat: meninggalkan istana, kekuasaan, dan segala fasilitas dunia demi menyelamatkan aqidah.

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Meneguhkan Hati dengan Janji Akhirat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Allah mengabadikan keputusan besar itu dalam firman-Nya:

﴿وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا﴾

“Dan ketika kamu menjauh dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah kamu ke dalam gua; niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.” (QS. Al-Kahfi: 16)

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Di Mana Pun Allah Menanam, Mekarlah Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *).

Keputusan mereka tampak seperti kemunduran dalam pandangan dunia: meninggalkan karier, harta, dan masa depan. Namun dalam pandangan Allah, itulah puncak kemuliaan. Mereka kehilangan istana, tetapi mendapatkan penjagaan langsung dari Rabb semesta alam. Mereka meninggalkan kenyamanan sesaat, tetapi Allah menggantinya dengan ketenangan iman dan keabadian kisah yang terus hidup hingga hari ini.

Kisah ini mengajarkan bahwa jabatan bukanlah segalanya. Ketika iman terancam, maka mundur demi menjaga agama bukanlah kelemahan, melainkan keberanian yang sejati. Sebab kemuliaan sejati bukan terletak pada kedudukan di hadapan manusia, tetapi pada posisi kita di sisi Allah. (241)
WaAllahu A’lam

Baca Juga :  Ramadhan Mubarak (30) : Perpisahan dengan Ramadhan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

[KIS]
#Shobahul_khair
#Mutiara_pagi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini