Mimbar Jum’at : Jalan Menuju Ampunan dari Jum’at ke Jum’at. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Hari Jum’at bukan sekadar hari berkumpulnya kaum muslimin di masjid, tetapi ia adalah hari agung yang dipenuhi rahmat, keberkahan, dan kesempatan besar untuk mendapatkan ampunan Allah Subḥanahu wata’ala.

Namun ampunan itu bukan diberikan tanpa usaha. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan adab-adab mulia yang menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa antara satu Jum’at dengan Jum’at berikutnya.

” Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
(( لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الْإِمَامُ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى ))

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, lalu bersuci semampunya, memakai minyak rambut atau memakai minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar menuju masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu ia mengerjakan shalat yang ditetapkan baginya, kemudian diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu dengan Jum’at berikutnya.” HR. imam al-Bukhari no. 883

Baca Juga :  Ramadhan dan I'tikaf Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Hadits ini menunjukkan bahwa besarnya pahala Jum’at berkaitan erat dengan adab dan kesungguhan seorang hamba dalam memuliakan hari tersebut. Islam mengajarkan bahwa persiapan menuju Jum’at dimulai bahkan sebelum kaki melangkah ke masjid. Mandi, membersihkan diri, memakai pakaian terbaik, dan mengenakan wewangian adalah bentuk penghormatan terhadap syiar Allah.

Kemudian saat menuju masjid, seorang muslim diperintahkan berjalan dengan tenang, tidak melangkahi pundak jamaah, tidak mengganggu orang lain, dan tidak memisahkan dua orang yang sedang duduk.

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Masuk ke Neraka Itu Mahal dan Susah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Lc

Semua itu menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam bukan hanya hubungan dengan Allah, tetapi juga menjaga adab terhadap sesama manusia.

Setelah itu ia memperbanyak shalat sunnah dan mendengarkan khutbah dengan penuh perhatian. Sebab sering kali seseorang hadir secara jasad di masjid, tetapi hatinya sibuk ke mana-mana.

Padahal Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menegaskan bahwa diam dan menyimak khutbah merupakan bagian dari sebab turunnya ampunan.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa penghapusan dosa dari Jum’at ke Jum’at itu disyaratkan dengan terkumpulnya adab-adab yang disebutkan dalam hadits:
– Mandi Jum’at.
– Membersihkan diri.
– Memakai minyak wangi atau minyak rambut.
– Mengenakan pakaian terbaik.
– Berjalan dengan tenang.
– Tidak melangkahi pundak jamaah dan tidak memisahkan dua orang.
– Tidak mengganggu orang lain.
– Memperbanyak shalat sunnah.
– Mendengarkan khutbah dengan seksama.
– Meninggalkan perkataan sia-sia.

Baca Juga :  Mimbar Jum'at : Tiga Perniagaan Yang Tak Pernah Merugi. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

(Fath al-Bari (2/372)

Betapa indah ajaran Islam. Setiap pekan Allah membuka pintu pengampunan bagi hamba-hamba-Nya melalui ibadah Jum’at. Maka jangan jadikan Jum’at sekadar rutinitas mingguan, tetapi jadikan ia momentum penyucian hati, penghapus dosa, dan pengingat perjalanan menuju akhirat.

Sebab boleh jadi satu Jum’at yang kita muliakan dengan benar menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di sisi-Nya. []

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

#KIS
#SHOBAHUL_KHAIR
#MIMBAR_JUMAT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini