Cermin Retak: Kepanikan yang Menggelikan. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Dari warung kopi Yuk Nah, perempatan jalan desa Bluwangan, berhamburan aroma kopi tubruk, dan sungguh nenggoyahkan iman. Belum lagi pisang goreng kepok kuning yang kinyis-kinyis mandi minyak membuat jakun naik turun

Namun, ada yang bikin lebih menyengat, aroma kepanikan dari informasi yang berseliweran di beranda media sosial.

Tak dinyana, negeri ini telah mencapai titik kemajuan luar biasa: utang luar negeri melonjak tinggi, harga kebutuhan pokok meroket, dan tentu saja korupsi yang seakan sudah menjadi impian semua pemegang kekuasaan.

Selain itu, petugas keamanan sibuk mengamankan negara dari ancaman paling mematikan abad ini: tinta dan kamera. Sambil mengurusi dapur dan mengolah lahan pertanian.

Dan kesibukan akhir-akhir ini, keamanan kembali melakukan pelarangan diskusi dan pemutaran film.

Sebagai pengamat amatir yang modalnya cuma secangkir kopi setengah harga dan tanpa gula, saya tersenyum kecut membaca informasi tentang larangan diskusi dan pembayaran film. Diskusi buku Reset Indonesia dibubarkan, dan pemutaran film Pesta Babi dilarang.

Betapa rapuhnya mental bangsa ini, sampai-sampai deretan kata dan gambar dianggap lebih berbahaya ketimbang politisi yang lupa janji kampanye, hakim dan jaksa yang menerima pesanan perkara.

Baca Juga :  Ribuan Suku Bangsa Yang Ada di Indonesia

“Negara ini kok gampang banget kena asam lambung,” gerutu Pakde No.

“Mau diskusi buku, eh aparat langsung membubarkan. Memangnya negara ini telepon genggam, takut aplikasi hilang,” lanjut Pakde No.

Saya tak bisa menahan tawa. Pakde No mewakili orang-orang dengan kewarasan nalar, yang saat ini terasa mulai langka.

“Pemerintah sepertiinya sedang rajin cosplay jadi tukang servis hp, Pakde,” sahut saya, memprovokasi pemikiran Pakde No.

“Mereka sangat anti pada tombol reset. Jangankan di-reset, dikasih tombol pause sebentar buat mikir saja mereka sudah ketakutan. Mereka lebih suka negara ini berjalan di atas sistem operasi dengan bug di sana-sini, yang penting rakyat diam semua.”

Yuk Nah, yang sedari tadi sibuk mengulek sambal terasi, tidak tahan ikut campur. Baginya, urusan politik sering kali tidak lebih masuk akal dibanding naik turunnya harga cabai rawit.

“Lebih lucu lagi urusan film Pesta Babi itu,” celetuk Yuk Nah, sambil menyeka keringat di dahinya dengan ujung jilbabnya.

“Pemerintah alergi babi beneran atau alergi sindiran? Di pasar, daging babi harganya jelas. Tapi di layar tancap, babi malah jadi ancaman keamanan nasional,” lanjut Yuk Nah.

Baca Juga :  Kok Bisa? Konsumsi Madu Murni Dapet Bonus Umrah?

Padahal ya, Pakde, kata Yuk Nah, yang suka makan hak rakyat sampai perutnya buncit kan ya….?

“Ah, sudahlah, nanti warungku disegel satpol PP.”

“Itu namanya pergeseran makna, Yuk,” balasku.

“Babi di film itu kan fiksi, tapi ketakutan yang menontonnya nyata. Mereka melarang Pesta Babi di layar, mungkin supaya rakyat tidak sadar, pesta yang sesungguhnya,” sambung Pakde Kliwon.

Pesta yang sebenarnya, sedang tayang secara live setiap saat di gedung-gedung ber-AC, lengkap dengan anggaran makan siang yang fantastis.

Dari pojok warung, Pakde Kliwon yang sejak tadi hanya diam mengelus burung perkutut, angkat bicara. Kalau sudah Pakde Kliwon yang bersuara, pasti disertai dengan ajaran Jawa yang siap memporak-porandakan kebodohan zaman.

“Ngono iku jenenge wedi karo wewayangane dewe, takut dengan bayangannya sendiri,” ucap Pakde Kliwon tenang, menyeruput kopi hitamnya yang mulai dingin.

Menurut Pakde Kliwon, mereka bukan takut pada tumpukan buku, juga gambar babi di layarnya. Mereka itu takut pada cermin. Cermin dirinya sendiri.

Pakde Kliwon menatap kami bergantian, lalu melanjutkan, “Kalau rakyat baca buku, rakyat akan cerdas. Kalau menonton film yang kritis, akan membangun kesadaran. Kalau rakyat cerdas dan sadar, bah yang sesungguhnya bagi yang asyik dengan kursi empuk.”

Baca Juga :  Membangun Indonesia Melalui Perlindungan Pekerja yang Inklusif dan Berkelanjutan

Saya menyeruput kopi sebagai tanda setuju. Cerita kehidupan ini tertulis jelas di warung Yuk Nah. Kita hidup pada era komedi gelap. Padahal pelarangan diskusi dan pemutaran film tidak membuktikan negara ini kuat. Sebaliknya, justru membuktikan besarnya ketakutan para penguasa.

“Sudah, sudah, jangan terlalu serius mikir negara,” ujar Yuk Nah sambil meletakkan sepiring tempe mendoan hangat di meja. Tidak lupa uborampe cabai rawit yang sebentar lagi harganya akan melangit.

“Negara di-reset atau babi mau pesta, yang penting utang gorengan kalian di buku catatanku jangan sampai ikut ke-reset!” lanjut Yuk Nah.

Kami semua tertawa dalam kuasa rezim yang gemar melarang gagasan. Bersyukur, setidaknya kebebasan menertawakan mereka dan menertawakan diri sendiri masih belum dikenakan pajak. Belum. Mungkin belum.

Tertawalah sebelum sebentar lagi mungkin akan dilarang. Ah, saya jadi rindu dengan komedi gaya Dono-Kasino-Indro. (*/39)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini