Musik Bertabrakan di Pantai: Kajian Psikologi tentang Pengunaan Lokasi Wisata Pantai

0

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

nataragung.id – Metro – Musim liburan selalu menghadirkan suasana meriah di berbagai destinasi wisata pantai. Keluarga berkumpul, komunitas menggelar piknik, anak-anak bermain pasir, sementara suara deburan ombak menjadi latar alami yang menenangkan. Namun, beberapa tahun terakhir muncul fenomena yang semakin sering dijumpai, yaitu banyaknya pengunjung yang memutar musik menggunakan speaker portabel dengan volume tinggi secara bersamaan.

Akibatnya, suara alam yang seharusnya menjadi daya tarik utama justru tenggelam oleh “perang speaker” dari berbagai arah. Fenomena ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan dinamika psikologis yang menarik. Benturan musik bukan sekadar persoalan selera hiburan, melainkan juga berkaitan dengan persepsi ruang publik, regulasi emosi, empati sosial, hingga kesehatan mental wisatawan.

Dominasi Kelompok Wisatawan Menjadi Bentuk Kezaliman Sosial.

Menurut psikologi sosial, menguasai ruang bersama bukan hanya dapat dilakukan secara fisik, tetapi juga melalui dominasi suara. Pantai merupakan ruang publik yang hakikatnya dimiliki bersama oleh seluruh pengunjung. Ketika sekelompok wisatawan memutar musik dengan volume sangat keras hingga menguasai kawasan di sekitarnya, mereka pada dasarnya sedang mengambil hak orang lain untuk menikmati suasana alam. Dalam pengertian yang lebih luas, tindakan ini dapat dipandang sebagai bentuk kezaliman sosial (social injustice), yaitu menggunakan kebebasan pribadi dengan cara yang mengurangi kebebasan orang lain. Fenomena tersebut sering kali didorong oleh kebutuhan psikologis untuk memperoleh pengakuan (need for recognition). Ada kecenderungan sebagian orang merasa lebih percaya diri ketika menjadi pusat perhatian. Speaker berukuran besar, musik yang paling keras, atau lagu yang paling mencolok dijadikan simbol eksistensi kelompok. Mereka seolah ingin menunjukkan bahwa kelompoknya adalah yang paling keren, paling meriah, paling “cetar membahana”, atau memiliki distingsi yang berbeda dibanding rombongan lain. Dalam psikologi, perilaku seperti ini berkaitan dengan impression management sebagaimana dijelaskan oleh Erving Goffman (1959), yaitu usaha individu atau kelompok mengelola kesan agar memperoleh perhatian, pengakuan, dan status sosial di hadapan orang lain.

Pencarian Perhatian yang Semu.

Pencarian perhatian yang mengorbankan kenyamanan publik justru memperlihatkan sisi psikologis yang berbeda dan bermakna semu dan minim empati dan simpati kepada wisatawan lain. Alih-alih menunjukkan kepercayaan diri yang sehat, perilaku tersebut dapat mencerminkan rendahnya empati, yaitu ketidakmampuan memahami bahwa setiap orang datang ke pantai dengan tujuan yang berbeda. Ada keluarga yang ingin bercengkerama, ada pasangan yang ingin menikmati suasana romantis, ada lansia yang ingin mendengar deburan ombak, ada anak-anak yang sedang beristirahat, bahkan ada orang yang datang untuk menenangkan pikiran setelah menghadapi tekanan hidup.

Baca Juga :  Senjata Alam Penakluk Penyakit itu Bernama "CABE JAWA" - MAJALAH NATAR AGUNG

Pengabaian Kebutuhan Psikologis Orang Lain.

Ketika seluruh ruang suara didominasi oleh satu kelompok, kebutuhan psikologis orang lain menjadi terabaikan. Ironisnya, pantai sesungguhnya telah menyediakan “orkestra alam” yang tidak mampu ditiru oleh teknologi manusia. Allah Swt. telah menghadirkan deburan ombak, semilir angin, kicauan burung, dan gemerisik pepohonan sebagai suara-suara alami yang secara ilmiah terbukti mampu menurunkan stres, menenangkan sistem saraf, dan memulihkan kelelahan mental. Menggantikan seluruh harmoni alam tersebut dengan kebisingan buatan manusia bukanlah tanda kemajuan, melainkan hilangnya sensitivitas terhadap nikmat yang telah Allah anugerahkan. Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak hanya menjauhi kezaliman dalam bentuk harta atau kekuasaan, tetapi juga menghindari segala bentuk tindakan yang merugikan orang lain. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu berbuat zalim kepada sebagian yang lain” (QS. (Al-Baqarah: 279). Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain” (HR. Sunan Ibnu Majah). Nilai ini mengajarkan bahwa menikmati liburan tidak boleh dilakukan dengan menghilangkan hak orang lain untuk menikmati ketenangan yang sama.

Pantai sebagai Ruang Restorasi Psikologis.

Dalam teori “Attention Restoration Theory” (Kaplan & Kaplan, 1989) dijelaskan bahwa lingkungan alami memiliki kemampuan memulihkan kelelahan mental (mental fatigue). Alam menyediakan pengalaman soft fascination, yaitu perhatian yang mengalir secara alami tanpa memaksa otak bekerja keras. Suara ombak merupakan salah satu bentuk natural soundscape yang mampu menurunkan hormon stres (kortisol), memperlambat denyut jantung, meningkatkan relaksasi, memperbaiki suasana hati, dan membantu proses mindfulness. Karena itu, banyak orang memilih pantai bukan hanya untuk berlibur, tetapi juga sebagai tempat “mengisi ulang” kondisi psikologis setelah menghadapi tekanan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari. Ketika suara ombak tertutup oleh berbagai musik dengan genre berbeda, fungsi restoratif alam tersebut menjadi berkurang.

Baca Juga :  CERMIN RETAK : Musyawarah Aktivis Gaek. Oleh : Mukhotib MD *)

Empati Menentukan Kenyamanan Bersama.

Psikolog Daniel Goleman (1995) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional mencakup kemampuan memahami kebutuhan orang lain. Dalam konteks wisata pantai, empati berarti menyadari bahwa ada keluarga yang ingin berbincang santai, ada lansia yang menikmati suara alam, ada pasangan yang ingin suasana romantis, ada anak kecil yang tidur, dan ada wisatawan yang sekadar ingin mendengar deburan ombak. Musik pribadi yang diputar terlalu keras dapat menghilangkan hak orang lain menikmati lingkungan secara alami. Inilah pentingnya public awareness, yaitu kesadaran bahwa ruang publik dimiliki bersama.

Psikologi “Soundscape”

Penelitian mengenai “soundscape psychology” menunjukkan bahwa suara alam memiliki pengaruh emosional berbeda dibanding suara buatan manusia. Suara ombak termasuk kategori biophilic sound, yaitu suara yang sejak lama diasosiasikan manusia dengan rasa aman dan ketenangan. Sebaliknya, musik dengan tempo tinggi dan volume besar cenderung meningkatkan aktivasi fisiologis, kewaspadaan, denyut jantung, dan stimulasi otak. Tidak semua orang datang ke pantai untuk meningkatkan energi; banyak pula yang mencari ketenangan. Karena itu, benturan berbagai musik dapat mengurangi manfaat psikologis yang seharusnya diperoleh dari lingkungan pantai.

Solusi Psikologis yang Lebih Bijak.

Daripada saling meninggikan volume, terdapat beberapa pendekatan yang lebih ramah secara psikologis.Gunakan Headphone atau TWS. Teknologi memungkinkan seseorang menikmati musik favorit tanpa mengganggu wisatawan lain. Secara psikologis, ini menciptakan pengalaman yang lebih personal sekaligus menjaga ketenangan ruang public. Satu Speaker untuk Satu Kelompok. Jika berada dalam rombongan besar, cukup gunakan satu speaker dengan volume sedang. Hal ini mengurangi kompetisi suara sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam kelompok. Pilih Musik yang Menyatu dengan Alam. Musik instrumental, akustik, reggae ringan, lo-fi, atau folk lebih mudah berpadu dengan suara ombak dibanding musik bertempo sangat cepat. Tujuannya bukan mengalahkan alam, tetapi melengkapinya. Cari Area yang Lebih Privat. Sedikit berjalan menjauh dari pusat keramaian sering kali memberikan pengalaman wisata yang jauh lebih tenang dan nyaman, dan Bangun Kesepakatan Sosial. Jika beberapa kelompok berada berdekatan, komunikasi sederhana mengenai volume atau jadwal penggunaan speaker dapat mencegah konflik. Norma sosial seperti ini mencerminkan kedewasaan dalam berbagi ruang publik.

Baca Juga :  Kemerdekaan Republik Indonesia dan Makna Merdeka dalam Rumah Tangga

Islam Mengajarkan untuk Saling Menjaga Kenyamanan.

Islam mengajarkan agar setiap Muslim menjaga kenyamanan orang lain. Allah SWT berfirman: “…dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…” (QS. Al-Furqan: 63). Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim). Makna “gangguan” tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga perilaku yang mengurangi kenyamanan orang lain di ruang bersama. Menjaga ketenangan, menghormati hak sesama menikmati alam, dan tidak memaksakan preferensi pribadi merupakan bagian dari akhlak sosial yang diajarkan Islam.

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa fenomena musik yang saling bertabrakan di pantai menunjukkan bahwa kenyamanan wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga oleh kedewasaan psikologis para pengunjung. Lingkungan, ruang publik akan terasa nyaman ketika setiap individu mampu menyeimbangkan kebutuhan pribadi dengan kepentingan bersama. Empati, pengendalian diri, dan kesadaran bahwa pantai adalah milik semua orang menjadi kunci terciptanya suasana rekreasi yang sehat. Suara deburan ombak merupakan “musik alami” yang telah disediakan Tuhan untuk menenangkan jiwa. Ketika manusia mampu menghargainya tanpa saling mendominasi ruang suara, pantai akan kembali menjadi tempat pemulihan mental, penguat hubungan sosial, sekaligus sarana mensyukuri keindahan ciptaan-Nya. Ukuran wisata yang berkelas bukanlah siapa yang memiliki speaker paling besar atau playlist paling keras, melainkan siapa yang mampu berbagi ruang dengan penuh adab. Kedewasaan seseorang tidak diukur dari seberapa jauh suaranya terdengar, tetapi dari seberapa besar kepeduliannya terhadap kenyamanan sesama. Sebab, pantai bukan panggung untuk mencari sorotan, melainkan ruang bersama untuk mensyukuri keindahan ciptaan Allah dan menghadirkan ketenangan bagi setiap insan yang datang menikmatinya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini