nataragung.id – Lampung Selatan – Pondok Pesantren Salafi As-Syafi’iyah Darun Najah yang berlokasi di Dusun 006 RT 01, Desa Sumber Sari, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, sukses menggelar Haflatul Imtihan dan Tasyakuran Akhirussanah Tahun Pelajaran 1447–1448 H / 2025–2026 M pada Senin (6/7/2026).
Acara religius yang menandai pungkasan tahun ajaran para santri tersebut berlangsung khidmat. Momentum ini dihadiri oleh ratusan jemaah, wali santri, tokoh agama, masyarakat sekecamatan Sragi, serta sinergi utuh antara unsur pemerintah dan struktur Nahdlatul Ulama (NU).

Dari unsur pemerintahan, hadir Camat Sragi Wayan Susana bersama Penjabat (Pj) Kepala Desa Sumber Sari Holidin. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata dukungan umara terhadap eksistensi pesantren dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan berkarakter.
Nuansa kultural pesantren berpadu kuat dengan kehadiran jajaran struktural NU. Tampak hadir Ketua MWCNU Sragi Kyai Sumari selaku tuan rumah struktural, Sekretaris MWCNU Sragi, serta Ketua MWCNU Ketapang KH. Ahmad Mukhlisin.

Tak hanya di jajaran syuriyah dan tanfidziyah, kekompakan juga ditunjukkan oleh akar rumput organisasi dengan hadirnya seluruh Ketua Ranting NU, Gerakan Pemuda (GP) Ansor, dan Banser se-Kecamatan Sragi. Pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas selama kegiatan dikomandoi langsung oleh Sahabat-sahabat PAC GP Ansor Sragi bersama Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Banser, sehingga seluruh rangkaian acara berlangsung aman, tertib, dan kondusif.
Pada kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren As-Syafi’iyah Darunnajah, K. Imam Mufid, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan.
“Kami menghaturkan terima kasih yang mendalam kepada seluruh jajaran pemerintah, para kyai, serta jemaah sekalian. Kami juga memohon doa restu agar keluarga besar Pondok Pesantren As-Syafi’iyah Darunnajah senantiasa diberikan kesehatan, keistiqamahan, dan keberkahan dalam mengasuh serta membimbing para santri ke depan,” tutur K. Imam.
Rangkaian acara semakin bermakna dengan mauidzah hasanah yang disampaikan oleh Kyai Abdul Aziz At-Tarmasi, Pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jati Agung, Lampung Selatan.

Dalam ceramahnya, Kyai Aziz mengajak umat Islam untuk memahami makna “Salaf” secara utuh berdasarkan sejarah perkembangan keilmuan Islam. Menurut beliau, para ulama yang hidup pada tiga abad pertama Hijriah merupakan generasi Salafus Shalih yang telah mewariskan fondasi keilmuan Islam kepada umat hingga saat ini.
Beliau menjelaskan bahwa berbagai disiplin ilmu yang dipelajari di pesantren, seperti ilmu tajwid, fikih, hadis, dan berbagai cabang ilmu syariat lainnya, merupakan hasil ijtihad serta karya para ulama Salaf, di antaranya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, hingga Imam Al-Bukhari. Karena itu, tradisi mengaji kitab-kitab karya para imam tersebut merupakan bagian dari menjaga kesinambungan (ittishal) sanad keilmuan Islam.
Kyai Aziz menegaskan bahwa mengikuti manhaj Salaf bukan sekadar persoalan penyematan nama atau label, melainkan diwujudkan dengan mempelajari, memahami, dan mengamalkan warisan keilmuan para ulama Salafus Shalih yang telah menjadi rujukan umat Islam sepanjang masa.
Selain itu, beliau juga mengajak umat Islam untuk menghidupkan syiar Islam dengan membiasakan penggunaan kalender Hijriah sebagai acuan utama dalam penulisan tanggal pada berbagai peringatan hari besar Islam, seperti Tahun Baru Hijriah, Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mikraj, Nisfu Syaban, Nuzulul Quran, Idulfitri, dan Iduladha. Sementara itu, untuk peringatan hari-hari besar nasional, penanggalan Masehi tetap menjadi acuan utama dengan mencantumkan padanan tanggal Hijriahnya.
Pesan-pesan yang disampaikan Kyai Aziz diharapkan semakin memperkuat kecintaan masyarakat terhadap tradisi keilmuan pesantren, menjaga warisan ulama Salafus Shalih, serta mengokohkan pengamalan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dalam kehidupan bermasyarakat.
Haflatul Imtihan ini menjadi momentum penting bagi Pondok Pesantren Salafi As-Syafi’iyah Darun Najah untuk meneguhkan komitmennya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak santri yang unggul dalam ilmu agama, tetapi juga membentuk generasi yang mutafaqqih fiddin, mencintai para ulama, serta mampu melestarikan tradisi keilmuan Islam dari generasi ke generasi. (edi’s)

