nataragung.id, Bandar Lampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pentingnya menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada petani agar mereka tidak lagi hanya menjadi pihak yang paling besar menanggung risiko dalam sektor pertanian, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih adil dari hasil produksinya.
Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Bimbingan Teknis Penyuluh Pertanian Pendamping Kegiatan Pupuk Hayati Cair Program Desaku Maju yang digelar Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Lampung, Selasa (7/7/2026).
Menurut Mirza, selama ini petani menghadapi berbagai tantangan mulai dari cuaca yang tidak menentu, serangan hama, hingga fluktuasi harga hasil panen. Namun, keuntungan terbesar justru lebih banyak dinikmati pelaku usaha di tingkat atas.
“Petani menjadi pihak yang paling besar menanggung risiko, sementara keuntungan lebih banyak dinikmati di tingkat atas. Kondisi seperti ini sudah berlangsung cukup lama,” ujar Mirza.
Ia menjelaskan, perusahaan besar memiliki akses terhadap modal, sumber daya manusia, dan kemampuan bertahan ketika mengalami kerugian. Sebaliknya, petani masih harus berjuang sendiri menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong kebijakan yang mampu meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sehingga kesejahteraan petani dapat meningkat secara nyata.
Mirza mengungkapkan, upaya tersebut telah mulai diuji sejak 2019 melalui pengembangan pertanian di lahan sekitar 600 hektare. Program itu berhasil meningkatkan produktivitas padi hingga mencapai sekitar 11 ton per hektare.
Ia juga menilai arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto semakin memberikan perhatian terhadap sektor primer, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.
Menurutnya, sektor pertanian memiliki peran strategis bagi Lampung. Sekitar 30 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi berasal dari sektor primer, sementara hampir 70 persen masyarakat menggantungkan penghidupan pada sektor tersebut.
Mirza mengatakan, keberpihakan kepada petani juga harus diwujudkan melalui kebijakan harga yang menguntungkan. Kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah, kata dia, terbukti meningkatkan pendapatan petani tanpa menyebabkan lonjakan harga beras yang signifikan di tingkat konsumen.
Ia menambahkan, meningkatnya pendapatan petani turut berkontribusi terhadap percepatan penurunan angka kemiskinan di Lampung sepanjang 2025.
“Bagi saya, keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya soal tingginya produksi, tetapi bagaimana petani menjadi lebih sejahtera. Jika petani sejahtera, pendidikan anak-anak di desa juga akan semakin baik dan kualitas sumber daya manusia ikut meningkat,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Kementerian Pertanian RI, Eko Nugroho Dharmo Putro, mengatakan penyuluh pertanian memiliki peran penting sebagai ujung tombak pembangunan pertanian nasional dan penggerak swasembada pangan.
Menurut Eko, penyuluh tidak lagi hanya bertugas menyampaikan teknologi kepada petani, tetapi juga menjadi pendamping, fasilitator, motivator, sekaligus agen perubahan di tingkat lapangan.
“Keberhasilan pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh peran aktif penyuluh dalam mendampingi petani. Mereka harus mampu menghadirkan inovasi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kelembagaan petani,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh penyuluh untuk terus meningkatkan kompetensi, menguasai teknologi digital, serta mengawal berbagai program prioritas Kementerian Pertanian, mulai dari peningkatan produksi pangan, penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, pemupukan berimbang, hingga pemanfaatan pupuk hayati dan teknologi ramah lingkungan.
Selain itu, Eko mendorong penyuluh membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan media massa agar inovasi pertanian dapat diterapkan lebih cepat di lapangan.
Menurutnya, penyuluh yang profesional, berintegritas, dan inovatif akan menjadi kunci lahirnya petani yang mandiri, produktif, serta berdaya saing dalam mewujudkan pertanian modern dan swasembada pangan nasional.

