Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id – Metro – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 pada 23 Juli 2026 mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Tema ini bukan sekadar slogan tahunan, melainkan ajakan untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh kasih sayang, perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan, serta kesempatan berkembang secara optimal melalui pendidikan, kesehatan, gizi, dan lingkungan yang mendukung. Di tengah pembahasan mengenai hak anak, perhatian masyarakat sering tertuju pada isu pendidikan formal, gizi, atau perlindungan dari kekerasan. Padahal terdapat satu media pendidikan yang sangat dekat dengan kehidupan anak, murah, menyenangkan, tetapi sering terlupakan, yaitu lagu anak. Lagu bukan hanya hiburan pengantar tidur atau pengisi waktu luang.
Menurut perspektif psikologi terapan, lagu merupakan media yang membentuk cara berpikir, mengelola emosi, mengembangkan bahasa, bahkan menanamkan karakter sejak usia dini. Di era digital, anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi berbagai konten audio-visual. Mereka lebih mudah menghafal lagu yang viral dibandingkan nasihat panjang dari orang tua maupun guru. Kondisi ini menunjukkan bahwa lagu memiliki kekuatan psikologis yang luar biasa dalam membentuk kepribadian anak. Karena itu, momentum Hari Anak Nasional menjadi saat yang tepat untuk meninjau kembali kualitas lagu-lagu yang dikonsumsi anak-anak Indonesia.
Lagu Sarana Pembentukan Karakter Anak.
Psikolog perkembangan Jean Piaget (1952) menjelaskan bahwa anak belajar melalui pengalaman konkret yang dilakukan secara berulang. Lagu menghadirkan pengalaman tersebut melalui perpaduan irama, kata-kata, gerakan, dan ekspresi yang mudah diserap oleh otak anak. Pandangan tersebut diperkuat oleh Lev Vygotsky (1978) yang menegaskan bahwa perkembangan kognitif berlangsung melalui interaksi sosial. Ketika anak bernyanyi bersama guru, orang tua, atau teman-temannya, sesungguhnya mereka sedang belajar berkomunikasi, bekerja sama, memahami aturan, serta mengenali nilai-nilai sosial.
Sementara itu, Howard Gardner (1983) melalui teori “Multiple Intelligences” menempatkan kecerdasan musikal sebagai salah satu kecerdasan dasar manusia. Anak yang memperoleh stimulasi musik yang baik cenderung memiliki perkembangan bahasa yang lebih baik, kemampuan mengingat yang lebih kuat, kreativitas yang lebih tinggi, serta regulasi emosi yang lebih matang. Dengan demikian, lagu anak merupakan media pendidikan karakter yang bekerja secara alami. Anak belajar tanpa merasa sedang diajar. Mereka menyerap nilai melalui pengulangan lirik, irama, dan keteladanan penyanyinya.
Fenomena Lagu Anak Viral Tahun 2026.
Setelah beberapa tahun ruang digital didominasi lagu-lagu dewasa yang justru dinyanyikan oleh anak-anak, tahun 2026 menghadirkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Lagu-lagu edukatif seperti “Iyus Jenius” karya Papa T. Bob, animasi Dang Ding Dung, Baby Pop, hingga berbagai kompilasi lagu anak kembali memperoleh perhatian masyarakat. Hal Ini menjadi angin segar yang masih memerlukan penyempurnaan bagi perkembangan lagu-lagu anak Indonesia yang bersifat mendidik, bukan hanya sekedar hiburan semata.
Fenomena ini menunjukkan bahwa industri kreatif mulai menyadari pentingnya menyediakan konten yang sesuai dengan dunia anak. Sebagian besar lagu tersebut mengangkat tema semangat belajar, persahabatan, kebersihan, sopan santun, dan keceriaan yang memang dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang anak. Menurut perspektif psikologi pendidikan, kehadiran lagu-lagu tersebut merupakan langkah positif. Pesan mengenai rajin belajar, percaya diri, saling membantu, serta mencintai lingkungan sejalan dengan teori “Achievement Motivation” dari David McClelland (1961) yang menjelaskan bahwa motivasi berprestasi dapat ditanamkan sejak usia dini melalui pengalaman belajar yang menyenangkan.
Visual animasi yang penuh warna juga membantu anak memahami isi lagu. Hal ini sesuai dengan “Dual Coding Theory” dari Allan Paivio (1971) yang menjelaskan bahwa anak lebih mudah mengingat informasi apabila dipadukan antara gambar dan bahasa. Namun demikian, apabila ditinjau dari standar psikologi perkembangan dan pendidikan karakter, masih terdapat beberapa aspek yang perlu menjadi perhatian. Sebagian lagu viral masih lebih mengedepankan daya tarik hiburan dibandingkan kedalaman pesan moral. Tidak sedikit pula lagu yang menggunakan kosakata sederhana secara berulang sehingga kurang merangsang perkembangan bahasa anak. Selain itu, sebagian kreator lebih berorientasi pada algoritma media sosial daripada penyusunan materi pendidikan yang sistematis. Artinya, lagu-lagu viral tahun 2026 telah bergerak ke arah yang benar, tetapi belum seluruhnya mencapai kualitas ideal sebagai media pembentukan karakter anak Indonesia.
Pentingnya Makna Lirik dan Keteladanan Penyanyi.
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menilai kualitas lagu hanya berdasarkan liriknya. Padahal dalam psikologi sosial, anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang dilihat. Melalui “Social Learning Theory”, Albert Bandura (1977) menjelaskan bahwa anak memperoleh perilaku melalui proses observasi dan peniruan (observational learning). Ketika anak menyukai seorang penyanyi, mereka tidak hanya menghafal lirik lagunya, tetapi juga meniru ekspresi wajah, gaya berbicara, gerakan tubuh, cara berpakaian, hingga sikap yang ditampilkan penyanyi tersebut.
Karena itu, penyanyi lagu anak seharusnya menjadi teladan yang sesuai dengan dunia anak. Cara bernyanyi yang ceria, santun, komunikatif, tidak berlebihan, serta menghargai nilai-nilai kesopanan akan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan sosial dan emosional anak.Sebaliknya, apabila lagu anak dibawakan dengan gaya yang menyerupai pertunjukan orang dewasa, dipenuhi ekspresi sensual, gerakan yang tidak sesuai usia, atau lebih mengutamakan sensasi dibandingkan edukasi, maka anak berpotensi mengalami “premature socialization”, yaitu proses meniru perilaku orang dewasa sebelum mencapai kematangan psikologisnya. Oleh karena itu, kualitas lagu anak tidak dapat dipisahkan dari kualitas keteladanan penyanyinya.
Menghidupkan Kembali Lagu Nasional sebagai Pendidikan Karakter
Di tengah maraknya lagu-lagu viral, Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan lagu nasional dan lagu daerah yang sarat nilai pendidikan. Lagu seperti Garuda Pancasila, Aku Anak Indonesia, Bangun Pemudi Pemuda, maupun lagu daerah seperti Soleram, Ampar-Ampar Pisang, Tokecang, dan Yamko Rambe Yamko bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga media pembentukan identitas bangsa. Menurut Erik Erikson (1968), masa kanak-kanak merupakan fase penting dalam pembentukan identitas. Lagu nasional membantu anak mengenal bangsanya, sedangkan lagu daerah memperkenalkan akar budaya, keberagaman, dan rasa bangga terhadap identitas lokal. Di sinilah tantangan pendidikan Indonesia pada era digital. Lagu-lagu nasional dan daerah tidak boleh hanya dinyanyikan saat upacara atau lomba. Lagu-lagu tersebut harus dihidupkan kembali melalui aransemen yang menarik, media digital yang kreatif, dan pembelajaran yang menyenangkan agar tetap relevan bagi Generasi Alpha.
Lagu yang Baik adalah Pendidikan Akhlak.
Islam mengajarkan bahwa pendidikan anak dimulai dari kata-kata yang baik. Apa yang didengar anak setiap hari akan membentuk cara berpikir dan perilakunya. Allah SWT berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’ [17]: 53). Firman Allah SWT yang lain menyebutkan: “…dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 83). Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ayat dan hadis tersebut memberikan landasan bahwa lirik lagu yang didengar anak setiap hari merupakan bagian dari pendidikan akhlak. Lagu yang mengajarkan kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, cinta kepada orang tua, persahabatan, kerja keras, dan cinta tanah air akan menjadi investasi psikologis sekaligus spiritual bagi masa depan anak.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa tema Hari Anak Nasional 2026 mengingatkan bahwa membangun masa depan anak bukan hanya melalui pembangunan sekolah, penyediaan makanan bergizi, atau perlindungan hukum. Anak juga membutuhkan lingkungan budaya yang sehat, termasuk lagu-lagu yang mendidik. Psikologi terapan menunjukkan bahwa lagu memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk karakter, kecerdasan, identitas budaya, serta kesehatan emosional anak. Oleh sebab itu, sudah saatnya pemerintah, sekolah, keluarga, pencipta lagu, penyanyi, media massa, dan platform digital bersinergi menghidupkan kembali ekosistem lagu anak Indonesia yang berkualitas. Lagu anak yang baik bukanlah lagu yang sekadar viral atau memiliki jutaan penonton. Lagu yang baik adalah lagu yang mampu menanamkan nilai, memperkaya bahasa, membangun kecintaan kepada keluarga dan bangsa, serta mengantarkan anak menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak, kreatif, dan percaya diri. Anak-anak yang setiap hari tumbuh bersama lagu-lagu yang mendidik akan lebih mudah membangun karakter yang kuat. Dari lirik yang sederhana lahir pikiran yang sehat, dari irama yang ceria tumbuh jiwa yang bahagia, dan dari lagu-lagu yang bermakna akan lahir generasi emas Indonesia yang mampu mewujudkan cita-cita Hari Anak Nasional: disayangi, dilindungi, dan dipersiapkan untuk membangun masa depan bangsa. (*)

