Serangan Kosong Amerika Gagal Lumpuhkan Iran

0

nataragung.id – LAMPUNG SELATAN – Serangan Amerika Serikat terhadap tiga situs nuklir Iran baru-baru ini memunculkan satu pertanyaan besar yang menggema di ruang-ruang strategis dunia. Apakah benar kekuatan nuklir Iran telah berhasil dilumpuhkan? Jawabannya tegas dan tak terbantahkan, tidak.

Apa yang dilakukan oleh Amerika, dengan dukungan diam-diam dari Israel, bukanlah aksi militer presisi yang strategis, melainkan reaksi frustasi politik yang lahir dari tekanan internal Gedung Putih, terutama dari lobi pro-Israel dan ambisi Netanyahu yang nyaris obsesif terhadap Iran. Serangan ini menyasar fasilitas Fordow, Isfahan, dan Natanz, tidak mengubah apapun secara substansial dalam infrastruktur nuklir Iran. Mengapa? Karena Iran sudah tahu akan diserang. Iran Sudah Bersiap Sebelum Peluru Pertama Dilepaskan

Jauh sebelum rudal Amerika meluncur, Iran telah mengevakuasi aset nuklirnya ke lokasi-lokasi rahasia yang tidak diketahui siapapun, bahkan sebagian besar elite militer Iran pun tidak diberi akses terhadap informasi tersebut.

Fasilitas nuklir semacam Fordow, Isfahan, dan Natanz sebenarnya telah dikosongkan dari aset vital sejak dua bulan sebelum serangan. Tidak kurang dari 1.100 unit centrifuge IR-1 dan 3.000 unit IR-6 telah dipindahkan ke tempat yang jauh lebih aman. Iran kini menyimpan lebih dari 9.000 kg uranium yang sudah diamankan dengan protokol pertahanan berlapis. Maka serangan Amerika tersebut tak lebih dari teaterikal politik, bukan operasi militer yang efektif.

Baca Juga :  Memahami Islam Kontemporer. Oleh : Gunawan Handoko *)

Bahkan serangan dilakukan secara tergesa-gesa. Pesawat bomber AS yang diklaim siluman, seperti B-2 Spirit, harus segera keluar dari wilayah Iran sesegera mungkin. Mengapa? Karena Iran kini memiliki sistem pertahanan udara yang mampu menjatuhkan pesawat-pesawat tercanggih Amerika. Terlambat beberapa menit saja, pesawat itu bisa berubah menjadi puing besi.

Perlu dicatat bahwa program nuklir Iran dibangun dengan landasan diplomasi dan hukum internasional. Iran adalah anggota sah NPT (Non-Proliferation Treaty) dan mengizinkan inspeksi rutin oleh IAEA. Namun, AS dan Israel terus mengabaikan kerangka hukum ini dan berusaha menghancurkan program nuklir Iran tanpa dasar hukum yang sah. Ini adalah pelanggaran terhadap norma internasional dan logika geopolitik yang rasional.

Iran sangat menyadari sensitivitas isu nuklir ini. Bagi Republik Islam tersebut, program nuklir bukan hanya alat energi atau militer, melainkan simbol kedaulatan dan harga diri bangsa. Iran telah bertahan di bawah embargo selama 46 tahun dan tak akan gegabah membiarkan aset strategisnya menjadi sasaran empuk.

Iran memilih jalur retaliasi yang sistematis. Fokus Iran bukan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Teluk, karena itu hanya akan menyebar energi dan membuka front baru yang tidak efisien. Sebaliknya, Iran memilih satu titik fokus, menggempur jantung Israel, Tel Aviv, Haifa, dan kota-kota strategis lain, dengan rudal-rudal presisi tinggi.

Baca Juga :  Proposal Lebaran, Catatan Lepas Pensiunan PNS. Oleh : Gunawan Handoko

Inilah kejeniusan militer Iran, memukul musuh di titik yang paling menyakitkan secara politik dan psikologis. Dalam waktu dua minggu, Israel berubah drastis menjadi negara dalam kepanikan, ekonomi lumpuh, sosial kacau, elit politik saling menyalahkan, dan jutaan warga hidup dalam ketakutan serta pengungsian.

Dan dunia tidak tahu betapa parahnya kehancuran itu, karena media internasional menyensor dan membungkam laporan-laporan objektif dari lapangan.

Iran tidak tergesa-gesa menutup Selat Hormu, jalur vital 50% lalu lintas minyak dunia, karena tahu tindakan itu akan merugikan partner strategisnya sendiri seperti China dan Eropa. Selain itu, penutupan Hormuz bisa digunakan Amerika sebagai dalih untuk menyerang Iran secara besar-besaran atas nama “stabilitas internasional”.

Iran akan menjaga kartu ini sampai benar-benar terancam secara eksistensial. Jika saat itu tiba, bukan hanya Hormuz yang akan ditutup. Iran juga akan mengaktifkan sel-sel militernya di berbagai belahan dunia untuk menggempur kepentingan AS dan Israel dalam skala global.

Sementara rudal-rudal Iran mengguncang Israel, diplomasi Teheran tidak berhenti. Menlu Iran bahkan dijadwalkan menemui Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk memperkuat poros anti-AS bersama China. Ini bukan hanya perang militer, tetapi juga perang propaganda dan persepsi global.

Menariknya, setelah serangan “kosong” ke Iran, AS langsung memberi sinyal ingin membuka jalur diplomasi. Menlu AS menyatakan bahwa serangan tersebut ditujukan pada “rezim”, bukan rakyat Iran, retorika klasik yang menunjukkan kepanikan Washington atas efek kebangkitan nasionalisme rakyat Iran di bawah Khamenei. Iran menanggapi dengan dingin, “No, thank you.” Tidak ada dialog. Tidak ada kompromi.

Baca Juga :  Chiki Fawzi Dicopot sebagai Petugas Haji

Jika perang ini berlanjut, kehancuran Israel yang kian parah justru menjadi kekuatan diplomatik Iran. Dunia menyaksikan satu hal, bahwa kekuatan regional non-Barat mampu menghadapi tekanan koalisi Barat dengan kekuatan yang terukur, strategis, dan berbasis kedaulatan.

Amerika Serikat, yang selama ini mengklaim sebagai penjaga stabilitas global, justru kehilangan legitimasi karena gagal melumpuhkan Iran dan mempermalukan sekutunya sendiri, Israel, di hadapan dunia.

Iran tak perlu membalas serangan nuklir dengan bom nuklir. Cukup membuat Tel Aviv menjadi kota yang tidak layak huni, dan itu sudah menjadi pil pahit bagi seluruh aliansi Atlantik. Setiap rudal yang menghantam jantung Israel bukan hanya menghancurkan bangunan. Ia menghancurkan mitos keabadian dominasi Barat atas Timur. Tabik.

Keterangan Foto : Bangunan di Tel Aviv yang rusak parah setelah serangan rudal dari Iran

Penulis : Elazka Dads (Pemerhati Perang Iran-Israel dan Tukang Ngobrol Ngalor Ngidul)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini