Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id – Metro – Musik daerah tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media yang merepresentasikan karakter, identitas, dan nilai-nilai psikologis suatu masyarakat. Lagu “Cak Culay Nabuy Nabuy” yang dipopulerkan oleh Yusuf Cak Culay menjadi fenomena nasional setelah viral di berbagai platform media sosial. Lagu ini mulai viral di media sosial, terutama TikTok, pada sekitar November hingga Desember 2022, sebelum akhirnya dirilis secara resmi melalui label Nagaswara pada Desember 2022. Lagu berbahasa Lampung tersebut pada awalnya banyak disangka menggunakan bahasa asing karena irama dan pengucapannya yang unik. Padahal, makna utama frasa “Cak Culay Nabuy Nabuy” adalah ajakan untuk “ayo berkumpul lagi”, yang menggambarkan keramahan dan budaya berkumpul masyarakat Lampung.
Popularitas lagu ini menunjukkan bahwa karya budaya lokal dapat diterima secara luas ketika menghadirkan emosi positif yang bersifat universal. Psikologi memandang bahwa kebutuhan untuk berkumpul, bercengkerama, dan diterima dalam kelompok merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Allah Swt. berfirman: “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat tersebut menegaskan bahwa keberagaman budaya bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan sarana membangun hubungan sosial yang harmonis. Rasulullah SAW juga bersabda: “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut mengajarkan pentingnya kebersamaan sebagai fondasi kehidupan sosial yang sehat.
Kebersamaan sebagai Kebutuhan Dasar Manusia.
Makna utama lagu ini adalah ajakan untuk berkumpul kembali. Ajakan sederhana tersebut memiliki makna psikologis yang mendalam karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Abraham Maslow (1943) dalam Hierarchy of Needs menjelaskan bahwa setelah kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpenuhi, manusia memiliki kebutuhan akan “belongingness and love”, yaitu kebutuhan untuk diterima, dicintai, dan menjadi bagian dari kelompok.
Lagu ini merepresentasikan kebutuhan tersebut melalui ajakan berkumpul tanpa memandang status sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan berkumpul bersama keluarga, tetangga, maupun sahabat mampu memberikan berbagai manfaat psikologis, antara lain untuk mengurangi rasa kesepian, meningkatkan kebahagiaan, memperkuat dukungan sosial, menurunkan tingkat stress, dan membangun rasa memiliki terhadap komunitas. Roy Baumeister dan Mark Leary (1995) melalui “Need to Belong Theory” menyatakan bahwa kebutuhan untuk diterima merupakan motivasi fundamental manusia. Individu yang merasa diterima dalam kelompok cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik dibandingkan mereka yang mengalami isolasi sosial. Fenomena viralnya lagu ini menunjukkan bahwa masyarakat merespons positif pesan kebersamaan yang dibawanya. Di tengah meningkatnya interaksi digital, ajakan untuk berkumpul secara langsung tetap memiliki daya tarik emosional yang kuat.
Identitas Budaya sebagai Sumber Kebanggaan Psikologis.
Selain mengangkat tema pergaulan, lagu ini juga memperkenalkan bahasa dan budaya Lampung kepada masyarakat Indonesia. Penggunaan salam “Tabik Pun”, ungkapan khas Lampung, serta dialog yang akrab menjadi simbol identitas budaya yang dikemas secara ringan dan menghibur. Henri Tajfel dan John Turner (1979) melalui “Social Identity Theory” menjelaskan bahwa individu memperoleh sebagian harga dirinya dari kelompok tempat ia berasal, termasuk suku, budaya, bahasa, dan tradisi. Ketika identitas budaya diapresiasi secara positif, individu akan mengalami beberap kondisi yaitu meningkatnya rasa bangga terhadap budaya sendiri, bertambahnya kepercayaan diri, menguatnya solidaritas kelompok, dan meningkatnya motivasi melestarikan budaya.
Sebaliknya, apabila budaya lokal dianggap rendah atau tidak menarik, dapat muncul fenomena “cultural inferiority”, yaitu perasaan minder terhadap identitas budaya sendiri. Keberhasilan lagu ini menjadi viral membuktikan bahwa bahasa daerah mampu menjadi media komunikasi lintas budaya apabila dikemas secara kreatif. Hal tersebut sekaligus memperkuat identitas masyarakat Lampung tanpa harus menutup diri terhadap budaya lain. Dalam konteks psikologi budaya, John W. Berry (1997) menjelaskan bahwa masyarakat yang mampu mempertahankan identitas budayanya sekaligus terbuka terhadap interaksi dengan kelompok lain akan memiliki kemampuan adaptasi sosial yang lebih baik.
Humor, Musik, dan Emosi Positif dalam Kehidupan Sosial.
Nuansa lagu yang ringan, jenaka, dan penuh permainan kata membuat pendengar merasakan suasana gembira. Psikologi positif menjelaskan bahwa humor merupakan salah satu strategi efektif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis. Barbara Fredrickson (2001) melalui “Broaden and Build Theory” menjelaskan bahwa emosi positif mampu memperluas cara berpikir seseorang sehingga lebih kreatif, lebih terbuka terhadap orang lain, dan lebih mudah membangun hubungan sosial. Musik yang menghadirkan kegembiraan juga dapat menurunkan hormon stress, meningkatkan hormon dopamin yang berkaitan dengan rasa senang, memperkuat ikatan sosial, dan meningkatkan optimisme.
Martin Seligman (2011) melalui teori “PERMA” menempatkan Positive Emotion dan Relationship sebagai dua unsur utama kesejahteraan psikologis. Lagu ini menghadirkan keduanya sekaligus, yaitu kegembiraan melalui musik dan kedekatan melalui ajakan berkumpul. Dari perspektif komunikasi, Albert Bandura (1986) melalui “Social Learning Theory” menjelaskan bahwa perilaku sosial dapat dipelajari melalui observasi. Ketika masyarakat melihat budaya berkumpul, saling menyapa, dan berinteraksi secara hangat dipresentasikan secara menarik dalam media populer, perilaku tersebut berpotensi ditiru dalam kehidupan nyata.
Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ayat tersebut mengajarkan bahwa hubungan sosial hendaknya diarahkan untuk memperkuat kerja sama dan kebaikan bersama. Rasulullah SAW juga bersabda: “Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini menunjukkan bahwa kehidupan sosial yang aktif merupakan bagian dari pembentukan kepribadian yang matang.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa lagu “Cak Culay Nabuy Nabuy” tidak sekadar menjadi lagu viral, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai psikologis yang penting bagi kehidupan masyarakat. Ajakan untuk berkumpul kembali mencerminkan kebutuhan dasar manusia untuk diterima, membangun hubungan sosial, serta memperkuat rasa memiliki terhadap komunitas. Perspektif psikologi terapan melalui Hierarchy of Needs Maslow (1943), Need to Belong Theory Baumeister dan Leary (1995), Social Identity Theory Tajfel dan Turner (1979), Acculturation Theory Berry (1997), Social Learning Theory Bandura (1986), dan Broaden-and-Build Theory Fredrickson (2001) menunjukkan bahwa kebersamaan, identitas budaya, dan emosi positif merupakan modal psikologis yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang sehat dan harmonis. Nilai-nilai Islam memperkuat temuan tersebut dengan mengajarkan pentingnya ta’aruf, ukhuwah, gotong royong, dan silaturahmi. Oleh karena itu, popularitas lagu ini dapat dimaknai bukan hanya sebagai keberhasilan industri musik daerah, melainkan juga sebagai pengingat bahwa di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, ajakan sederhana untuk “ayo berkumpul lagi” merupakan pesan psikologis yang relevan dalam memperkuat kesehatan mental, mempererat hubungan sosial, serta melestarikan identitas budaya bangsa. (*)
















