Blog

  • Terima kunjungan dari Sieger Lingua International, Pemprov Lampung komitmen Dukung Penguatan SDM melalui Pendidikan Vokasi

    Terima kunjungan dari Sieger Lingua International, Pemprov Lampung komitmen Dukung Penguatan SDM melalui Pendidikan Vokasi

    nataragung.id – Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui penguatan pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan dunia kerja, termasuk peluang kerja di luar negeri.

    Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menerima audiensi Yayasan Sieger Lingua International di Ruang Sakai Sambayan, Kantor Gubernur Lampung, Rabu (29/7/2026).

    Dalam pertemuan itu, Gubernur Mirza menyatakan Pemerintah Provinsi Lampung mendukung berbagai inisiatif yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas SDM masyarakat Lampung.

    “Kami sangat mendukung upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas SDM Lampung, termasuk dari Sieger Lingua International,” ujar Gubernur Mirza.

    Gubernur Mirza menjelaskan penguatan pendidikan vokasi menjadi salah satu strategi penting untuk menjawab tantangan ketenagakerjaan di Lampung. Ia menjelaskan, kemampuan sektor investasi dalam menyerap tenaga kerja semakin terbatas akibat perkembangan teknologi dan otomatisasi industri. Sementara itu, setiap tahun Lampung menghasilkan puluhan ribu lulusan SMA/SMK dan perguruan tinggi yang membutuhkan akses terhadap lapangan kerja.

    Karena itu, Pemerintah Daerah mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja agar memiliki daya saing, baik di pasar kerja nasional maupun internasional.

    “Lampung memiliki bonus demografi yang harus dimanfaatkan. Kuncinya adalah meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

    Gubernur Mirza juga mengungkapkan bahwa Lampung merupakan salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar di Indonesia. Potensi tersebut, menurutnya, harus dioptimalkan dengan menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan, kemampuan bahasa asing, serta perlindungan yang memadai.

    Ia menambahkan, negara-negara yang mengalami penuaan penduduk, seperti Jepang dan Jerman, membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Kondisi tersebut menjadi peluang yang harus dimanfaatkan oleh generasi muda Lampung melalui peningkatan kompetensi.

    “Kita ingin anak-anak Lampung berangkat sebagai tenaga kerja yang terampil, memiliki kemampuan bahasa, dan mendapatkan pekerjaan yang layak serta terlindungi,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Pembina Sieger Lingua International, B. Mofaje S. Caropeboka, menjelaskan bahwa lembaganya berfokus pada pelatihan bahasa Jerman serta pendampingan peserta yang ingin bekerja maupun melanjutkan pendidikan di Jerman.

    Saat ini, Lanjut Mofaje, Sieger Lingua International bersama Santri Entrepreneur Indonesia tengah menjalankan program beasiswa pelatihan intensif bagi 15 peserta, sebagian besar berasal dari Lampung. Program tersebut mencakup pembelajaran bahasa Jerman, pembinaan karakter, penguatan mental dan spiritual, serta persiapan memasuki dunia kerja internasional.

    Selain itu, Sieger Lingua International juga menjalin komunikasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan sejumlah mitra di Jerman guna memperluas peluang penempatan tenaga kerja Indonesia, sekaligus memastikan peserta memperoleh pendampingan hingga siap bekerja di luar negeri.

    Keberadaan Sieger Lingua International dinilai sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Lampung dalam memperkuat pendidikan vokasi dan mencetak SDM yang kompeten, berdaya saing global, serta mampu memanfaatkan peluang kerja di pasar internasional. (*/SMh)

  • Peristiwa Bayi Hilang atau Nyaris Tertukar di Rumah Sakit Perspektif Psikologi Terapan

    Peristiwa Bayi Hilang atau Nyaris Tertukar di Rumah Sakit Perspektif Psikologi Terapan

    Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA
    Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

    nataragung.id Metro – Rumah sakit merupakan tempat yang identik dengan keselamatan, harapan, dan kepercayaan. Setiap orang tua yang menyerahkan bayinya kepada tenaga kesehatan meyakini bahwa buah hatinya berada dalam perlindungan terbaik. Kepercayaan tersebut menjadi fondasi utama hubungan antara masyarakat dan institusi pelayanan kesehatan. Namun, dalam dua dekade terakhir, publik Indonesia beberapa kali dikejutkan oleh kasus bayi hilang, tertukar, atau nyaris dibawa pulang oleh keluarga lain dari rumah sakit. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap keselamatan bayi tidak selalu berasal dari tindak kriminal, tetapi juga dapat muncul akibat kelemahan sistem pelayanan, kelalaian prosedur, maupun kesalahan identifikasi.

    Kasus terbaru terjadi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada Rabu, 8 April 2026. Seorang bayi yang sedang dirawat di ruang NICU nyaris dibawa pulang oleh keluarga pasien lain setelah diduga terjadi kesalahan penyerahan bayi. Sang ibu berhasil mengenali bayinya melalui pakaian dan selimut yang digunakan sehingga peristiwa tersebut dapat dicegah sebelum bayi benar-benar keluar dari rumah sakit. Kasus tersebut kemudian berujung pada laporan kepolisian dan memunculkan evaluasi terhadap sistem keamanan pasien.

    Peristiwa serupa sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Tahun 2006, seorang bayi dilaporkan hilang dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya setelah dibawa oleh orang yang bukan anggota keluarganya. Bayi akhirnya berhasil ditemukan oleh kepolisian. Tahun 2009, bayi kembali dilaporkan hilang dari RS Sentosa Bogor setelah diduga dibawa perempuan yang menyamar sebagai tenaga kesehatan atau pengunjung. Beberapa hari kemudian bayi berhasil ditemukan. Kasus lain terjadi di RSUP Adam Malik Medan berupa dugaan bayi tertukar akibat kekeliruan identifikasi. Sebagian besar kasus diselesaikan melalui pemeriksaan DNA sehingga diketahui bahwa permasalahan tersebut lebih berkaitan dengan kesalahan sistem pelayanan daripada penculikan. Sementara itu, masyarakat juga masih mengingat kasus bayi tertukar di Bogor yang baru terungkap setelah kedua anak dibesarkan oleh keluarga yang berbeda selama bertahun-tahun. Kepastian identitas baru diperoleh melalui pemeriksaan DNA. Walaupun bukan kasus penculikan, dampak psikologis yang ditimbulkan jauh lebih besar karena kedua keluarga harus menghadapi kenyataan bahwa anak yang mereka besarkan ternyata bukan anak kandung mereka.

    Rangkaian kasus tersebut menunjukkan bahwa keselamatan bayi di rumah sakit bukan hanya persoalan prosedur administrasi, melainkan juga persoalan psikologi manusia, budaya organisasi, dan kepercayaan publik terhadap institusi pelayanan kesehatan. Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu.” (QS. Al-Anfal: 27). Ayat tersebut menegaskan bahwa menjaga amanah merupakan kewajiban moral sekaligus spiritual, termasuk amanah melindungi keselamatan setiap pasien.

    Trauma Orang Tua: Ketika Rasa Aman Seketika Runtuh.

    John Bowlby (1969) melalui “Attachment Theory” menjelaskan bahwa hubungan emosional antara orang tua dan bayi mulai terbentuk sejak masa kehamilan dan semakin menguat setelah kelahiran. Ikatan tersebut menjadi fondasi munculnya rasa aman, kasih sayang, dan naluri perlindungan. Ancaman kehilangan bayi, meskipun hanya berlangsung beberapa menit, mampu memunculkan “acute stress reaction”, berupa syok, kepanikan, tangisan, sulit tidur, kecemasan berlebihan, hingga ketakutan mempercayai kembali tenaga kesehatan. Pada kasus bayi yang baru diketahui tertukar setelah bertahun-tahun, trauma berkembang jauh lebih kompleks karena kedua keluarga mengalami konflik identitas, rasa kehilangan, rasa bersalah, dan dilema emosional yang mendalam.

    Lazarus dan Folkman (1984) menjelaskan bahwa stres muncul ketika seseorang menilai suatu situasi sebagai ancaman yang melampaui kemampuan dirinya untuk mengendalikan keadaan. Dalam seluruh kasus tersebut, orang tua kehilangan kontrol terhadap keselamatan anaknya karena sepenuhnya bergantung pada sistem rumah sakit. Bandura (1997) menyatakan bahwa pengalaman negatif akan menurunkan “trust efficacy”, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuan suatu institusi dalam memberikan perlindungan. Tidak mengherankan apabila sebagian orang tua menjadi sangat waspada, bahkan enggan mempercayakan kembali bayinya kepada rumah sakit setelah mengalami pengalaman traumatis. Menurut perspektif Islam, Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut menegaskan bahwa keselamatan pasien merupakan amanah profesional yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di hadapan Allah Swt.

    Human Error, Kelelahan Mental, dan Budaya Keselamatan.

    Psikologi modern memandang bahwa sebagian besar kecelakaan bukan semata-mata akibat individu yang ceroboh. James Reason (1990) melalui “Swiss Cheese Model” menjelaskan bahwa insiden keselamatan biasanya terjadi karena beberapa lapisan pengamanan gagal bekerja secara bersamaan. Kasus di RSHS Bandung, RS Sentosa Bogor, RSUD Dr. Soetomo Surabaya, maupun dugaan bayi tertukar di RSUP Adam Malik Medan memperlihatkan adanya kelemahan pada lebih dari satu lapisan pengamanan, mulai dari identifikasi gelang bayi, proses verifikasi identitas orang tua, komunikasi antartenaga kesehatan, hingga pengawasan saat proses pemulangan pasien.

    Sweller melalui “Cognitive Load Theory” menjelaskan bahwa tenaga kesehatan yang bekerja dalam tekanan tinggi, kelelahan, menangani banyak pasien, atau mengalami distraksi lebih rentan melakukan kesalahan identifikasi. Penjelasan ini bukan untuk membenarkan kelalaian, melainkan menunjukkan pentingnya membangun sistem yang mampu meminimalkan peluang terjadinya human error. Edgar Schein (2010) menambahkan bahwa organisasi yang memiliki “safety culture” akan menjadikan prosedur keselamatan sebagai kebiasaan, bukan sekadar aturan tertulis. Pemeriksaan gelang identitas, pencocokan nama ibu dan bayi, verifikasi ganda sebelum penyerahan pasien, pembatasan akses ruang NICU, penggunaan gelang identitas elektronik, hingga penerapan teknologi RFID merupakan bentuk nyata budaya keselamatan yang perlu dikembangkan. Pada sisi lain, masyarakat juga sering mengalami “authority bias”, yaitu kecenderungan mempercayai siapa pun yang mengenakan atribut tenaga kesehatan. Dalam kondisi cemas setelah proses persalinan, keluarga cenderung mengikuti arahan petugas tanpa melakukan verifikasi ulang. Bias psikologis tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sistem keamanan rumah sakit harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak bergantung pada kewaspadaan individu semata.

    Akhirnya penting untuk dipahami bahwa kasus bayi hilang, tertukar, maupun nyaris dibawa pulang oleh keluarga lain mengajarkan bahwa keselamatan pasien merupakan hasil kolaborasi antara manusia, teknologi, prosedur, dan budaya organisasi. Satu kesalahan kecil dapat menimbulkan trauma psikologis yang membekas sepanjang hidup, terutama ketika menyangkut hubungan emosional antara orang tua dan anak. Psikologi terapan menunjukkan bahwa pemulihan kepercayaan masyarakat tidak cukup dilakukan melalui permintaan maaf atau penyelesaian hukum. Rumah sakit juga perlu memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban, melakukan evaluasi sistem secara terbuka, meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam komunikasi empatik, serta membangun budaya keselamatan yang konsisten. Menurut perspektif Islam, menjaga keselamatan jiwa merupakan bagian dari maqāṣid al-syarī’ah, yaitu ḥifẓ al-nafs (melindungi jiwa). Oleh karena itu, setiap prosedur identifikasi pasien bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan bagian dari ibadah dan amanah kemanusiaan. Kepercayaan masyarakat merupakan modal sosial yang dibangun melalui ribuan pelayanan yang baik, tetapi dapat runtuh hanya karena satu kelalaian. Oleh sebab itu, rumah sakit harus terus memperkuat sistem keselamatan pasien agar setiap bayi yang lahir tidak hanya memperoleh pelayanan medis terbaik, tetapi juga jaminan perlindungan, rasa aman, dan kepastian bahwa amanah kehidupan benar-benar dijaga dengan penuh tanggung jawab. (*)

  • Khutbah Jum’at Bahasa Lappung: Dang Ngebangun Istana di Lam-mbung Halinu. (Renungan Anjak Surat Al-kahfi Ayat 45-46). Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    Khutbah Jum’at Bahasa Lappung: Dang Ngebangun Istana di Lam-mbung Halinu. (Renungan Anjak Surat Al-kahfi Ayat 45-46). Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Tabiik puun. Dalam rangka mengimplementasikan Instruksi Gubernur Lampung Bapak Rahmat Mirzani Djausal Nomor : 4 Tahun 2025 tanggal 30 Desember 2025 tentang hari Kamis BERADAT yaitu sebagai upaya memperkuat pelestarian Bahasa Daerah dan Budaya Lampung dilingkungan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan lingkungan pendidikan se-provinsi Lampung, bersama ini kami mencoba untuk menyajikan Khutbah Jum’at berbahasa Lampung, khususnya bahasa Lampung berdialeg A.

    Meski Masjid bukan bagian yang diatur dalam instruksi tersebut, namun tidak ada salahnya warga masyarakat Lampung khususnya para khatib shalat Jum’at turut serta melestarikan bahasa Lampung dengan kegiatan nyata yaitu membacakan khutbah Jum’at dalam bahasa Lampung. Karena pada wilayah tertentu di provinsi Lampung, sudah banyak saudara-saudara kita warga masyarakat suku Jawa yang membaca khutbah dalam bahasa Jawa, bahkan buku-buku Khutbah berbahasa Jawa sudah banyak dijual di toko-toko.

    Kami menyadari naskah (dialeg) yang kami sajikan masih jauh dari kata sempurna, namun prinsip kami “Lamon Mak Gatta Kapan Lagi, Lamon Mak Gham Sapa Lagi.” Karena itu kritik dan saran dari para pembaca terkait dialeg yang kami pergunakan, sangat kami harapkan guna penyempurnaan dialeg Khutbah Jum’at dimasa yang akan datang.

    KHUTBAH PERTAMA

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ. اَشْهَدُ اَنْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.

    Alhamdulillāhi naḥmaduhū, wa nasta‘īnuhū, wa nastaghfiruhū, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a’mālinā. Man yahdihillāhu falā mudhilla lah, wa man yudhlilhu falā hādiya lah. Asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma’īn.

    أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

    Ūṣīkum wa iyyāya al-muqasshira awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fis-sirri wal-‘alāniyyah. (Inna Allāha ma’a alladzīna ittaqaw walladzīna hum muḥsinūn).

    Amma ba’du.
    Minak Muakhi Jamaah Jum’at rahimakumullah

    Payu kham pekhadda meningkat ko takwa guway Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, cakha ni laksana ko segala pekhittah-Ni dang lupa ngejawohi unyin larangan Ni. Taqwa sinalah bekal kham sai paling betik nuju khurik setelah kematian.

    Allah Subḥanahu wata’ala ngingokko kham tentang hakikat dunia melalui pekhumpamaan sai hallaw nihan.

    Allah Subḥanahu wata’ala befirman:

    وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا ۝٤٥

    الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا ۝٤٦

    Waḍrib lahum matsalal-ḥayātid-dunyā kamā’in anzalnāhu minas-samā’i fakhtalaṭa bihī nabātul-arḍi fa aṣbaḥa hasyīman tażrūhur-riyāḥ, wa kānallāhu ‘alā kulli syai’in muqtadirā.

    Al-mālu wal-banūna zīnatul-ḥayātid-dunyā, wal-bāqiyātuṣ-ṣāliḥātu khairun ‘inda rabbika ṡawābaw wa khairun amalā.

    Khat-ti ni: “Juk lah tiyan pekhumpamaan tentang hukhik di dunia. Dunia ina gegoh way hujan sai Ikam khag-goh ko anjak langik, tekhus tuwoh lah kaban tanoman di bumi subur nihan ulah way ina. Kemudian tanoman ina jadi ngeluh sai di teham-mbokh ko angin. Allah maha kuasa di lam-mbung segala sesuatu .

    Khatta khik kaban anak yatim iyalah perhiasan hukhik didunia, tapi amal-amal saleh sai kekal lebih betik pahala ni di sisi Tuhanmu khik lebih betik guway jadi hakhopan.” (QS. Al-Kahfi: 45–46)

    Jamaah Jum’at sai dimuliakon Allah.

    Perhatiko pekhumpamaan sai disappai ko Allah. Hujan khag-goh anjak langik. Tanoh sai mati jadi hukhik. Kaban bulung jadi hujau. Bunga jadi hallaw. Buah tegattung di batang-batang ni. Jelema jadi kagum ulah hallaw ni.

    Tapi mak munni angin bertiup. Musim begatti. Bulung ngeluh. Jukuk-jukuk menguning. Bunga bella layu. Unyin sai hallaw jadi lebon. Seolah-olah mak lekot ngedok.

    Gohna lah dunia.

    Khani sa, kham sihat, jemoh dapok makhing. Khani sa kham di puji, jemoh kham di lupako.

    Khani sa kham nayah khatta, jemoh khatta ina pindah guk ahli wakhis.

    Khani sa kaban sanak ngedok di sapping kham, jemoh tiyan kak sibuk di ukhusan hukhik tiyan pesai.

    Mula sina, Allah mak ngucapko bahwa khatta khik kaban sanak adalah tujuan hukhik, tapi hanya ngucapko bahwa khatta khik kaban sanak adalah perhiasan hukhik.

    Perhiasan dapok dimiliki, tapi dang sappai nguasai hati kham.

    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

    Kun fid-dunyā ka’annaka gharībun aw ‘ābiru sabīl.

    Khat-ti ni: “Jadilah Niku di dunia gegoh ulun asing atau ulun musafir.” (HR. Al-Bukhari).

    Jelema musafir sai lagi wat lapahan jawoh, mak mukkin negi ko istana di ngan ni sing-ngah. Ia cukup nyiap ko bekal secukupni guway ngelaju ko lapahan ni.

    Gohna munih hukhik di dunia. Dang ngebangun istana di lam-mbung halinu. Bangunlah hukhik kham di lam-mbung amal saleh sai dapok kekal sappai akhirat.

    Amal saleh inalah bekal sai mak lebon, sai mak cadang, jama
    mak akan ninggal ko kham.

    Allah Subḥanahu wata’ala nyebutko amal-amal ina jama firman-Ni:

    وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ

    Wal-bāqiyātuṣ-ṣāliḥāt.

    Khat-ti ni: “Amal-amal saleh sai kekal.”

    Sai sujud sai ikhlas lebih kekal anjak khibuan beteppuk pungu kaban jelema.

    Sai sedekah sai dikhahasia ko lebih mulia anjak khatta sai dipamerko.

    Sai cawaan atawa ucapan sai nenangko hati sekelik kham, kadang lebih biyak timba- gan amal ni anjak pidato sai tijang tapi kelebonan ikhlas.

    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    Idzā māta ibnu Ādama inqaṭa’a ‘amaluhu illā min ṡalāṡin: ṣadaqatin jāriyah, aw ‘ilmin yuntafa’u bih, aw waladin ṣāliḥin yad’ū lah.

    Khat-ti ni: “Apabila anak Adam meninggal dunia, putuklah amalni kecuali tellu pekakha: sedekah jariyah, ilmu sai bermanfaat, khik anak saleh sai ngedu’a ko ulun tuha ni.” (HR. Muslim)

    Minak Muakhi jamaah Jum’at rahimakumullah.

    Payu kham jadi ko dunia sa huma amal ibadah kham, dang jadi ko tujuan penghabisan.

    Gunako khatta guway bersedekah.

    Gunako jabatan guway nulung kaban jelema.

    Gunako umokh guway nge-nayahko ibadah.

    Ulah mahan kham haga di eppik ko

    Jabatan haga di cabuk

    Khatta haga di warisko

    Kaban sanak haga nerus ko lapahan hukhik ni.

    Tapi amal saleh sai haga ngejama’i kham dilom kubokh, di Padang Mahsyar, sappai Allah ngu-khuk ko kham guk delom surga jama Rahmat Ni.

    Minak Muakhi Jamaah Jum’at sai di rahmati Allah. Sekian khutbah sekanuwa di khani kebiyan sa, mudah-mudahan bermanfaat guway kham se-unyin ni. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.

    أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

    Aqūlu qawlī hādzā, wa astaghfirullāhal-‘Aẓīma lī wa lakum, fastaghfirūhu innahū huwal-Ghafūrur-Raḥīm.

    KHUTBAH KEDUA

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

    Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.

    أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

    Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

    اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

    I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

    Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

    Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.

    اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

    Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn

    اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

    Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.

    Ibadhallah…

    اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

    I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
    Editor Bahasa: H. SyahidanMh/Buay Sakti.

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Segubal dalam Tradisi Syukuran Adat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Segubal dalam Tradisi Syukuran Adat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami mewariskan sebuah falsafah yang hingga kini tetap terjaga. Di tanah Lampung yang subur, di antara pepohonan yang rimbun dan aliran sungai yang jernih, lahirlah sebuah tradisi kuliner yang tak sekadar mengenyangkan perut, melainkan juga menyejukkan jiwa. Tradisi itu bernama Segubal.

    Alkisah, di sebuah tiyuh (kampung adat) di daerah Lampung Tengah, hiduplah seorang tetua adat bernama Punyimbang Radin Jaya. Beliau dikenal sebagai sosok yang teguh memegang adat dan taat menjalankan syariat. Suatu hari, keluarga besar Radin Jaya hendak menggelar syukuran atas panen raya yang melimpah ruah. Namun, sang istri, wanita yang bijaksana, bertanya, “Apa yang akan kita sajikan untuk para tamu dan sanak saudara, agar hidangan ini tidak hanya mengenyangkan tetapi juga membawa doa dan berkah?”
    Punyimbang Radin Jaya pun merenung. Beliau teringat akan nasihat leluhurnya, bahwa makanan dalam syukuran bukanlah sekadar hidangan, melainkan lambang syukur dan penghormatan. Lalu, terpikir olehnya untuk menyajikan Segubal.
    Segubal adalah penganan dari beras ketan yang dimasak dengan santan kelapa, lalu dibungkus rapi dengan daun pisang dan diikat dengan tali dari serat alami. Bentuknya yang menggulung dan padat melambangkan kesatuan dan kekompakan. Setiap gulungannya seperti doa yang terkumpul, siap dipanjatkan kepada Allah atas segala nikmat kehidupan.

    Legenda Marga dan Filosofi Segubal
    Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, asal-usul Segubal tak lepas dari sejarah marga-marga besar di Lampung. Ada dua jurai utama yang mewarnai tanah ini: Saibatin dan Pepadun. Dalam manuskrip kuno Kitab Kuntara Raja Niti, disebutkan bahwa masyarakat Lampung sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Kitab yang diyakini sebagai pedoman adat ini memuat tata cara hidup yang harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

    Dalam salah satu bagian Kitab Kuntara Raja Niti, disebutkan: “Senang negeri: (1) Cawa sepuluh sudi cukup, (2) Muli meranai lamon sai ranta sapun, (3) Raji ni sabar, dan (4) Anak buwoh maka kakira.” Frasa ini mengajarkan bahwa di negeri yang damai, berbicara sepuluh kata sudah cukup (artinya menjaga lisan), para pemuda sopan santun, pemimpinnya sabar, dan warganya bijak dalam menggunakan harta.

    Kehadiran Segubal dalam setiap syukuran adalah manifestasi dari nilai-nilai itu. Bahan bakunya yang sederhana, ketan dan santan, mengingatkan kita pada pentingnya kesederhanaan.

    Proses pembuatannya yang memakan waktu hingga 10 jam, mulai dari merendam, mengukus, hingga membungkus dengan daun pisang, mengajarkan arti kesabaran dan ketekunan. Inilah yang disebut dengan “wat andah wat padah, khapa ulah khaya ulih”, hasil yang kita peroleh tergantung pada usaha yang kita lakukan.
    Resep dan Cara Menghidangkan Segubal
    Segubal bukanlah makanan yang dibuat dengan tergesa-gesa.

    Filosofi pembuatannya adalah tentang ketulusan. Menurut cerita Nenek Sekubal, seorang pembuat Segubal legendaris dari Bandarlampung, kunci kelezatan Segubal terletak pada ketelatenan. Beras ketan yang sudah dicuci bersih dikukus hingga setengah matang. Kemudian, santan kental dari kelapa tua disiramkan ke atas ketan sambil diaduk perlahan. Sedikit garam ditambahkan untuk memberi rasa gurih yang seimbang.
    Setelah tercampur rata, ketan dikukus kembali hingga matang sempurna. Adonan yang sudah pulen kemudian dicetak, biasanya dengan cetakan berbentuk bulat atau persegi panjang. Langkah selanjutnya adalah membungkusnya dengan daun pisang yang sudah dilayukan agar lentur. Setiap bungkusan diikat erat dengan tali, lalu direbus selama sekitar dua jam. Proses perebusan inilah yang membuat Segubal menjadi legit dan tahan lama.
    Segubal biasanya disajikan dengan lauk-pauk khas seperti rendang daging, gulai, opor ayam, atau serundeng. Dalam tradisi adat, Segubal sering menjadi sesan (buah tangan) saat acara manjau mengian, yaitu kunjungan pengantin pria ke rumah kerabat istrinya. Kehadirannya di meja makan tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menjadi simbol kehormatan. Jika Segubal tidak tersaji dalam acara besar, hal itu bisa menjadi aib atau setidaknya menjadi perbincangan.

    Makna Spiritual dan Nilai-Nilai Luhur.

    Orang Lampung mewarisi falsafah hidup yang disebut Piil Pesenggiri. Falsafah ini terdiri atas lima pilar utama yang sangat selaras dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila.
    Pertama, Pesenggiri, harga diri dan kehormatan. Dalam adat, menyajikan Segubal adalah bentuk menjaga kehormatan keluarga. Seperti tertulis dalam adat, orang Lampung memiliki “rasa malu” atau piil untuk berbuat hal yang tidak terpuji. Menghidangkan makanan terbaik untuk tamu adalah bagian dari menjaga marwah.
    Kedua, Juluk-Adok, gelar kehormatan. Setiap penyimbang adat memiliki gelar yang melekat pada identitasnya.

    Segubal yang disajikan dalam syukuran adalah bentuk penghormatan kepada para pemangku adat dan tamu undangan.
    Ketiga, Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Dalam tradisi Lampung, suka menerima dan memberi tamu adalah kewajiban. Segubal hadir sebagai wujud keramahan yang tulus. Sebuah keluarga yang tidak mampu menyajikan Segubal atau makanan layak dalam hajatan akan merasa kehilangan martabatnya.
    Keempat, Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi. Acara syukuran yang dihadiri oleh berbagai kalangan mencerminkan semangat kekeluargaan dan toleransi. Segubal menjadi pemersatu, tanpa memandang suku atau golongan. Ini sejalan dengan nilai musyawarah dan kebersamaan.
    Kelima, Sakai Sambayan, gotong royong. Membuat Segubal dalam jumlah besar untuk syukuran biasanya dikerjakan bersama-sama. Para tetangga dan sanak saudara bahu-membahu, mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi jiwa bangsa.
    Keselarasan dengan Syariat dan Nilai Kebangsaan
    Meski berakar pada tradisi leluhur, pelaksanaan syukuran adat dengan Segubal tetap berpegang pada syariat Islam. Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kuntara Raja Niti, hukum adat yang berlaku di Lampung bersumber pada tiga pokok: Igama (hukum agama), Dirgama (hati nurani), dan Karinah (sebab akibat). Dengan demikian, setiap upacara adat yang dilakukan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, ia menjadi wadah rasa syukur yang diwajibkan dalam agama.
    Nilai-nilai Pancasila pun terpancar dengan kuat. Sakai Sambayan adalah cermin sila kelima, keadilan sosial. Nengah Nyappur adalah cermin sila ketiga, persatuan Indonesia. Nemui Nyimah merefleksikan sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan demikian, Segubal bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan budaya yang memperkuat identitas kebangsaan.
    Kini, Segubal mulai langka. Generasi muda lebih memilih makanan instan. Namun, di balik gulungan daun pisang itu, terkandung pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan. Saat kita menyantap Segubal, kita tidak hanya mengunyah ketan dan santan, tetapi juga merasakan hangatnya tradisi dan doa nenek moyang. Inilah kekayaan budaya Lampung yang harus terus dijaga, agar tidak tergerus zaman.
    Mari kita lestarikan Segubal. Karena dalam setiap gigitannya, ada sejarah, ada harga diri, dan ada syukur kepada Allah.

    DAFTAR PUSTAKA
    1. Isbedy Stiawan ZS. (2014). Sekubal, Makanan Khas “Ulun” Lampung. Teraslampung.com.
    2. Hadikusuma, H. (1989). Adat Istiadat Daerah Lampung. (dalam sumber skripsi).
    3. Rizani Puspawidjaja. (2001). Falsafah Piil Pesenggiri. (dalam sumber skripsi).
    4. Meza Swastika & Dian Wahyu. (2013). Fokus Segubal Salah Satu Kue Piil. Lampung Post.
    5. Kuntara Raja Niti. Manuskrip kuno Lampung. (dalam sumber jurnal).

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • Khutbah Jum’at: Jangan Bangun Istana di Atas Bayangan. (Renungan dari Surat Al-Kahfi Ayat 45–46) Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    Khutbah Jum’at: Jangan Bangun Istana di Atas Bayangan. (Renungan dari Surat Al-Kahfi Ayat 45–46) Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Allah Ta’ala mengingatkan kita tentang hakikat dunia melalui banyak perumpamaan yang sangat indah, agar kita semakin bertakwa. Dalam kesempatan khutbah hari ini, kita akan membahas tema: “Jangan Bangun Istana di Atas Bayangan.
    (Renungan dari Surat Al-Kahfi Ayat 45–46).”

    KHUTBAH PERTAMA

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ. اَشْهَدُ اَنْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.

    Alhamdulillāhi naḥmaduhū, wa nasta‘īnuhū, wa nastaghfiruhū, wa na‘ūdhu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā. Man yahdihillāhu fa lā mudlilla lah, wa man yudhlilhu fa lā hādiya lah.
    Asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn.

    أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

    Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

    Amma ba’du.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik menuju kehidupan yang kekal.

    Allah Ta’ala mengingatkan kita tentang hakikat dunia melalui sebuah perumpamaan yang sangat indah.

    Allah berfirman:

    وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا ۝٤٥
    الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا ۝٤٦

    Waḍrib lahum matsalal-ḥayātid-dunyā kamā’in anzalnāhu minas-samā’i fakhtalaṭa bihī nabātul-arḍi fa aṣbaḥa hasyīman tażrūhur-riyāḥ, wa kānallāhu ‘alā kulli syai’in muqtadirā.

    Al-mālu wal-banūna zīnatul-ḥayātid-dunyā, wal-bāqiyātuṣ-ṣāliḥātu khairun ‘inda rabbika ṡawābaw wa khairun amalā.

    “Dan berilah mereka perumpamaan tentang kehidupan dunia. Dunia itu seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan suburnya karena air itu. Kemudian tanaman itu menjadi kering yang diterbangkan angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

    Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal saleh yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 45–46)

    Jamaah Jumat rahimakumullah,

    Perhatikanlah perumpamaan ini. Hujan turun dari langit. Tanah yang mati menjadi hidup. Pepohonan menghijau. Bunga bermekaran. Buah bergelantungan. Manusia pun terpesona oleh keindahannya.

    Namun tidak lama kemudian angin bertiup. Musim berganti. Daun mengering. Rumput menguning. Bunga berguguran. Semua keindahan itu lenyap seakan tidak pernah ada.

    Begitulah dunia.

    Hari ini kita sehat, esok bisa sakit. Hari ini kita dipuji, esok bisa dilupakan.

    Hari ini kita memiliki harta, esok harta itu berpindah kepada ahli waris.

    Hari ini anak-anak berada di sisi kita, esok mereka sibuk dengan kehidupan mereka sendiri.

    Karena itu Allah tidak mengatakan bahwa harta dan anak adalah tujuan hidup, tetapi hanya perhiasan kehidupan dunia.

    Perhiasan boleh dimiliki, tetapi jangan sampai menguasai hati.

    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

    Kun fid-dunyā ka’annaka gharībun aw ‘ābiru sabīl.

    “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Al-Bukhari)

    Seorang musafir tidak akan membangun istana di tempat persinggahannya. Ia hanya mengambil bekal secukupnya untuk melanjutkan perjalanan.

    Demikian pula kehidupan dunia. Jangan bangun istana di atas bayangan. Bangunlah kehidupan di atas amal saleh yang akan kekal hingga akhirat.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Bekal terbaik menuju akhirat bukanlah banyaknya harta, melainkan banyaknya amal saleh.

    Allah menyebutnya:

    وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ

    Wal-bāqiyātuṣ-ṣāliḥāt.

    “Amal-amal saleh yang kekal.”

    Satu sujud yang ikhlas lebih kekal daripada seribu tepuk tangan manusia.

    Satu sedekah yang tersembunyi lebih mulia daripada harta yang dipamerkan.

    Satu kalimat yang menenangkan hati saudara kita bisa lebih berat di timbangan amal daripada pidato yang panjang tetapi kehilangan keikhlasan.

    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    Idzā māta ibnu Ādama inqaṭa’a ‘amaluhu illā min ṡalāṡin: ṣadaqatin jāriyah, aw ‘ilmin yuntafa’u bih, aw waladin ṣāliḥin yad’ū lah.

    “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)

    Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

    Marilah kita menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tujuan akhir. Gunakan harta untuk bersedekah. Gunakan jabatan untuk menolong manusia. Gunakan usia untuk memperbanyak ibadah.

    Karena rumah akan kita tinggalkan. Jabatan akan dicabut. Harta akan diwariskan. Anak-anak akan melanjutkan kehidupan mereka.

    Namun amal saleh akan menemani kita di alam kubur, di Padang Mahsyar, hingga mengantarkan kita ke surga dengan rahmat Allah.

    أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

    KHUTBAH KEDUA

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

    Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.

    أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

    Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

    اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

    I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

    Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

    Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.

    اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

    Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn

    اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

    Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.

    Ibadhallah…

    اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُ كُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

    I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Wagub Jihan Dorong Kader Pramuka Jadi Agen Perubahan Melalui KPDK 2026

    Wagub Jihan Dorong Kader Pramuka Jadi Agen Perubahan Melalui KPDK 2026

    nataragung.id – Bandar Lampung – Wakil Gubernur Jihan Nurlela membuka kegiatan Kursus Pengelola Dewan Kerja (KPDK) Daerah Lampung Tahun 2026 bertempat di Ruang Abung Balai Keratun, Rabu (29/7/2026).

    KPDK merupakan jenjang sekolah atau pendidikan kepemimpinan tertinggi bagi para anggota pengelola dewan kerja di Gerakan Pramuka. Kegiatan ini dirancang khusus untuk membekali para kader muda dengan kemampuan manajerial organisasi dan kepemimpinan strategis.

    Ketua Dewan Kerja Daerah (DKD) Provinsi Lampung, Rohit dalam laporannya merincikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan selama lima hari hingga hari Minggu mendatang. Sebanyak 53 peserta pilihan turut serta dalam kegiatan ini, yang terdiri dari perwakilan unsur DKD Lampung serta utusan dari 13 Kwartir Cabang (Kwarcab) se-Provinsi Lampung.

    Pada kesempatan tersebut Wagub Jihan menyampaikan harapannya agar para peserta memanfaatkan momentum tersebut untuk menempa kualitas diri agar siap menjadi agen perubahan di daerahnya masing-masing.

    “Saya ingin melihat lahirnya kader-kader yang memiliki kompetensi, keunggulan, dan berdaya saing di segala sektor yang memang kita cita-citakan bersama” ujar Wagub Jihan.

    Prosesi pembukaan KPDK 2026 ini kemudian ditandai secara resmi dan simbolis melalui penyematan tanda peserta oleh Wagub Jihan Nurlela kepada perwakilan peserta kursus.

    Selanjutnya kegiatan pembukaan kursus dirangkai dengan peluncuran sebuah gagasan dan inovasi pergerakan dari DKD Lampung yang diberi nama program Garis Depan.

    Program Garis Depan dirumuskan sebagai rumah ideologi dan wadah konsolidasi terpusat bagi Pramuka Penegak dan Pandega se-Provinsi Lampung. Mengingat besarnya potensi sumber daya muda yang tercatat mencapai 120.000 anggota aktif pada aplikasi Ayo Pramuka, program ini hadir untuk mengakomodasi aspirasi, meningkatkan kemampuan kritis, serta menyatukan potensi kepemudaan agar dapat bersinergi dalam pembangunan daerah secara nyata.

    Berkenaan dengan fondasi program tersebut, Wagub Jihan menyampaikan pandangannya terkait makna kepemimpinan dan garis depan. Menurutnya, posisi di garis depan bukanlah sebatas mengejar jabatan formal, melainkan kesiapan untuk memberi dampak positif bagi sekitar.

    Mengakhiri sambutanya, Wagub Jihan berpesan agar seluruh kader Gerakan Pramuka di Provinsi Lampung, khususnya para pemuda yang tergabung dalam dewan kerja untuk terus memupuk integritas dan karakter moral yang luhur.

    “Tetaplah menjadi kader Pramuka yang rendah hati, santun dalam bertindak, cerdas dalam berpikir, dan berani dalam mengeksekusi kebaikan-kebaikan” pesannya. (*/SMh)

  • Pemprov Lampung Siapkan Langkah Strategis Perluas Investasi Ekonomi Sirkular ke Eropa

    Pemprov Lampung Siapkan Langkah Strategis Perluas Investasi Ekonomi Sirkular ke Eropa

    nataragung.id – Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat langkah menuju transformasi ekonomi hijau dengan membuka peluang kolaborasi internasional untuk mempercepat investasi dan hilirisasi ekonomi sirkular.

    Komitmen tersebut mengemuka saat Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menerima audiensi penyelenggara Indonesia Circular Innovation Forum (ICIF) – Netherlands Business Mission 2026 di Ruang Kerja Gubernur, Rabu (29/7/2026).

    Pertemuan tersebut membahas peluang menjadikan Provinsi Lampung sebagai Official Strategic Province Partner pada forum ekonomi sirkular yang akan digelar di Amsterdam, Belanda, pada 3–4 November 2026.

    Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Mirza menegaskan bahwa Lampung memiliki modal besar untuk menjadi pusat pengembangan industri hijau berbasis potensi lokal.

    Menurutnya, ketersediaan limbah pertanian seperti limbah sawit, sekam padi, limbah kopi, dan biomassa lainnya merupakan sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi baru.

    Ia juga menilai berbagai proyek pengembangan energi baru terbarukan dan industri hijau yang tengah berjalan akan menjadi fondasi penting bagi percepatan transformasi ekonomi Lampung dalam beberapa tahun mendatang.

    Gubernur Mirza juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan industri dan keberlanjutan sektor pertanian.

    Sementara itu, Project Director ICIF Rizky Diansyah menjelaskan bahwa forum tersebut dirancang bukan sekadar sebagai ajang pameran, melainkan menjadi wadah mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, investor, penyedia teknologi, hingga lembaga riset dari Indonesia dan Eropa.

    Menurutnya, Amsterdam dipilih karena merupakan salah satu pusat ekonomi sirkular dan pintu masuk strategis menuju pasar Eropa.

    “Melalui ICIF, kami ingin mempertemukan proyek-proyek strategis Lampung dengan investor dan penyedia teknologi dari Belanda maupun Eropa, sekaligus membangun kolaborasi riset, investasi, dan hilirisasi biomassa,” jelasnya.

    Rizky menambahkan bahwa penyelenggara menilai Lampung memiliki potensi besar untuk diposisikan sebagai Provinsi Biochar Indonesia karena kekayaan biomassa yang dimiliki serta komitmen pemerintah daerah dalam mendorong industri hijau dan ekonomi sirkular.

    Dalam forum tersebut nantinya, Provinsi Lampung berpeluang menampilkan berbagai potensi unggulan daerah melalui innovation showcase, business matching, diskusi investasi, hingga presentasi peluang investasi di hadapan investor Eropa.

    Selain itu, delegasi dari Lampung juga akan difasilitasi dalam pertemuan bisnis langsung dengan calon investor serta pendampingan aspek hukum dan investasi.

    ICIF sendiri mengusung tema “From Waste to Worth: Building the Future of Sustainable Industry Together” dengan fokus mempertemukan potensi ekonomi sirkular Indonesia dan tingginya kebutuhan investasi berkelanjutan di Eropa.

    Forum ini akan menghadirkan berbagai inovasi pada sektor biomassa, material hayati, kemasan berkelanjutan, produk daur ulang, pangan dan pertanian sirkular, material bangunan ramah lingkungan, hingga teknologi pengolahan limbah.

    Target utamanya ialah menghasilkan kemitraan bisnis dan investasi nyata sekaligus membuka akses perusahaan Indonesia ke pasar Eropa.

    Dalam diskusi tersebut, jajaran Pemerintah Provinsi Lampung juga menilai ICIF dapat menjadi momentum memperkuat branding Lampung sebagai Green Province, mengingat berbagai inisiatif pengembangan energi terbarukan, industri hijau, ekonomi sirkular, hingga pemanfaatan limbah pertanian yang tengah dikembangkan di daerah.

    Melalui sinergi dengan dunia usaha, UMKM, asosiasi industri, dan investor global, Pemerintah Provinsi Lampung berharap kolaborasi ini mampu mempercepat hilirisasi komoditas daerah, memperluas akses pasar internasional, serta menghadirkan investasi yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.(*/SMh)

  • Pemprov Lampung Dukung Penuh Pemberantasan Narkotika, Perkuat Sinergi Jaga Keamanan Lampung

    Pemprov Lampung Dukung Penuh Pemberantasan Narkotika, Perkuat Sinergi Jaga Keamanan Lampung

    nataragung.id – Bandar Lampung – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal menegaskan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Lampung terhadap langkah tegas aparat penegak hukum dalam memberantas peredaran gelap narkotika dan penyalahgunaan senjata api ilegal sebagai upaya menjaga keamanan daerah sekaligus melindungi generasi muda dari ancaman kejahatan narkotika.

    Hal tersebut ditunjukkan melalui kehadiran Gubernur pada kegiatan pemusnahan barang bukti narkotika dan senjata api ilegal yang digelar Polda Lampung di halaman Gedung Serbaguna Presisi Polda Lampung, Rabu (29/7/2026).

    Kegiatan tersebut dipimpin langsung Kapolda Lampung Irjen Pol. Helfi Assegaf, S.H., S.I.K., M.H., serta dihadiri Pangdam XII/Raden Intan Mayjen TNI Christomei Sianturi, unsur Forkopimda Provinsi Lampung, perwakilan Kejaksaan Tinggi, Pengadilan Tinggi, Badan Narkotika Nasional Provinsi Lampung, Bea Cukai, Balai Besar POM, Balai Karantina, serta para pejabat utama Polda Lampung.

    Kehadiran Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mencerminkan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam memperkuat sinergi bersama aparat penegak hukum untuk menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif.

    Dukungan tersebut juga sejalan dengan upaya menyelamatkan masyarakat, khususnya generasi muda, dari dampak buruk penyalahgunaan narkotika.

    Dalam sambutannya, Kapolda Lampung Irjen Pol. Helfi Assegaf menjelaskan bahwa secara geografis Provinsi Lampung memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa sehingga menjadi salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap lalu lintas dan peredaran gelap narkotika.

    “Situasi ini tidak bisa kita biarkan. Polda Lampung berkomitmen penuh mendukung program Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam memperkuat reformasi hukum dan pemberantasan narkotika. Narkoba adalah musuh bersama yang merusak masa depan generasi bangsa sehingga tidak boleh diberi ruang sedikit pun di Bumi Ruwa Jurai,” tegas Kapolda.

    Selain ancaman narkotika, Kapolda juga menyoroti masih maraknya tindak kejahatan konvensional, seperti pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, dan pencurian kendaraan bermotor yang kerap menggunakan senjata api rakitan.

    Karena itu, Polda Lampung terus mengedepankan langkah preemtif, preventif, dan represif, sekaligus mengajak masyarakat secara sukarela menyerahkan senjata api rakitan yang masih dimiliki agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

    Kapolda memaparkan, selama periode Januari hingga Juli 2026, Polda Lampung berhasil mengungkap 29 kasus tindak pidana narkotika dengan 35 orang tersangka.

    Barang bukti yang dimusnahkan meliputi 119,1 kilogram sabu, 58,2 kilogram ganja, 35.166 butir ekstasi, 19.996 butir pil happy five, 4.484 piece etomidad, serta 2.500 gram etomidad cair. Nilai ekonomis seluruh barang bukti tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp264,979 miliar.

    Menurut Kapolda, pemusnahan barang bukti tersebut diperkirakan telah menyelamatkan sekitar 829.264 jiwa dari ancaman penyalahgunaan narkotika. Seluruh barang bukti telah memperoleh penetapan dari Kejaksaan Negeri Bandar Lampung, Lampung Selatan, dan Tanggamus untuk dimusnahkan.

    Sementara itu, Polda Lampung bersama jajaran Polres juga menerima penyerahan secara sukarela sebanyak 166 pucuk senjata api rakitan beserta 114 butir amunisi dari masyarakat, yang terdiri atas 147 pucuk senjata api laras pendek rakitan dan 19 pucuk senjata api laras panjang rakitan.

    Kapolda mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat yang secara sukarela menyerahkan senjata api ilegal sebagai bentuk partisipasi aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Provinsi Lampung.

    Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan Aplikasi Siger Presisi maupun layanan Kepolisian 110 untuk melaporkan dugaan penyalahgunaan narkotika maupun kepemilikan senjata api ilegal.

    “Masyarakat tidak perlu menghadapi pelaku secara langsung. Cukup laporkan melalui aplikasi Siger Presisi atau layanan Kepolisian 110, selanjutnya petugas akan menindaklanjuti laporan tersebut secara profesional,” ujarnya.

    Usai konferensi pers, kegiatan dilanjutkan dengan pengujian sampel barang bukti narkotika, penandatanganan berita acara pemusnahan barang bukti narkotika dan senjata api ilegal, serta pemusnahan secara simbolis menggunakan mesin insinerator.

    Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal bersama Kapolda Lampung dan Pangdam XII/Raden Intan turut melakukan pemusnahan simbolis barang bukti narkotika menggunakan mesin insinerator.

    Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemusnahan senjata api ilegal hasil penyerahan masyarakat sebagai wujud komitmen bersama menciptakan Provinsi Lampung yang aman, tertib, serta bebas dari ancaman narkotika dan senjata api ilegal.

    Melalui sinergi yang terus diperkuat antara Pemerintah Provinsi Lampung, aparat penegak hukum, dan masyarakat, diharapkan upaya pemberantasan narkotika dan peredaran senjata api ilegal semakin efektif sehingga tercipta lingkungan yang aman dan mendukung terwujudnya Lampung Maju menuju Indonesia Emas 2045. (*/SMh)

  • Hari Anak Nasional 2026 Kabupaten Pesawaran: Perkuat Karakter Dan Perlindungan Anak Songsong Indonesia Emas 2045

    Hari Anak Nasional 2026 Kabupaten Pesawaran: Perkuat Karakter Dan Perlindungan Anak Songsong Indonesia Emas 2045

    nataragung.id – Pesawaran – Pemerintah Kabupaten Pesawaran memperingati Hari Anak Nasional ke-42 Tahun 2026 dengan tema “Sayangi Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan”. Kegiatan digelar di MTs Negeri 2 Pesawaran, Desa Gunung Rejo, Kecamatan Way Lima, pada Rabu (29/7/2026), dengan diisi oleh berbagai kegiatan edukatif, sosial, serta pertunjukan seni.

    Peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membentuk generasi yang berkarakter, berakhlak mulia, serta mendapatkan perlindungan dan pemenuhan hak secara optimal demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

    Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Pesawaran Antonius Muhammad Ali, S.H., didampingi Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sunyoto, S.E., M.M., Ketua TP PKK Kabupaten Pesawaran Cindy Aria Anton, S.E., M.M., Ketua Dharma Wanita Persatuan Mei Nurhayati Wildan, perwakilan instansi vertikal, jajaran kepala perangkat daerah terkait, para tenaga pendidik, orang tua, serta ratusan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan.

    Suasana peringatan Hari Anak Nasional berlangsung semarak melalui beragam penampilan seni dan kreativitas pelajar mulai dari tingkat TK, SD, SMP, MI, MTs, MIN, MAN hingga Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Kabupaten Pesawaran. Penampilan tersebut menjadi wujud apresiasi terhadap potensi, bakat, dan kreativitas anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.


    Dalam sambutannya, Wakil Bupati yang hadir mewakili Bupati Hj. Nanda Indira B., S.E.,M.M., menyampaikan bahwa peringatan Hari Anak Nasional hendaknya tidak dimaknai sebagai seremoni tahunan semata, melainkan menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak.

    “Anak bukan sekadar pelengkap dalam pembangunan, tetapi merupakan fondasi utama masa depan bangsa. Keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kualitas anak-anak yang kita bina hari ini,” ujarnya.

    Selain itu, upaya membangun generasi unggul lanjut Wabup, harus diawali dengan pembentukan karakter dan akhlak yang mulia. Selain dibekali ilmu pengetahuan, anak-anak juga perlu ditanamkan nilai-nilai kesopanan, penghormatan kepada orang tua dan guru, kepedulian terhadap sesama, serta semangat untuk terus berbuat kebaikan di lingkungan sekitarnya.

    “Kita ingin anak-anak kita bukan hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga memiliki adab dan akhlak yang baik. Hormati orang tua, hormati guru, sayangi teman, karena ilmu tanpa adab dan akhlak akan kehilangan maknanya,” katanya.

    Wabup juga mengajak para orang tua untuk terus menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk mental, karakter, dan kepribadian anak agar tumbuh menjadi generasi yang tangguh menghadapi tantangan zaman.


    Pada kesempatan tersebut, ia juga memberikan motivasi kepada anak-anak penyandang disabilitas agar tidak pernah ragu dalam meraih cita-cita.

    “Tidak ada yang tidak mungkin selama ada kemauan, semangat, dan kerja keras. Setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun bangsa,” pesannya.

    Rangkaian peringatan Hari Anak Nasional ke-42 di Kabupaten Pesawaran diisi dengan pemotongan tumpeng, penyaluran santunan kepada anak yatim piatu dan penyandang disabilitas, pemberian bantuan kepada keluarga berisiko stunting, pembacaan Suara Anak Indonesia, pertunjukan drama musikal, Tari Nusantara oleh SLB Sinar Hafizah, tari kreasi, serta ditutup dengan pembagian doorprize kepada para peserta. (*/Diah)

  • KUA-PPAS APBD 2027 Disepakati, Pemkab dan DPRD Lampung Selatan Perkuat Komitmen Pembangunan Daerah

    KUA-PPAS APBD 2027 Disepakati, Pemkab dan DPRD Lampung Selatan Perkuat Komitmen Pembangunan Daerah

    nataragung.id – Kalianda – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan bersama DPRD Kabupaten Lampung Selatan resmi menyepakati Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD Tahun Anggaran 2027.

    Kesepakatan tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat sinergi kedua lembaga untuk memastikan arah pembangunan daerah berjalan lebih terarah, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

    Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan bersama antara pimpinan DPRD dan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dalam Rapat Paripurna DPRD yang digelar di ruang sidang utama DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Rabu (29/7/2026).

    Rapat paripurna dipimpin Ketua DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Erma Yusneli, didampingi Wakil Ketua II DPRD A. Benny Raharjo. Turut hadir Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah Kabupaten, para kepala perangkat daerah, camat, serta tamu undangan lainnya.

    Ketua DPRD Lampung Selatan, Erma Yusneli, menjelaskan bahwa rapat paripurna tersebut merupakan tindak lanjut atas penyampaian rancangan KUA-PPAS APBD Tahun Anggaran 2027 yang sebelumnya telah disampaikan pemerintah daerah.

    Menurutnya, dokumen tersebut telah melalui pembahasan secara menyeluruh antara Badan Anggaran DPRD Kabupaten Lampung Selatan bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), disertai pendalaman terhadap program dan kegiatan oleh komisi-komisi DPRD bersama perangkat daerah sesuai bidang tugas masing-masing.

    “Badan Anggaran DPRD bersama TAPD Kabupaten Lampung Selatan telah membahas dan merumuskan KUA-PPAS Tahun Anggaran 2027, disertai pendalaman terhadap program dan kegiatan bersama dinas serta perangkat daerah,” ujar Erma.

    Dalam laporan Badan Anggaran DPRD disebutkan bahwa penyusunan KUA-PPAS APBD Tahun Anggaran 2027 dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi riil daerah, kebutuhan pembangunan, serta kemampuan keuangan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.

    Berdasarkan postur sementara APBD Tahun Anggaran 2027, Pendapatan Daerah direncanakan sebesar Rp2,111 triliun, sedangkan Belanja Daerah sebesar Rp2,113 triliun.

    Sementara itu, penerimaan pembiayaan daerah diproyeksikan mencapai Rp42,885 miliar, dengan pengeluaran pembiayaan sebesar Rp40,116 miliar. Dengan demikian, pembiayaan neto direncanakan sebesar Rp2,768 miliar, sehingga Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) ditargetkan sebesar nol rupiah.

    Selain menyetujui dokumen KUA-PPAS, Badan Anggaran DPRD juga memberikan sejumlah rekomendasi strategis kepada pemerintah daerah. Di antaranya mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui inovasi, digitalisasi pelayanan, penyempurnaan regulasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

    DPRD juga meminta pemerintah daerah meningkatkan alokasi belanja modal, terutama untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, pendidikan, dan kesehatan agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.

    Di sisi lain, pemerintah daerah didorong melakukan efisiensi terhadap belanja barang dan jasa yang belum menjadi prioritas, sehingga anggaran dapat dialihkan pada program-program yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

    Perhatian khusus juga diberikan terhadap penganggaran gaji dan honorarium Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu serta Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP), agar dapat diprioritaskan selama 12 bulan sesuai kemampuan keuangan daerah.

    Mewakili Bupati Lampung Selatan, Wakil Bupati M. Syaiful Anwar menyampaikan apresiasi kepada pimpinan, Badan Anggaran, dan seluruh anggota DPRD atas komitmen serta kerja sama yang terjalin selama proses pembahasan KUA-PPAS APBD Tahun Anggaran 2027.

    Menurutnya, dinamika pembahasan yang berlangsung secara terbuka, kritis, dan konstruktif mencerminkan kemitraan yang kuat antara pemerintah daerah dan DPRD dalam menghasilkan kebijakan anggaran yang berkualitas.

    “Penandatanganan ini bukan sekadar memenuhi tahapan dalam proses penganggaran, tetapi menjadi simbol komitmen bersama antara pemerintah daerah dan DPRD dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, serta berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Syaiful Anwar.

    Ia menegaskan bahwa seluruh masukan, rekomendasi, dan catatan strategis yang disampaikan selama proses pembahasan akan menjadi perhatian pemerintah daerah dalam penyempurnaan dokumen penganggaran.

    Usai penandatanganan nota kesepakatan tersebut, tahapan berikutnya adalah penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perangkat Daerah (RKA-PD) sebagai dasar penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Kabupaten Lampung Selatan Tahun Anggaran 2027.

    Untuk itu, Syaiful meminta seluruh perangkat daerah segera menyusun dokumen perencanaan dan penganggaran secara profesional, tepat waktu, dengan mengedepankan prinsip efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas.

    “APBD Tahun Anggaran 2027 diharapkan mampu memperkuat pelayanan publik, meningkatkan kualitas infrastruktur, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas kesempatan kerja, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju Lampung Selatan Maju,” ujarnya.

    Ia juga berharap sinergi antara pemerintah daerah dan DPRD terus diperkuat sehingga seluruh tahapan penyusunan APBD Kabupaten Lampung Selatan Tahun Anggaran 2027 dapat berjalan lancar, menghasilkan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

    Dalam rapat paripurna tersebut, pendapat Fraksi Partai Gerindra dibacakan oleh Sekretaris Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Edo Saputra Wijaya, dari podium ruang rapat paripurna.
    Sebelum menutup penyampaian pendapat fraksi, Edo turut mengucapkan selamat kepada Ketua DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Erma Yusneli, yang dijadwalkan dilantik sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lampung Selatan pada esok hari, Kamis 30 Juli 2026.

    “Selamat kepada Ibu Ketua DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Erma Yusneli, yang akan dilantik sebagai Ketua PMI Kabupaten Lampung Selatan. Semoga amanah baru ini semakin menambah wawasan, ilmu, dan pengalaman dalam berorganisasi, serta membawa PMI Lampung Selatan semakin maju dan bermanfaat bagi masyarakat,” ucap Edo dari mimbar DPRD Lampung Selatan. (mara-kmf)