Mudik dan Solidaritas Sosial. Oleh : Gunawan Handoko *)

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Budaya mudik di Indonesia secara sosiologis telah identik dengan lebaran Idul Fitri yang berfungsi sebagai pelestari identitas kaum muslim untuk saling bermaafan, sekaligus menjadi alternatif untuk melepas kerinduan tentang masa-masa awal membangun jati diri di daerah asal. Inilah salah satu budaya asli bangsa Indonesia yang tidak akan dapat ditemui di belahan negara manapun, termasuk tradisi halalbihalal atau saling memaafkan.

Mudik merupakan kearifan lokal yang sengaja diciptakan para pendahulu atau para wali untuk membuat tradisi setelah berakhirnya bulan Ramadhan dengan mengadakan acara halalbihalal sesama warga masyarakat. Para wali berkeyakinan bahwa acara tersebut dapat menjadi resolusi konflik antar umat yang di masa lalu sering terjadi. Dalam nalar sadar, sampai kapanpun tidak akan pernah mendapatkan jawaban pasti atas pertanyaan mengapa harus mudik, termasuk pertanyaan mengapa harus dilakukan serentak pada perayaan Idul Fitri. Bukankah masih banyak waktu lain kalau hanya sekedar untuk ’sungkem’ dan meminta maaf kepada orang tua dan sanak keluarga. Selain harus menempuh perjalanan yang jauh dan terjebak kemacetan, resiko kecelakaan pun setiap saat mengintai. Yang pasti para pemudik harus rela mengeluarkan uang tabungannya yang diperoleh dengan susah payah selama minimal satu tahun, bahkan bisa lebih.

Lantas apa yang sebenarnya dicari? Semua mengakui bahwa kegiatan mudik dapat dianggap sebagai aktivitas sosial yang negatif, tidak produktif dan hanya menghambur-hamburkan biaya, baik bagi pemudik sendiri maupun Pemerintah yang bertugas menangani masalah ketertiban, keamanan dan pelayanan publik. Mereka harus bekerja ekstra keras untuk menghadapi fenomena tahunan ini. Namun ada penafsiran lain yang menilai bahwa aktivitas mudik merupakan jihad yang hal tersebut mendapat legitimasi dalam perspektif teologi, meski banyak pihak yang menganggap sebagai hal yang mengada-ada. Profesor Quraish Shihab menafsirkan bahwa yang dimaksud jihad adalah upaya pengerahan totalitas seseorang untuk kebaikan, maka mudik menjadi media jihad yang lebih emansipatoris, berpihak pada berbagai upaya trasformasi individu dan sosial dalam tiga cara pandang.

Baca Juga :  Demokrasi Dalam Bayang-Bayang Politik Dinasti. Oleh : Gunawan Handoko *)

Pertama, pemudik menganggap bahwa langkahnya tersebut sebagai sebuah kewajiban untuk berterimakasih dalam menjalani perjalanan hidup. Artinya, mudik bukan sekedar bertemu orang tua dan keluarga, tetapi fitrah untuk mengingat kembali darimana asal sebelum mendapatkan kehidupan. Mudik akan menyadarkan bahwa selain kepada Allah, kepada orang tua pun wajib berterimakasih karena telah memberikan kehidupan melalui jerih payahnya dalam membekali potensi dirinya, sehingga mampu meraih sumber kehidupan masa depannya. Tidak salah memang, karena ajaran Islam menempatkan posisi orang tua persis dibawah Allah.

Secara fungsional agama Islam mengatur penghambaan manusia terhadap Allah dan penghormatan manusiawinya dimanifestasikan terhadap orang tua. Setiap anak diwajibkan untuk senantiasa sayang dan berterimakasih dengan cara mendoakan kebaikan terhadap orang tua. Kedua, mudik bisa berarti mengenang kembali kepada tempat tanah kelahiran atau ibu bumi. Walisongo dalam dahwahnya tentang ibu bumi dikembangkan menjadi rumusan bahwa cinta Tanah Air merupakan bagian dari iman. Dalam konsep ini, kecintaan kepada daerah dan bangsa dimanifestasikan sebagai etos dan kekuatan yang akan digunakan untuk menolak ancaman yang datang dari luar, sehingga antara satu daerah dengan daerah yang lain dapat saling menguatkan. Diyakini bahwa para pemudik akan merasakan beban psikologis manakala menyaksikan kondisi daerah asal yang serba kekurangan sehingga merasa terpanggil untuk ikut membantu pembangunan daerah berdasarkan karakteristik wilayah dan kultur masyarakat lokal sesuai pengalaman yang diperoleh di perantauan. Ketiga, mudik menjadi upaya untuk mengembalikan fungsi transformasi agama secara praksis.

Baca Juga :  Chiki Dicopot, Ditarik Kembali, Lalu Memilih Perg

Menurut Clifford Geerts, agama bukanlah sesuatu yang tunggal, namun terkepung dalam realitas obyektif yang sangat memengaruhi, baik interpretasi maupun aktivitasnya. Untuk itu mudik sebagai media untuk melakukan kritik kebudayaan atau sebagai bentuk pemusnah budaya yang destruktif di daerah, setelah mengalami pertarungan psikologis dan sosiologis humanistik di perkotaan. Dengan demikian, kiranya akan sangat produktif apabila mudik juga dikampanyekan sebagai wahana jihad untuk melawan kebodohan, kesenjangan, kemiskinan dan kerawanan sosial. Karena sesungguhnya berbagai alternatif atas permasalahan tersebut adalah dengan menumbuhkan rasa kebersamaan dan adanya transfer pengalaman serta kesetiakawanan sosial masyarakat yang tentunya dapat didorong oleh para pemudik yang telah berinteraksi dengan kemajuan jaman di perantauan. Mudik adalah kembali merenungi asal muasal kehidupan, sehingga dapat melahirkan kearifan sosial dan lingkungan, mendukung perlindungan alam sehingga terjadi keseimbangan hidup yang harmonis. Kesemuanya akan berujung pada kepuasan untuk membahagiakan orang lain dengan langkah praksis transformasi fungsi etis agama, sehingga muncullah jawaban bahwa yang dicari para pemudik adalah nilai spiritualitas untuk menegakkan prinsip-prinsip keadilan.

Baca Juga :  Asa Yang Hilang Ditengah Gegap Gempita, Terkait Pelantikan JPTP. Catatan Lepas SyahidanMh *)

Hari ini bangsa Indonesia memang masih sangat membutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki jiwa pengorbanan dalam mempercepat pengentasan permasalahan sosial. Semoga budaya mudik tetap dalam bingkai kepedulian dan solidaritas sosial, tanpa ada muatan untuk tujuan pragmatisme individual dengan menunjukkan jatidiri dan status sosial pemudik, berkaitan dengan prestasi, jabatan, gelar, kendaraan, harta dan label materi lainnya. Sifat itulah yang tidak jarang ikut hadir sebagai bagian yang mendorong dan memperkuat alasan mengapa harus mudik.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijjriah, Taqobbalallahu minna wa minkum taqabbal Ya Kariim. ***

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial Kemasyarakatan, Tinggal di Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini