nataragung.id, Bandar Lampung — Ketua Umum DPP Bela Budaya Nusantara angkat suara keras atas munculnya grup Facebook “Fantasi Sedarah”. Bukan sekadar menyimpang, keberadaan grup ini dinilai sebagai penghinaan terang-terangan terhadap martabat budaya bangsa.
“Ini bukan cuma soal moral pribadi, tapi bentuk paling vulgar dari dekadensi budaya yang merusak fondasi peradaban kita,” tegasnya.
Dalam setiap budaya di Nusantara — Jawa, Batak, Minang, Bugis, Lampung, Bali, hingga Papua — keluarga adalah ruang sakral. Ikatan darah dimuliakan, bukan dijadikan objek fantasi seksual menyimpang. “Saat ruang suci itu dilacurkan, maka yang dihina bukan hanya adat, tapi identitas kita sebagai bangsa berbudaya.”
Grup-grup seperti ini, menurutnya, adalah produk dari kebebasan digital yang kebablasan. “Budaya asing yang permisif telah meracuni ruang digital kita. Jika dibiarkan, ini akan menjadi bom waktu bagi keruntuhan moral generasi,” tambahnya.
Bela Budaya Nusantara menyerukan perlawanan kolektif dari seluruh elemen bangsa — tokoh adat, tokoh agama, pendidik, dan masyarakat luas — untuk melawan penyimpangan ini dengan penguatan nilai-nilai budaya dan edukasi moral berbasis kearifan lokal.
“Kami mendesak pemerintah, terutama Kominfo, agar bertindak tegas. Media sosial bukan tempat berkembang biaknya hasrat gelap, tapi seharusnya jadi wadah edukasi dan pelestarian nilai.”
Ia menutup dengan peringatan keras: “Menyelamatkan budaya adalah menyelamatkan masa depan. Jangan tunggu sampai rasa malu benar-benar terkubur di tanah air sendiri.”
Editor : Muhammad Arya

