Dua Wajah Cina dalam Geopolitik Global. Oleh: M. Habib Purnomo *)

0

nagatagung.id – BANDAR LAMPUNG – Dalam konteks geopolitik global, istilah “Cina” sebenarnya mencakup dua entitas berbeda: Cina Daratan (Tiongkok) dan Cina Perantauan, khususnya yang terwakili oleh Singapura dan Taiwan. Keduanya memainkan peran penting, namun bertolak belakang dalam dinamika kekuatan dunia.

1. Cina Daratan (Tiongkok): Penantang Hegemoni Amerika
Tiongkok saat ini menjelma menjadi kekuatan ekonomi dan militer besar dunia, sebuah superpower baru yang secara langsung menantang dominasi Amerika Serikat, baik dalam bidang ekonomi maupun politik global.

Dalam hampir setiap panggung internasional yang dimasuki Amerika, Tiongkok juga turut bermain. Ketegangan dan rivalitas keduanya terjadi di berbagai belahan dunia:

Baca Juga :  Peringti HSP- 17 Personel Polresta Bandar Lampung Mendapat Penghargaan. MAJALAH NATAR AGUNG

Afghanistan: Ketika Taliban meminta kerja sama Tiongkok, kehadiran Tiongkok menjadi faktor yang mempercepat keluarnya pasukan Amerika dan sekutunya dari wilayah tersebut.

Selama pendudukan Afghanistan, wilayah itu sempat dimanfaatkan oleh Amerika untuk melatih kelompok separatis Uighur yang berseberangan dengan pemerintah Tiongkok.

Asia Selatan: Ketika Amerika mendekat ke India untuk memantau dan menekan Tiongkok dari arah selatan, Tiongkok merespons dengan mempererat hubungan strategisnya dengan Pakistan—musuh historis India.

Ukraina dan Rusia: Saat Amerika dan sekutunya menjadikan Ukraina sebagai pangkalan geopolitik untuk melemahkan Moskow, Tiongkok memberikan dukungan strategis kepada Rusia dalam menghadapi NATO di perang Ukraina.

Baca Juga :  Dinamika Hubungan Gus Dur dan Soeharto. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Iran dan Timur Tengah: Ketika Amerika mendukung Israel dalam agresinya terhadap Iran, Tiongkok bersama Rusia, dua negara dengan kemampuan nuklir, menyatakan dukungan terbuka terhadap Iran sebagai bentuk perimbangan kekuatan.

2. Cina Perantauan: Mitra Strategis Amerika
Berbeda dari Cina Daratan, Singapura dan Taiwan yang didominasi oleh etnis Tionghoa, justru menjadi sekutu dan mitra strategis Amerika Serikat dalam berbagai bidang, terutama ekonomi dan keamanan regional.

Kedua negara ini berfungsi sebagai basis strategis bagi Amerika di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Taiwan bahkan menjadi titik panas tersendiri. Jika suatu saat Tiongkok dianggap terlalu mengganggu kepentingan Amerika di berbagai front internasional, bukan tidak mungkin Amerika akan memprovokasi Tiongkok untuk menyerang Taiwan, seperti yang terjadi pada invasi Rusia ke Ukraina.

Baca Juga :  Bang Gatro: Isra Mi’raj Adalah Seruan Langit untuk Bangkitkan Iman dan Nurani Umat

Dengan skenario tersebut, Amerika akan memiliki alasan kuat untuk menyerang Tiongkok atas nama “membela Taiwan”, sekaligus membuat Tiongkok sibuk dengan konflik internalnya sendiri, sehingga tidak lagi mampu membantu negara-negara sekutunya yang sedang berhadapan dengan Barat. ***

*) Penulis adalah Aktivis NU Lampung, tinggal di Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini