Dengan Semangat Piil Pesenggiri, Kita Wujudkan Indonesia Maju, Berdaulat, dan Bermartabat Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Suara genderang menggemuruh, membelah pagi yang masih diselimuti kabut tipis di kaki Gunung Pesagi. Di tepian Way Rarem yang jernih, tetua adat mengenakan tapis bersulam benang emas memimpin sekapur sirih, mengawali ritual yang telah berurat berakar sejak zaman nenek moyang. Inilah denyut nadi Lampung, sebuah peradaban yang tumbuh subur di ujung selatan Sumatera, menyimpan mutiara kearifan bernama Piil Pesenggiri.

Filosofi hidup yang menjadi jiwa masyarakat ini – merangkum Harga Diri (Juluk Adok), Kejujuran (Nemui Nyimah), Kesetiaan (Nengah Nyappur), dan Kebijaksanaan (Sakhi/Sakukhu) – bukan sekadar adat, melainkan landasan moral yang kokoh. Di ambang peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2025, semangat Piil Pesenggiri ini menjadi lentera terang untuk mewujudkan cita-cita Indonesia: Maju, Berdaulat, dan Bermartabat.

Akarnya menghunjam dalam, jauh sebelum Indonesia merdeka. Sejarah mencatat, seperti dalam Prasasti Hujung Langit (Abad IX) dan Prasasti Bawang (Abad X), kerajaan-kerajaan kuno di Lampung seperti Sekala Brak telah menunjukkan tata kelola yang mencerminkan prinsip Piil Pesenggiri.

Juluk Adok, harga diri, bukan berarti kesombongan, melainkan kesadaran akan identitas dan kewajiban menjaga nama baik diri, keluarga, dan masyarakat. Lihatlah kegigihan Radin Inten II (1834-1856), putra Lampung yang dengan gagah berani mempertahankan kedaulatan wilayahnya melawan penjajah Belanda. Perlawanannya adalah manifestasi harga diri kolektif, menolak ditindas dan dipermalukan.

Nemui Nyimah, kejujuran dan keterbukaan, menjadi prinsip dalam interaksi sosial dan pemerintahan adat. Sistem musyawarah (beguai jejama) yang panjang dan penuh kesabaran untuk mencapai mufakat, mencerminkan kejujuran dalam menyampaikan pendapat dan menerima kebenaran.

Kemudian, Nengah Nyappur, kesetiaan dan keterbukaan untuk bersosialisasi. Masyarakat Lampung dikenal ramah dan terbuka terhadap pendatang, seperti tergambar dalam tradisi cangget, pertemuan adat besar yang merayakan persatuan dan silaturahmi. Namun, kesetiaan ini bukan tanpa batas. Kesetiaan tertinggi adalah pada kebenaran dan keadilan. Prinsip inilah yang mengilhami semangat persatuan melawan penjajahan dan kini, semangat menjaga keutuhan NKRI.

Baca Juga :  Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Senerus Saat Ini Buku – 4 Kisah-kisah nyata dan lisan Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Terakhir, Sakukhu/Sakhi, kebijaksanaan dan kearifan dalam bertindak. Kearifan lokal dalam mengelola alam, seperti sistem repong damar (hutan karet) yang lestari, atau aturan adat menjaga sungai dan hutan (rimba larangan), menunjukkan kebijaksanaan hidup selaras dengan lingkungan. Dalam konteks berbangsa, kebijaksanaan ini berarti berpikir jernih, panjang, dan bertanggung jawab dalam setiap kebijakan dan tindakan.

Lantas, bagaimana mutiara kearifan dari Lampung ini mengisi kemerdekaan Indonesia ke-80 di tahun 2025 menuju Indonesia Maju, Berdaulat, dan Bermartabat?
1. Juluk Adok untuk Indonesia Bermartabat: Di pentas global, Indonesia harus berdiri tegak dengan identitas dan harga dirinya. Ini berarti menolak segala bentuk intervensi asing yang merendahkan kedaulatan, sekaligus bangga mempromosikan kekayaan budaya dan prestasi bangsa. Dalam negeri, Juluk Adok mendorong setiap warga, terutama pemimpin, untuk menjaga integritas, bekerja keras, dan berprestasi demi nama baik bangsa. Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah pengkhianatan terhadap harga diri bangsa. Membangun martabat berarti memastikan keadilan sosial, penghormatan HAM, dan kesejahteraan yang merata, sehingga setiap rakyat Indonesia bisa hidup dengan bermartabat.
2. Nemui Nyimah untuk Indonesia Berdaulat: Kedaulatan suatu bangsa dibangun di atas pondasi kejujuran dan transparansi. Nemui Nyimah mengajarkan kejujuran dalam setiap lini kehidupan berbangsa. Pemerintah harus transparan dalam pengelolaan sumber daya alam dan anggaran negara. Penegakan hukum harus adil dan tanpa tebang pilih, mencerminkan kejujuran sistem. Masyarakat didorong untuk jujur dalam berusaha, membayar pajak, dan berpartisipasi dalam pengawasan pembangunan. Kejujuran memupuk kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal utama untuk menjaga kedaulatan dari ancaman korupsi, disintegrasi, dan pengaruh asing yang merusak.
3. Nengah Nyappur untuk Persatuan dalam Kemajuan: Indonesia adalah mozaik indah. Nengah Nyappur, semangat kesetiaan pada bangsa dan keterbukaan bersosialisasi, adalah perekatnya. Di era kemajuan, kesetiaan ini berarti setia pada Pancasila dan UUD 1945, setia pada perbedaan yang menyatu dalam Bhinneka Tunggal Ika. Semangat ini mendorong kolaborasi, gotong royong lintas suku, agama, dan golongan untuk membangun negeri. Keterbukaan menerima inovasi dan kemajuan teknologi dari luar harus diimbangi dengan kesetiaan memfilter nilai-nilai yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Persatuan yang kokoh adalah syarat mutlak bagi Indonesia untuk maju secara berkelanjutan.
4. Sakukhu/Sakhi untuk Indonesia Maju yang Bijaksana: Kemajuan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi tinggi atau gedung pencakar langit. Sakukhu/Sakhi menekankan kebijaksanaan. Indonesia maju harus dibangun dengan arif, berkelanjutan, dan berkeadilan. Pembangunan infrastruktur harus mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial. Eksploitasi sumber daya alam harus bijak, memikirkan generasi mendatang. Kebijakan ekonomi harus adil, tidak mengorbankan rakyat kecil. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus diarahkan untuk memecahkan masalah bangsa dan meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia secara menyeluruh, bukan sekadar mengejar gengsi. Bijaksana juga berarti memilih pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan berpikiran jauh ke depan.

Baca Juga :  Pangeran Negeri Besar. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Menyambut Hari Kemerdekaan ke-80, marilah kita jadikan semangat Piil Pesenggiri bukan hanya sebagai warisan budaya Lampung yang membanggakan, tetapi sebagai kompas moral kolektif bangsa Indonesia. Filosofi yang teruji waktu ini menawarkan solusi konkret: membangun martabat dengan integritas (Juluk Adok), menegakkan kedaulatan dengan kejujuran (Nemui Nyimah), mengokohkan persatuan untuk kemajuan dengan kesetiaan dan keterbukaan (Nengah Nyappur), serta mewujudkan kemajuan yang berkelanjutan dan berkeadilan dengan kebijaksanaan (Sakukhu/Sakhi).

Baca Juga :  Piil Pesenggiri di Tengah Gempuran Materialisme, Bisakah Martabat Bertahan? Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dengan menghidupkan kembali dan mempraktikkan nilai-nilai luhur ini dalam keseharian bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kita bersama-sama mengukir babak baru Indonesia. Sebuah Indonesia yang bukan hanya merdeka secara politik, tetapi benar-benar Maju dengan inovasi dan kesejahteraan, Berdaulat penuh atas tanah air dan masa depannya, serta Bermartabat tinggi di hadapan diri sendiri dan dunia. Semangat Piil Pesenggiri adalah api yang terus menyala, menerangi jalan kita menuju Indonesia yang dicita-citakan: Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo. Dirgahayu Indonesiaku! Merdeka!

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Djausal, Anshori. (2010). Piil Pesenggiri: Ajaran Hidup Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press. (Buku Fisik/Digital – Penerbit Universitas).
2. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju. (Buku Fisik).
3. Tim Penyusun. (2017). Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945: Latar Belakang, Proses, dan Hasil Pembahasan 1999-2002, Buku IX: Wilayah Negara dan Warga Negara serta Hak Asasi Manusia. Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. (Buku Digital – Situs Resmi MKRI).
4. Junus, Umar. (1984). Mitologi dan Religi di Indonesia: Beberapa Analisa. Jakarta: Balai Pustaka. (Buku Fisik – Membahas nilai budaya lokal termasuk potensi nilai Lampung).
Jurnal Ilmiah: Artikel-artikel terkait Piil Pesenggiri dan Budaya Lampung dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Universitas Lampung atau Jurnal Antropologi Indonesia UI, yang dapat diakses melalui portal jurnal online terverifikasi (Digital). <=>

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini