nataragung.id – Bandar Lampung – Konon, dalam lembaran kitab Kuntara Raja Niti yang berusia ratusan tahun, terkisah tentang Sang Puyang, leluhur pertama masyarakat Lampung. Beliau melakukan perjalanan panjang menyusuri tepian Way Rarem, tempat beliau bertemu dengan kelompok perantau dari dataran tinggi. Meski berbeda bahasa dan adat, Sang Puyang menyambut mereka dengan membagi persediaan makanannya yang terakhir, menawarkan tempat bernaung, dan memperlakukan mereka layaknya keluarga. Peristiwa ini melahirkan prinsip “Nemui Nyimah” – sebuah falsafah hidup untuk senantiasa membuka pintu dan berbagi dengan sesama, karena keramahan adalah cerminan jiwa yang mulia.
Wana Kerta, yang biasanya damai, gempar oleh sebuah kabar. Sebuah keluarga dari wilayah lain, keluarga Salim, telah tiba dan menetap di sebuah pondok sederhana di ujung kampung. Mereka bukan orang Lampung asli. Bapak Salim, seorang tukang kayu, dikabarkan mengungsi dari daerah asalnya setelah lahannya terdampak erupsi.
Sinta, yang kini semakin aktif dalam kegiatan pemuda kampung, mendengar bisik-bisik yang mengkhawatirkan. “Mereka bukan orang sini, bagaimana dengan adat kita?” ujar Rio, seorang pemuda yang keras kepala. “Jangan-jangan mereka membawa pengaruh yang tidak baik.”
Ketakutan akan hal asing dan kecemasan bahwa sumber daya desa akan terkuras mulai menyebar, bagai kabut tebal yang menutupi keramahan warga Wana Kerta.
Sinta teringat akan wejangan Da Inah, neneknya, tentang falsafah hidup mereka. “Nemui Nyimah, Nduk,” kata Da Inah suatu kali sambil merajut tikar. “Bukan sekadar menerima tamu, tapi juga tentang nyappur muaq, nengah nyepur – bersedia berbaur dan berada di tengah-tengah dengan hati yang tulus.” Bagi Sinta, keluarga Salim adalah tamu yang butuh disambut, bukan diusir.
Untuk memperkuat keyakinannya, Sinta kembali membuka Kitab Kuntara Raja Niti. Ia menemukan sebuah pasal yang secara gamblang menjelaskan kewajiban moral ini.
“Tamu adalah utusan Yang Maha Kuasa. Barang siapa menolaknya, maka ia menolak rezeki dan berkah. Nemui Nyimah itu ialah bejuluk beadek, sakai sambayan – saling mengangkat derajat dan saling membantu dalam suka dan duka.”
Kutipan ini menjadi pencerahan baginya. Nemui Nyimah bukan hanya tentang sikap ramah yang pasif, melainkan sebuah tindakan aktif untuk mengangkat harkat dan martabat orang lain, serta membangun sebuah komunitas yang saling menopang. Menolak keluarga Salim justru bertentangan dengan inti sari ajaran leluhur mereka sendiri.
Ia juga menemukan sebuah legenda tentang marga mereka, Pubian.
Diceritakan bahwa nenek moyang mereka, Pangeran Sindu Wangsa, dikenal karena keramahannya. Suatu ketika, seorang pedagang asing yang tersesat dan sakit diterimanya di rumah, dirawat hingga sembuh, dan bahkan diberi bekal untuk melanjutkan perjalanan. Sebagai balasannya, si pedagang mengajarkan keterampilan baru dalam bercocok tanam lada yang kemudian membuat kemakmuran marga Pubian meningkat.
Legenda ini mengajarkan bahwa keramahan seringkali berbalas kebaikan yang tak terduga.
Ketegangan memuncak ketika sejumlah warga mengusulkan untuk mengadakan sidang adat guna membahas “masalah pendatang” ini. Di balai pertemuan, suara-suara keras saling bersahutan. Sinta, yang biasanya diam, memberanikan diri untuk berbicara. Jantungnya berdebar kencang, tetapi keyakinannya kuat.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang saya hormati,” awalnya dengan suara sedikit gemetar, namun semakin lantang. “Kita sering berbicara tentang Piil Pesenggiri, tentang harga diri. Bukankah harga diri kita justru tercermin dari bagaimana kita memperlakukan orang yang lemah dan membutuhkan? Bukankah menutup pintu bagi saudara kita sendiri justru akan ngejunai juluk adek – menjatuhkan nama baik kita sendiri?”
Ia kemudian mengutip wejangan dari kitab kuno tersebut. “Kitab Kuntara mengajarkan, ‘Nemui Nyimah nengah nyappur, makna ngehimpun khayat sejagat.’ Artinya, dengan keramahan dan kesediaan berbaur, kita sejatinya sedang mengumpulkan kebaikan dari seluruh penjuru dunia. Keluarga Salim mungkin berbeda asal, tetapi mereka datang dengan tangan terbuka, mencari kehidupan yang lebih baik. Mari kita sambut mereka sebagaimana nenek moyang kita menyambut setiap tamu dengan hati yang lapang.”
Suasana hening sejenak. Perkataan Sinta, yang disampaikan dengan ketulusan dan disertai dalil yang kuat, menyentuh hati banyak orang. Tetua adat, Pak Rio, yang awalnya ragu, kini mengangguk pelan. Ia teringat pada ajaran ayahnya dahulu.
Sebagai bentuk nyata dari penerapan Nemui Nyimah, Sinta bersama para pemuda lainnya mengusulkan untuk mengadakan acara “Sekapur Sirih” sebagai penyambutan resmi bagi keluarga Salim.
Ritual adat ini bukan sekadar formalitas. Setiap unsurnya memiliki makna filosofis yang dalam.
Daun sirih yang disusun rapi dalam tepak melambangkan hati yang bersih dan tulus. Kapur melambangkan keteguhan hati. Gambir melambangkan ketulusan, dan pinang yang keras kulitnya tetapi manis isinya, melambangkan bahwa persahabatan sejati mampu menembus segala perbedaan untuk menemukan kebaikan di dalamnya.
Saat Bapak Salim dan istrinya dengan haru menerima tepak sirih yang disodorkan oleh tetua adat, sebuah keharuan menyelimuti balai pertemuan. Mereka kemudian diajak untuk menikmati hidangan gangan (gulai) dan seruit (masakan khas Lampung) yang dimasak secara gotong royong oleh ibu-ibu Wana Kerta.
Acara makan bersama ini adalah puncak dari Nemui Nyimah, di mana perbedaan duduk bersama, berbagi suapan nasi yang sama, menyatukan hati sebagai satu keluarga besar.
Beberapa bulan kemudian, Wana Kerta kembali damai, tetapi dengan warna yang lebih kaya. Bapak Salim, dengan keahliannya, membuka bengkel kayu kecil dan bahkan mengajarkan keterampilan barunya kepada pemuda-pemuda setempat. Istrinya, seorang yang pandai menjahit, membantu ibu-ibu memperbaiki pakaian. Anak mereka bermain dan belajar bersama anak-anak lainnya.
Sinta memandang pemandangan itu dengan senyum lega. Nemui Nyimah telah membuktikan kekuatannya. Ia bukan sekadar kata-kata usang dalam kitab kuno, melainkan sebuah nilai hidup yang mampu membangun jembatan antarbudaya dan merawat harmoni.
Konflik yang awalnya dipicu oleh ketakutan, berhasil diatasi dengan membuka hati dan kesediaan untuk berbagi.
Da Inah, di samping Sinta, berbisik lembut, “Lihatlah, Nduk. Nemui Nyimah itu bagai Siger kita. Siger yang indah dipandang karena susunan warnanya yang berbeda-beda, namun tetap menyatu dalam satu mahkota yang agung. Perbedaan itu indah, selama kita memiliki hati untuk menyambutnya.”
Peristiwa ini mengajarkan pada Sinta dan seluruh warga Wana Kerta bahwa jati diri sebagai orang Lampung tidak luntur karena membuka diri, justru semakin kuat karena mampu merangkul. Nemui Nyimah adalah titian, jembatan yang menghubungkan hati ke hati, dari Wana Kerta menuju “Bumi Serambi” yang lebih luas, sebuah sebutan untuk Lampung yang berarti tanah yang ramah dan terbuka bagi semua.
Nilai spiritual dari Nemui Nyimah terletak pada pengakuan bahwa setiap manusia adalah saudara, dan bahwa rezeki serta kebaikan seringkali datang melalui cara-cara yang tak terduga, melalui tangan-tangan orang asing yang kemudian menjadi keluarga. Dengan mempraktikkan Nemui Nyimah, mereka tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merawat kemanusiaan itu sendiri, menjadikan Siger kebanggaan mereka bukan hanya emas yang berkilau, tetapi juga hati yang bersinar menerima perbedaan.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno).
3. Suhardi, M. dkk. (2008). Kearifan Lokal Masyarakat Adat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

