nataragung.id – Bandar Lampung – Di musim tanam padi raya sekarang ini, setiap jam 05.00 WIB pagi, masih gelap, tapi jalan-jalan di desa sudah ramai oleh para tim pemborong tanam padi (rombongan 5 sampai 10 orang). Di iringi gerimis para petanam padi naik sepeda onthel berangkat ke sawah orang untuk memborong tanam padi.
Jam 10.00 WIB sudah selesai , perorang dapat upah berupa uang Rp 50 ribu – Rp 75 ribu plus makan siang berupa nasi bungkus di tanggung pemilik sawah. Bagi pekerja, pekerjaan tersebut cukup lumayan tergantung luas sawah yg di tanam.
Sawah yang luas di Indonesia saat ini masih mengandalkan jasa para petanam padi, karena belum ada teknologi pertanian untuk tanam padi.
Curah hujan yg mencukupi tahun, yang diharapkan para petani untuk terjaminnya panen raya padi 2026 untuk pasokan pangan selama satu tahun bagi warga masyarakat seluruh Indonesia.
Di saat sekarang para petani sawah sedang bergembira ria musim tanam padi raya, di saat yang sama di media publik dunia di kagetkan, ternyata di pulau Sumatra, yaitu di sepanjang pegunungan bukit barisan tepatnya di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat sedang di landa duka nestapa karena bencana banjir bandang dan tanah longsor yang mengakibatkan ratusan jiwa yang meninggal dunia dengan kerugian rumah, harta benda, infra struktur jalan- jembatan hancur yang sangat besar kerugiannya baik bagi para korban dan tentunya juga bagi pemerintah Kabupaten/Provinsi tempat banjir melanda.
Para pemimpin negara sahabat mengucapkan turut prihatin atas bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Indonesia, presiden hingga para kepala daerah semua instansi sipil militer sibuk fokus menangani dampak bencana ini.
Hutan sepanjang pegunungan bukit barisan dari Aceh hingga Lampung yang panjangnya diperkiraan 1.650 KM harus terjaga kelestariannya,.tidak boleh perusahaan dan perorangan merusak hutan di pegunungan bukit barisan itu.
Hutan Indonesia selain paru-paru dunia, bila rusak, selain akan menimbulkan bencana alam juga pada gilirannya akan mengancam ketersediaan air untuk pertanian sawah.
Sebagai contoh sungai-sungai yang airnya di bendung untuk sawah irigasi di Lampung sumbernya ada di Lampung Barat dan Tanggamus yang merupakan ujung dari pegunungan bukit barisan, rusaknya hutan di Lampung Barat dan Tanggamus akan mengancam keberadaan Lampung sebagai daerah lumbung padi yang hasilnya juga dikirim ke propinsi-propinsi tetangga.
Program tanam hutan yang menghabiskan anggaran APBN tiap tahun yang cukup besar harus selalu di evaluasi pelaksanaannya agar terhindar dari praktek korupsi dan sekedar formalitas.
Hujan tahun ini yang di tunggu-tunggu para petani menjadi hujan berkah semoga tidak jadi hujan yang menjadi bencana karena ulah kita sendiri (pemerintah dan masyarakat). <**>
*) Penulis Adalah: Aktivis NU Provinsi Lampung, tinggal di Bandar Lampung.

