Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Seri – 2. “Siger Mengajarkan Hormat: Tata Krama Membuka Bicara” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah Nuwo Balak (rumah besar) di tepi Way Sekampung, seorang remaja bernama Rio duduk murung. Ia baru saja membuat kesalahan. Saat musyawarah keluarga tentang pembagian lahan, tanpa menunggu giliran, ia menyela perkataan sang paman, Menak Batin, dengan suara lantang. Ruangan pun hening. Sang paman tak marah, hanya menghela napas. “Besok pagi,” kata Menak Batin dengan tenang, “temui Nenek Siger di rumah panggung tua di ujung kampung. Beliau punya sesuatu untukmu.”

Keesokan harinya, Rio mendaki jalan setapak dengan perasaan campur aduk. Nenek Siger adalah sosok legenda. Konon, beliau adalah keturunan langsung dari Patih Siger, penasihat utama Ratu Sekala Brak. Rio membayangkan seorang perempuan tua yang galak. Namun, yang ia temui adalah seorang perempuan sepuh dengan rambut putih yang diikat rapi, duduk tenang di beranda, matanya jernih bagai telaga. Di atas kepalanya, tersemat Siger, mahkota tradisional perempuan Lampung yang runcing dan berlapis emas. “Rio, anak Marga Ginting,” sambut Nenek Siger, suaranya serak namun jelas. “Kau datang karena kata-katamu lebih cepat dari hormatmu. Kau perlu memahami bahwa di tanah Lampung, Siger ini bukan hanya perhiasan, tetapi penjaga mulut dan telinga. Setiap runcingnya mengingatkan kita untuk bicara yang tajam pada kebenaran, tapi juga runcing ke atas, mengarahkan setiap ucapan kita pada langit, pada kesantunan.”

Falsafah Ucapan dalam Siger dan Kitab Kuntara Raja Niti.

Nenek Siger kemudian membacakan sebuah petuah dari kitab adat Kuntara Raja Niti, naskah kuno yang menjadi rujukan hukum dan tata krama Lampung:
“Bicara ni jak siul, nengah ni jak mulang. Sai bejulo, sai beghadap, sai beghunding.” (Terjemahan: Bicara itu seperti siul (pelan), bertengahlah seperti mulang (alat tenun). Yang berjuluk (bergelar), yang berhadapan, yang berbincang.)
“Analisis ini, Rio,” ujar Nenek Siger. “Bicara ni jak siul, bicara itu harus seperti siulan, lembut, merdu, tidak memekakkan telinga. Nengah ni jak mulang, bertengahlah seperti alat tenun. Lihatlah mulang itu, Rio!” Rio melihat alat tenun tua di sudut ruangan. “Ia selalu lurus, teratur, setiap benangnya tahu tempatnya. Begitulah bicara kita: harus lurus pada kebenaran, teratur sesuai tata krama, dan setiap kata harus pada tempatnya. Tidak boleh benang biru mengambil tempat benang merah.”
Frasa terakhir, “Sai bejulo, sai beghadap, sai beghunding”, adalah hierarki etika berkomunikasi.

Baca Juga :  Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 8: Titi Pangka – Musyawarah dan Kebijaksanaan Kolektif. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sebelum membuka mulut, seorang Lampung harus selalu menyadari tiga hal ini: status sosialnya sendiri (bejulo), siapa yang dihadapi (beghadap), dan konteks pembicaraan (beghunding). Menyela orang yang lebih tua (seperti yang Rio lakukan) adalah pelanggaran berat terhadap prinsip beghadap.
“Dalam manuskrip silsilah (tetulen) Marga Ginting milik keluargamu,” lanjut Nenek Siger sambil menunjukkan salinan lembaran kuno, “tertulis pesan leluhurmu, Rio Maja: ‘Di tikas rumah adat, suara pemuda adalah penyangga, bukan tiang utama. Biarkan tiang utama (orang tua) tegak dahulu, baru penyangga berbicara.’ Kau adalah penyangga, Rio. Kau boleh kuat, tetapi posisimu adalah menyokong, bukan mendominasi.”

Ritual “Muli Nengah” dan Seni Membuka Bicara.

Nenek Siger kemudian mengajarkan Rio ritual kecil yang disebut “Muli Nengah” (Perempuan yang Bertengahan). “Ini bukan ritual besar dengan sesajen, tetapi ritual harian dalam percakapan,” jelasnya.
Ritual ini memiliki tiga tahap:
1. “Ngitih” (Menjaga): Diam sejenak, amati situasi, dan dengarkan hingga tuntas. “Kuping harus penuh sebelum mulut berbicara,” kata Nenek.
2. “Menyulih” (Menyela dengan Hormat): Jika harus menyela, gunakan kata “Tabik” atau “Ampun” dengan suara rendah, disertai gerakan menunduk sedikit. “Kata ‘ampun’ itu hebat, Rio. Ia mengakui ketinggian orang lain dan merendahkan diri kita untuk sesaat, agar kata kita bisa diterima.”
3. “Nyappur” (Menyelaraskan): Awali ucapan dengan kalimat penghubung yang santun seperti “Mengo utang pendaharan…” (Berdasarkan apa yang Bapak/Ibu katakan…). “Ini menunjukkan bahwa ucapanmu bukan batu yang dilempar, tetapi sulaman yang diteruskan dari tenunannya orang lain.”

Baca Juga :  Sakay Sambayan, Ketika Gotong Royong Menjadi Ibadah. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

“Dalam budaya kita,” tambah Nenek Siger, “bahasa bukan hanya alat, ia adalah cermin piil pesenggiri. Orang yang bicara semaunya dianggap ‘khegaokh nghi’ (hilang wibawanya). Hormat kita pada kata-kata menunjukkan hormat kita pada tatanan alam dan sosial.”

Legenda Patih Siger dan “Kata yang Mengalir seperti Way.”

Untuk memperdalam pemahaman, Nenek Siger bercerita tentang leluhurnya, Patih Siger. “Dahulu, terjadi persengketaan sengit antara dua kampung besar di lereng Pesagi. Perang hampir saja pecah. Patih Siger diutus untuk berunding. Beliau tidak langsung berbicara tentang perbatasan. Selama tiga hari, beliau hanya duduk, menyirih bersama tetua kedua kampung, mendengarkan keluh kesah mereka tentang panen, tentang anak cucu.
Baru pada hari keempat, beliau berkata: ‘Kedua Way ini berasal dari mata air yang sama di puncak Pesagi. Mereka berpisah untuk mengairi sawah yang berbeda, tapi tujuannya satu: menghidupi. Apakah kita mau bertengkar hanya karena aliran air, padahal sumbernya sama?'”
“Kata-katanya,” lanjut Nenek, “mengalir seperti Way (sungai). Tidak tergesa, dalam, dan membawa kesuburan. Itulah seni bicara tingkat tinggi: kemampuan untuk menyentuh hati sebelum menyentuh pokok masalah.

Beliau menggunakan metafora alam yang akrab bagi kedua pihak. Hasilnya, sengketa selesai dengan adil dan kedua kampung bahkan membuat perjanjian untuk saling membantu.”

Rio dan Siger Barunya.

Rio pulang dengan pikiran yang penuh. Esoknya, di pertemuan keluarga yang sama, Rio duduk diam di awal. Saat ia merasa perlu menyampaikan ide, ia menunduk dan berkata pelan, “Ampun, Pak Menak Batin, izinkan saya menyambung…” Ruangan terkesima. Cara bicaranya telah berubah total.
Menjelang pulang, Nenek Siger memanggilnya. “Rio,” ujarnya sambil melepas sebuah lengkung (hiasan kepala sederhana) dari peti kayu, “Siger emas ini warisan untuk anak perempuan. Tapi untukmu, aku berikan Lengkung ini. Pakailah dalam hatimu. Ingat, runcingnya Siger mengarah ke langit, mengingatkan kita bahwa setiap kata akan dipertanggungjawabkan. Dan hiasan di dahinya menandakan bahwa bicara harus berasal dari pikiran yang jernih, bukan emosi yang panas.”

Baca Juga :  Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun. SERI 6: Strategi Pelestarian dan Rekomendasi Kebijakan Budaya. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Rio menerima lengkung itu dengan hati berdebar. Ia bukan hanya belajar tata krama. Ia telah menerima sebuah filosofi hidup: bahwa dalam tradisi Lampung, berbicara adalah sebuah seni, sebuah ritual, dan sebuah tanggung jawab moral. Setiap kata yang terucap adalah benang yang menenun kain besar bernama piil pesenggiri dan kehidupan bermasyarakat yang harmoni. Mulai hari itu, Rio Ginting tidak lagi hanya sekadar berbicara, tetapi “muli nengah”, berbicara dengan tengah, santun, dan penuh kesadaran akan segala runcing dan keindahan yang diwariskan oleh Siger nenek moyangnya.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Kuntara Raja Niti. Naskah manuskrip adat Lampung kuno. (Akses terjemahan dan alih aksara melalui koleksi digital Perpustakaan Daerah Lampung).
2. Riswandi, dkk. (2020). Komunikasi Budaya dalam Masyarakat Lampung: Kajian Etnopragmatik. Jurnal Ilmu Komunikasi, Universitas Lampung. (Artikel jurnal akademik).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini