Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 1: Ngejalang, Tradisi Menjamu Tamu, Bukan Sekadar Makan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu, ketika hutan Sumatra masih menyimpan desir bahasa binatang dan bisikan dewata, hiduplah dua marga yang bermukim berjauhan: Marga Pemuka di balik Bukit Pesagi dan Marga Tiyuh di tepi Danau Ranau.
Suatu masa, kemarau panjang melanda. Ladang Marga Tiyuh mengering, sementara di wilayah Marga Pemuka, sumber air masih mengalir jernih.

Seorang pemuda Marga Tiyuh bernama Semekh diutus untuk meminta bantuan. Setelah menempuh perjalanan berat, ia tiba di lamban (rumah adat) Pesagi. Bukannya diusir, ia disambut oleh Sang Pemuka dengan semangkuk air bening dan papan (daun sirih) yang dihidangkan di atas tikekh (tikar) khusus. “Air ini lambang niat jernih kami,” kata Sang Pemuka. “Dan sirih ini penyambung kata yang pahit sekaligus manis, agar kita berbicara benar.”
Mereka berembuk semalam suntuk.

Keesokan harinya, Sang Pemuka mengizinkan marganya membagi air. Sebagai ikrar, kedua marga itu menanam pinang dan sirih di perbatasan. Mereka bersumpah: “Ngejalang nengah basekh, bejuluk beadek, sai pegawai pegawokan, sai punyimbang punyimbangan” (Menjamu dengan tulus, beradat berharga, siapa pun tamu mesti dilayani, siapa pun pemimpin mesti dihormati).
Dari situlah, tradisi Ngejalang – menjamu tamu dengan hati – diyakini bermula, mengikat persaudaraan melampaui batas geografis dan kesukaran.

Lamban, Panggung Sakral bagi Sang Tamu.

Filosofi Ngejalang tidak dapat dipisahkan dari panggung utamanya: Lamban. Rumah panggung tradisional Lampung ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi mikrokosmos tatanan sosial dan spiritual. Arsitekturnya yang berbentuk persegi (pesagi) melambangkan keseimbangan dan keteguhan prinsip.
Setiap bagian rumah memiliki makna mendalam.

Kedatangan tamu dimulai dari bawah kolong rumah (bawah bawan), area untuk hewan ternak dan penyimpanan alat, yang mengajarkan kerendahan hati. Tamu kemudian naik melalui tangga (hejot) yang jumlah anak tangganya selalu ganjil, melambangkan tahapan menuju kesempurnaan Ilahi. Pintu masuk (lawang khibasan) sengaja dibuat rendah, memaksa setiap orang untuk menunduk, simbol penghormatan dan melepaskan kesombongan sebelum memasuki ruang keluarga.
Sirih Pinang, Alfabet Diplomasi yang Hidup
Ritual penyambutan inti dimulai dengan penyajian Sekhakh Capang atau Papan. Sebuah cerana (wadah) berisi daun sirih, kapur, pinang, gambir, dan tembakau disuguhkan kepada tamu. Ini adalah bahasa non-verbal yang paling kuno dan penuh makna.
Seperti tertuang dalam Kitab Kuntara Raja Niti, salah satu naskah adat tua Lampung: “Adapun papan itu peri kehidupan, sirih itu lidah yang menjanjikan, pinang itu hati yang teguh, kapur itu kesucian niat, gambir itu pengikat rasa, tembakau itu pengasah pikiran. Bila kelima jadi satu, maka sempurnalah perkataan.”

Baca Juga :  BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 6: Badik Masa Kini, Dari Pusaka Tradisi Menjadi Cenderamata Modern. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis mendalam terhadap kutipan ini mengungkap filosofi komunikasi yang lengkap:
1. Sirih (Lidah yang Menjanjikan): Daun sirih yang dibelah melambangkan keterbukaan. Rasanya yang getir lalu meninggalkan kesegaran adalah metafora untuk pembicaraan yang mungkin keras atau tegas (semacam), tetapi tujuannya menyejukkan dan membersihkan suasana.
2. Pinang (Hati yang Teguh): Bijinya yang keras melambangkan keteguhan prinsip dan komitmen. Saat dikunyah bersama sirih, ia memberi “dasar” yang kokoh bagi setiap janji yang diucapkan.
3. Kapur (Kesucian Niat): Warna putih kapur melambangkan niat yang bersih, tulus, tanpa pamrih. Ia adalah fondasi moral dari setiap interaksi.
4. Gambir (Pengikat Rasa): Getahnya yang merekatkan semua unsur melambangkan ikatan persaudaraan (sakukh) yang harus terjalin dari setiap pertemuan.
5. Tembakau (Pengasah Pikiran): Aromanya yang kuat dimaknai sebagai penyegar akal budi, agar percakapan yang terjalin penuh kebijaksanaan dan kejernihan berpikir.

Proses mempersiapkan dan menyuguhkan sekhakh itu sendiri adalah ritus. Tamu yang menerima lalu menyusun (menyirih) sesuai selera adalah tanda ia membuka diri untuk berdialog. Inilah “kontrak sosial” non-verbal yang mendahului segala urusan duniawi.
Tikekh dan Posisi Duduk, Peta Kosmologi Sosial
Setelah ritus sirih pinang, tamu dipersilakan duduk di atas tikekh (tikar) yang terhampar di ruang utama (lapang agung). Jenis dan motif tikar tidak sembarangan. Tikekh tempat dengan motif geometris kompleks seperti pucuk rebung atau tumpal disediakan bagi tetua adat atau tamu sangat terhormat, melambangkan akar sejarah yang dalam dan jalinan norma yang rumit.

Baca Juga :  BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 1 : Sang Penjaga yang Diselipkan di Pinggang. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Posisi duduk adalah peta kosmologi yang hidup. Pemilik rumah (punyimbang) biasanya duduk menghadap pintu utama, posisi yang siap melindungi. Tamu kehormatan ditempatkan di haluan (bagian depan rumah), area yang dianggap paling mulia, berhadapan dengan punyimbang. Keluarga inti dan tamu lainnya duduk di sisi kiri dan kanan, membentuk formasi persegi yang mencerminkan keseimbangan.
Posisi ini, seperti diuraikan dalam tradisi lisan, menegaskan prinsip: “Sai di haluan, sai di buntutan, sai di tirek, sai di tungkai, masing sai bejuluk beadek” (Yang di haluan, yang di buritan, yang di kiri, yang di kanan, masing-masing memiliki juluk adek/status dan fungsinya). Setiap orang memiliki tempatnya dalam tatanan yang harmonis, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah secara absolut, tetapi semua saling melengkapi seperti struktur lamban itu sendiri.

Menuju Meja Makan, Dari Simbol ke Kongkret.

Dari dialog simbolis sirih pinang dan tatanan posisi duduk yang sakral, barulah acara inti Ngejalang dimulai: penyajian hidangan. Makanan yang dihidangkan pun sarat makna. Pindang (gulai ikan) melambangkan keberkahan sungai dan laut, sumber kehidupan. Sayuran rebung (bambu muda) melambangkan pertumbuhan dan kelurusan hati. Seruit (sambal tempoyak) yang pedas dan segar adalah simbol dinamika kehidupan yang harus dihadapi dengan semangat.
Yang paling utama adalah prinsip kebersamaan. Makan seringkali dilakoni secara bersama-sama dari satu wadah besar atau piring-piring yang dihidangkan secara merata, mencerminkan nilai sakukh sakatakh (seiya sekata) dan kerelaan berbagi.
Tamu didahulukan, yang muda melayani yang tua. Setiap suapan adalah penguatan dari ikatan yang telah dijalin melalui simbol-simbol sebelumnya.

Baca Juga :  Nengah Nyappur, Menyatu dalam Perbedaan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Ngejalang di Zaman Now, Filosofi yang Tak Usang.

Ngejalang pada hakikatnya adalah sekolah kehidupan miniatur. Ia mengajarkan diplomasi melalui sirih pinang, tata kelola sosial melalui tata ruang lamban, dan keutuhan komunitas melalui meja makan. Dalam dunia yang serba cepat dan individualistik, filosofi di balik Ngejalang justru menjadi penawar: bahwa setiap pertemuan manusia harus dimulai dengan niat suci, dijalani dengan tata krama yang menghargai, dan diakhiri dengan ikatan yang menguat.
Tradisi ini bukanlah romantisme masa lalu, tetapi sebuah sistem nilai yang relevan. Ia mengingatkan bahwa sebelum kita bertransaksi, bernegosiasi, atau bermedia sosial, ada etika dasar penyambutan yang perlu dipulihkan: kesediaan untuk “menunduk” menghormati, “mengunyah” bersama setiap perkataan, dan “berbagi” dalam kebersamaan yang tulus. Dari lamban nenek moyang, filosofi ini bergaung lantang menantang zaman: bahwa menjamu tamu sesungguhnya adalah merawat kemanusiaan itu sendiri.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Kitab Kuntara Raja Niti. Naskah Aksara Lampung Kuno. Koleksi Naskah Kuno Museum Lampung (Format Fisik/Faksimili Digital).
2. Hadis Lampung: Kumpulan Orang Lampung Berfilsafat oleh Anshori Djausal dkk. Penerbit Universitas Lampung, 1993. (Format Fisik).
3. Adat Istiadat Daerah Lampung. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978. (Format Fisik/Digital Arsip Nasional).
4. Arsitektur Tradisional Daerah Lampung oleh Ir. V. Rita Tjokro. Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1986. (Format Fisik).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini