nataragung.id – Sidomulyo – Kaderisasi di Nahdlatul Ulama bukan sekadar seremoni tiga hari untuk mengejar selembar kertas bernama Syahadah. Ia adalah proses penanaman genetika perjuangan yang seharusnya terus berdenyut, meski sang kader telah berpindah koordinat geografis.
Kabar dari Banten tentang terpilihnya Ust. Sudirman sebagai Katib Syuriyah MWC NU Taktakan, Kota Serang, adalah tamparan halus sekaligus inspirasi besar bagi kita semua.
Kang Dirman adalah bukti autentik bahwa “produk” kaderisasi Lampung Selatan memiliki daya tahan dan daya gempur yang luar biasa. Kader Penggerak NU Angkatan I Lamsel ini menunjukkan bahwa di mana pun kaki berpijak, jiwa penggerak tidak boleh mati.
Sejak menginjakkan kaki di Serang pada 2020, beliau tidak memilih untuk menjadi penonton sejarah. Sebaliknya, beliau memilih “turba” (turun ke bawah), menjemput takdir khidmah hingga hampir seluruh Ranting di Taktakan berhasil terbentuk.
Ini adalah pesan kuat bagi seluruh kader aktif maupun pasif: Jabatan bukan tujuan utama, yang utama adalah bagaimana pengabdian kita terhadap NU. Syahadah yang kita peroleh bukanlah pajangan dinding. Ia adalah “kontrak ideologis” yang menuntut aksi nyata, bukan sekadar diskusi di ruang kopi.
Sebuah kalimat kunci yang dikirimkan Kang Dirman menjadi refleksi bersama: “Main di atas jika di bawah rapuh, maka kita harus siap turba”. Banyak kader terjebak dalam euforia struktural di tingkat atas, namun abai terhadap akar rumput yang keropos. Kasus Taktakan menunjukkan bahwa keberhasilan struktural di tingkat MWC hanya bisa tegak jika pondasi Rantingnya kokoh.
Kisah sukses ini adalah hasil dari “giringan” semangat yang tak henti dari para kiai dan rekan-rekan penggerak lainnya. Ini membuktikan bahwa kaderisasi adalah kerja kolektif yang berkelanjutan, bukan proyek musiman.
Catatan dari Tanah Jawara ini adalah cermin bagi kita semua. Jika seorang kader Lamsel mampu mewarnai Serang hingga ke tingkat Ranting, apa kabar dengan kita yang masih berada di rumah sendiri?
Apapun angkatan kita, di mana pun koordinat kita, dan apa pun profesi kita saat ini, ingatlah bahwa NU menunggu kita untuk selalu bergerak. Karena pada akhirnya, sejarah hanya akan mencatat mereka yang berpeluh di lapangan, bukan mereka yang hanya lihai berteori dalam kesunyian.
Selamat berkhidmah, Ust. Sudirman. Lampung Selatan bangga memiliki “duta khidmah” sepertimu di Banten.
Siapa Kita…???!!!
*) Penulis Adalah : Aktivis PCNU Kabupaten Lampung Selatan, tinggal di Kecamatan Sidomulyo – Lampung Selatan.

