MUTIARA PAGI : Mengapa Kita Tidak Boleh Nyinyir kepada Pelaku Dosa. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Sering kali kita mudah nyinyir ketika melihat orang lain terjatuh dalam dosa. Pejabat tertangkap korupsi, hartawan terbongkar perselingkuhannya, lalu lisan kita ringan mencela, seolah-olah kita paling suci dan paling kuat menjaga diri.

Padahal, kita lupa satu kenyataan penting: setiap orang diuji sesuai kapasitas dan posisinya. Bisa jadi hari ini kita selamat bukan karena kita lebih taat, tetapi karena Allah belum menguji kita dengan ujian yang sama.

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.(QS. Al-Baqarah: 286)

Harta, kekuasaan, popularitas, dan kesempatan semuanya adalah ujian, bukan sekadar nikmat. Tidak semua orang kuat memikulnya.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Bahaya Tersembunyi di Balik Bunga Dunia. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Maka siapa kita hingga merasa pasti akan lebih baik jika berada di posisi mereka?

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan adab yang sangat mulia ketika melihat orang lain terjatuh dalam dosa. Beliau bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati sampai terjatuh pada dosa yang sama.” (HR. At-Tirmidzi)

Nyinyir bukan tanda iman yang kuat, justru sering menjadi pintu ujub dan kesombongan batin, merasa diri aman dari maksiat, merasa pasti lebih baik dari orang lain.

Padahal para salaf dahulu sangat takut pada ujian dosa, bukan merasa kebal darinya. Mereka lebih sibuk menjaga diri daripada menghakimi orang lain.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Tak Perlu Menyenangkan Semua Orang, Cukup Meraih Ridha Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Allah Subḥanahu wata’ala mengingatkan:

وَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰ

“Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Ini bukan berarti dosa harus dibenarkan. Kemungkaran tetap kemungkaran, hukum tetap ditegakkan, keadilan tetap dijalankan.

Namun sikap hati kita harus dijaga: tidak menghina, tidak merendahkan, dan tidak merasa aman dari murka Allah.

Sikap terbaik seorang mukmin adalah takut pada dirinya sendiri dan penuh kasih dalam doa untuk orang lain. Sebagaimana doa yang diajarkan Allah:

رَبَّنَا لَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami apa yang tidak sanggup kami pikul.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Kreativitas Sebagai Jalan Bertahan dan Berkontribusi. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Dan cobalah kita berdoa dengan doa : Ya Allah, lindungilah kami dari dosa yang mereka lakukan,
jauhkan kami dari jalan yang menjerumuskan,
dan selamatkan kami dari akibat buruknya.

Karena sejatinya, keselamatan iman hari ini bukan jaminan untuk esok, dan yang paling berbahaya bukan dosa orang lain, tetapi merasa aman dari dosa diri sendiri.
(KIS/151).
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini