nataragung.id – Sidomulyo – Sabtu malam Ahad, 24 Januari 2026. Halaman Masjid Safinatunnajah di Kalianda mulai menampung arus besar kerinduan. Sejak bakda Maghrib, rombongan Kader Penggerak dari berbagai kecamatan seperti Sragi dan Way Sulan mulai merapat.
Di bawah bayang-bayang masjid yang menyerupai kapal itu, saya menyaksikan sebuah fragmen khidmah yang membanggakan, betapa militansi kader kita di Lampung Selatan telah tumbuh menjadi energi organik yang luar biasa.
Kemandirian Kader Penggerak NU ini sungguh menggugah. Tanpa perlu banyak komando, mereka secara alamiah mengatur posisi di pelataran masjid.
Pemandangan kader yang menyeduh kopi yang mereka bawa sendiri dari rumah adalah simbol “Kedaulatan Jamaah” yang sesungguhnya. Mereka datang tidak untuk dilayani, tapi untuk menyerahkan segenap dedikasi bagi Satu Abad Nahdlatul Ulama.
Keheningan memuncak saat jarum jam menyentuh angka 00.00 WIB di tanggal 25 Januari. Kyai Abdul Aziz At-Tarmasi menyampaikan talqin dzikir dan ijazahan yang bersumber dari kitab Kifâyah al-Mustafîd.
Momen ini menjadi krusial untuk meninjau kembali akurasi kita dalam mengikuti tuntunan Rasulullah Saw. Selama ini, kita sering terjebak pada kelatahan tradisi seperti saat memulai tahlil, jawaban makmum seringkali langsung dilakukan secara jahr (keras) dan masal.
Namun, jika merujuk pada redaksi kitab karya Syekh Mahfudz Termas tersebut, Rasulullah Saw. memberikan instruksi yang sangat spesifik murid diperintahkan memejamkan mata dan mendengarkan secara mendalam (inshat) terlebih dahulu. Ini adalah peringatan agar kita tidak sekadar “latah” mengikuti kebiasaan yang beredar di buku-buku populer, melainkan kembali pada yang makhsus (khusus) dan asli dari Nabi Muhammad Saw.
Fenomena ini mirip dengan kebiasaan kita mendoakan pengantin dengan “Sakinah Mawaddah Warahmah”, padahal doa yang diajarkan Rasulullah secara otentik adalah “Barakallahu laka wa baraka ‘alaika…”.
Kembali ke sanad yang asli bukan berarti membuang tradisi. Tidak apa-apa kita tetap melakukan kebiasaan tersebut, namun hendaknya diawali terlebih dahulu dengan yang makhsus sesuai tuntunan. Inilah cara kita memurnikan peribadatan agar tetap presisi sesuai bimbingan para guru.
Bagi Kader Penggerak NU yang berhalangan hadir, pelajaran dari Safinatunnajah malam itu sangat jelas kekuatan NU di abad kedua ini terletak pada kedisiplinan batin untuk mengikuti sanad yang benar.
Menjemput fajar Satu Abad, kita telah membuktikan bahwa NU Lampung Selatan adalah barisan yang kokoh karena hati para kadernya telah tertaut dalam satu sanad perjuangan yang jernih, yang bergerak sunyi namun pasti demi kemaslahatan umat.
“Khidmah di abad kedua bukan sekadar mengikuti kelatahan tradisi, melainkan kembali pada kemurnian sanad. Seperti talqin zikir yang menuntut ketajaman rungu sebelum lisan berpadu, begitulah organisasi harus bergerak: presisi sesuai tuntunan, bukan sekadar riuh rendah tanpa kedalaman.” <>
*) Penulis adalah : Aktivitas PCNU Kabupaten Lampung Selatan, tinggal di Kecamatan Sidomulyo – Lampung Selatan.

