nataragung.id – Pemanggilan – Kita sering merasa aman dan tenang saat duduk di dalam pesawat, padahal kita tidak mengenal siapa pilotnya.
Kita merasa tenteram berada di atas bahtera, meski tidak tahu siapa nakhodanya.
Kita merasa nyaman menempuh perjalanan dengan kereta api, walau tak pernah bersua dengan masinisnya.
Aneh tapi nyata. Kita menyerahkan keselamatan diri kita sepenuhnya kepada manusia yang tidak kita kenal, hanya karena kita percaya pada sistem dan aturan yang mengaturnya.
Namun, mengapa ketika berada di atas bumi yang diciptakan, diatur, dan dijaga langsung oleh Allah Subḥanahu wata’ala, hati kita justru sering gelisah, takut, dan penuh prasangka tentang masa depan?
Padahal Allah adalah Pengatur yang Maha Mengetahui, tidak pernah lalai, tidak pernah salah, dan tidak pernah tidur.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Ingatlah, mencipta dan mengatur hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-A‘raf: 54)
Segala yang bergerak di langit dan di bumi berada dalam kendali-Nya. Tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan-Nya, termasuk hidup, rezeki, dan masa depan kita.
Karena itu Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bersandar penuh kepada-Nya:
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)
Tawakkal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menenangkan hati setelah ikhtiar, karena yakin bahwa hasil terbaik ada di tangan Allah.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ
“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; pagi hari ia keluar dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Burung tetap terbang, tetap berusaha, namun hatinya tidak diliputi cemas berlebihan, karena ia yakin rezekinya dijamin oleh Allah.
Maka jika kita bisa tenang menyerahkan diri kepada pilot, nakhoda, dan masinis yang terbatas ilmunya,
bukankah lebih layak kita merasa tenang menyerahkan hidup kepada Allah Subḥanahu wata’ala, Dzat yang Maha Mengatur, Maha Mengetahui, dan Maha Penyayang?
Tawakkallah. Serahkan urusanmu kepada Allah, Pengatur alam semesta. Karena siapa yang bersama Allah, ia tidak pernah benar-benar sendirian, dan tidak pernah benar-benar rugi. (KIS/171).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

