Ironi Sang “Pencari Kebenaran” Oleh : Pepih Nugraha *)

0

nataragung.id – Jakarta – “To the point” saja, nama Rismon Hasiholan Sianipar, yang selama ini vokal “menguliti” keabsahan ijazah Presiden Jokowi, kini justru berada di bawah lampu sorot yang menyilaukan. Bukan karena prestasinya, melainkan karena bayang-bayang masa lalunya sendiri yang mulai terkuak.

Pepatah kontemporer mengatakan, “Jangan melempar batu jika rumahmu sendiri terbuat dari kaca.” Tampaknya, Rismon lupa akan nasihat sederhana ini. Ia begitu sibuk menuding orang lain menggunakan ijazah palsu, sementara rekam jejak akademisnya di Yamaguchi University, Jepang, kini dipertanyakan oleh publik.

Klaim sebagai lulusan doktoral dari Yamaguchi University adalah modal utama Rismon dalam membangun kredibilitas sebagai “ahli digital forensik”. Namun, investigasi mandiri yang dilakukan oleh sejumlah pihak di media sosial menunjukkan celah yang menganga lebar.

Baca Juga :  Mencari Roh Pendidikan. Catatan Lepas Gunawan Handoko /Ketua Harian KMBI (Komunitas Minat Baca Indonesia) Propinsi Lampung

Pertama, status akademis. Nama Rismon diduga tidak terdaftar dalam database alumni doktoral yang sah di universitas tersebut untuk periode yang ia klaim.

Kedua, beasiswa yang bermasalah. Muncul dugaan kuat bahwa Rismon tidak pernah menyelesaikan studi doktoralnya, namun tetap menerima dana beasiswa.

Ketiga, skenario “meninggal dunia”. Bagian yang paling menggemparkan dan sekaligus memilukan dari kisah ini adalah tuduhan mengenai upaya Rismon untuk menghindari kewajiban finansialnya. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa ia pernah merekayasa kabar kematiannya sendiri agar tidak perlu mengembalikan uang beasiswa yang telah diterimanya.

Jika benar seseorang sampai hati memalsukan kematian demi tumpukan materi, maka kita tidak sedang bicara soal integritas akademis lagi, melainkan soal keruntuhan moral yang sangat dalam.

Baca Juga :  Mengapa Kereta Gantung, Bukan Water Front City Oleh : Gunawan Handoko *)

Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku sebagai pembela kebenaran forensik bisa tidur nyenyak di atas tumpukan kebohongan yang sefrontal dan sevulgar itu?

Rismon dengan sangat percaya diri menuduh ijazah Presiden Jokowi palsu, bahkan membawa narasi tersebut ke ranah publik dengan nada yang sangat meyakinkan.

Namun, ketika cermin itu diputar ke arahnya, yang terlihat justru sosok yang diduga:

Pertama, gagal menyelesaikan studi namun mengaku dirinya ahli.

Kedua, menghindar dari tanggung jawab keuangan negara (beasiswa).

Ketiga, memanipulasi identitas dan status hidup demi kepentingan pribadi.

Ini bukan sekadar masalah ijazah, melainkan masalah karakter. Menuntut transparansi dari orang lain adalah hal mudah, namun memiliki transparansi dalam diri sendiri adalah ujian sesungguhnya bagi seorang intelektual.

Kebenaran memiliki caranya sendiri untuk muncul ke permukaan. Seperti air yang selalu menemukan celah, fakta sejarah tidak bisa selamanya ditutupi oleh narasi-narasi kebencian atau drama pura-pura mati.

Baca Juga :  Dua Jalan Pengacara: Dorong Klien Masuk Hotel Prodeo atau Sowan ke Solo. Oleh : Pepih Nugraha // Owner and Founder di Pepnews

Jika Rismon ingin dianggap sebagai ahli yang kredibel, cara terbaik bukanlah dengan menyerang ijazah orang lain, melainkan dengan membuktikan secara jantan bahwa ijazahnya sendiri bukan sekadar lembaran kertas tanpa makna atau hasil dari sebuah pelarian.

Tetapi Rismon tenang-tenang saja, semua tudingan terhadapnya ia anggap kentut yang berlalu.

Lho kok bisa? Ya bisa, sebab dirinya merasa sebagai pahlawan besar dan pemberani di mata pembenci Jokowi.

Betul apa benar?

*) ✍️ Owner and Founder Pepnews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini