nataragung.id – Bandar Lampung – Bulan Ramadhan telah pergi meninggalkan kita dan diyakini akan kembali hadir di tahun depan tepat pada waktunya. Hari-hari ini umat muslim sedang merayakan kemenangan Idul Fitri dalam suasana harmoni dan penuh kehangatan. Semua kita tidak ada yang tahu, apakah masih diijinkan Allah untuk bertemu kembali dengan bulan yang penuh maghfirah dan ampunan ini, semua menjadi rahasia-Nya. Harap dicatat, bahwa yang meninggalkan kita adalah Ramadhan, bukan kita yang meninggalkannya.
Selama sebulan penuh Ramadhan hadir dengan penuh pesona, karena memiliki citra, gaya dan nuansa yang sama sekali berbeda dengan suasana sebelas bulan Hijriah yang lain. Bila di bulan-bulan yang lain lebih terasa aroma duniawi, maka di bulan Ramadhan ini terasa benar ‘ukrawi’nya, keakhiratannya. Selama sebulan penuh umat Islam menyambut bulan suci ini dengan penuh suka cita dan semangat untuk melaksanakan ibadah spiritual maupun sosial. Bahkan istansi pemerintah maupun swasta dan lembaga yang lain tidak mau ketinggalan dengan menggelar agenda kegiatan yang bernuansa ibadah, atau setidaknya diberi judul atau label yang mengesankan keislaman, seperti sahur Ramadhan, buka bersama, gelar takjil, pasar murah, takbir keliling dan kegiatan gebyar Ramadhan yang lain. Lalu para pejabat melakukan safari keliling dengan mendatangi masjid-masjid dan berbaur dengan masyarakat untuk melaksanakan shalat tarawih, dengan membawa bingkisan atau bantuan, sambil memberi sambutan tentu saja. Pendek kata, suasana Ramadhan benar-benar penuh semarak. Setelah Ramadhan berakhir, masih dilanjutkan dengan acara open house atau “gelar griya”, baik yang digelar para pejabat atau instansi pemerintah maupun pihak lainnya. Di kalangan pejabat tradisi ini menjadi agenda wajib yang digelar setiap hari raya Idul Fitri. Bahkan dianggap sebagai momen penting untuk menjalin silaturrahmi sekaligus menunjukkan keharmonisan dan kedekatan dengan rakyat, bahwa pejabat negara merupakan bagian dari rakyat.
Kehangatan Idul Fitri juga sangat terasa di tengah masyarakat dengan mengunjungi para orang tua atau orang yang dituakan melalui acara halal bihalan, saling maaf memaafkan. Dalam konteks open house yang diselenggerakan para pejabat dari tingkat pusat hingga daerah, meski tujuannya baik namun sering muncul kritik mengenai potensi penyalahgunaan anggaran negara. Ada yang berpendapat bahwa acara open house hanya untuk memperlihatkan wibawa seorang pejabat negara dan untuk mengukur loyalitas bawahannya. Meski Presiden Prabowo berulangkali mengingatkan jajaran pemerintahan agar melakukan penghematan anggaran atau mengencangkan ikat pinggang, namun di beberapa daerah masih terlihat acara open house yang digelar mewah. Menurut Presiden, akan lebih baik bila anggaran tersebut digunakan untuk hal lain yang lebih penting bagi masyarakat. Namun sepertinya himbauan Presiden tersebut tidak sepenuhnya dipatuhi.
Terlepas dari itu semua, ada hal menarik untuk menjadi bahan renungan kita bersama. Nyatanya perilaku sebagian pejabat publik, baik pejabat politik, eksekutif, legilatif, yudikatif, maupun kalangan pejabat swasta yang dalam kesehariannya rajin beribadah, namun rajin juga dalam melakukan tindak korupsi maupun manipulasi. Artinya, ibadah yang dilakukan tidak berdampak pada perilaku kehidupan kesehariannya. Di bulan Ramadhan tahun ini saja ada beberapa kepala daerah yang kena OTT (Operasi Tangkap Tangan) KPK. Jika tidak tertangkap KPK, diyakini para kepala daerah tersebut akan menggelar acara open house di hari Idul Fitri 1447 Hijriah seperti kepala daerah lainnya. Selama ini masyarakat sering dibuat kaget ketika mendengar ada pejabat yang kesehariannya nampak alim, tiba-tiba ditangkap KPK. Dalam kurun waktu 10 tahun ke belakang, sudah berapa banyak kepala daerah dan anggota legislatif yang digaruk KPK maupun Kejaksaan Agung akibat korupsi. Jika selama bulan Ramadhan banyak diantara kita (termasuk para pejabat) yang sangat hati-hati saat berwudhu, takut apabila ada airnya sampai tertelan sehingga membatalkan puasa, tetapi mengapa tidak pernah merasa takut untuk menelan (baca: mengambil) sesuatu yang bukan menjadi haknya. Bukankah tindakan tersebut akan berakibat terhalangnya pintu surga?
Jujur harus diakui, dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat saat ini, ternyata nilai-nilai agama masih sebatas hanya dilaksanakan, tapi tidak atau belum membekas dalam ahlaq dan integritas seseorang. Padahal sabda Rasulullah SAW sangat tegas bahwa pilar utama dari ahlaq adalah berkata dengan benar, memenuhi janji dan tidak ingkar, serta tidak berkhianat kepada amanah yang telah diberikan kepada seseorang, sekecil apapun amanah tersebut. Dengan kata lain, Ramadhan belum mampu mengubah ahlaq umat Islam, khususnya para pejabat yang diberi amanah mengelola keuangan negara. Maka patut untuk kita pertanyakan kepada diri kita masing-masing tentang kualitas ibadah yang telah kita jalani selama bulan Ramadhan.
Meski I’tikaf Ramadhan telah berlalu, tidak ada salahnya jika dilanjutkan dengan berdiam diri melakukan tafakur dan perenungan ditengah suasana Idul Fitri ini. Boleh jadi akibat minimnya perenungan, kita sering terkecoh oleh perilaku diri kita sendiri. Kita sering keliru dalam merasa dan sering salah dalam beranggapan, karena kegiatan rutin yang dilakukan sehari-hari tidak sempat direnungkan. Yang terjadi kemudian justru sebaliknya, menganggap bahwa semua yang dilakukan sudah benar dan terus dilanjutkan serta dianggap wajar-wajar saja. Dengan menyempatkan diri merenung, diharapkan dapat segera diketahui letak kesalahan dan kejanggalannya, tidak mudah keliru dalam merasa, tidak salah dalam beranggapan serta tidak salah kaprah. Karena bila itu terjadi akan berakibat fatal. Mungkin kita sudah merasa telah melakukan ibadah, padahal belum. Kita merasa telah beramar makruf nahi munkar, padahal sedang berbuat anarki.
Dengan melakukan perenungan, bahwa setiap nikmat yang datang atas campur tangan-Nya. Jangan sampai kita kufur nikmat dan membuat Allah murka, karena bagi Allah sangat mudah untuk mencabut kembali nikmat yang telah diberikan kepada hamba-Nya. Meski Ramadhan dipastikan akan kembali lagi, namun tidak ada yang bisa memastikan bahwa kita masih akan dipertemukan kembali, karena semua menjadi rahasia-Nya.
Selamat Idul Fitri 1447 Hijriah, Minal Aidin Wal Faidzin.
*) Penulis Penggiat PUSKAP (Pusat Pengkajian Etika Politik dan Pemerintahan) Provinsi Lampung.

