Sakay Sambayan, Ketika Gotong Royong Menjadi Ibadah. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di pedalaman Lampung, tepatnya di kawasan Seputih Raman, daerah yang dulunya dikenal sebagai pusat persebaran masyarakat Pepadun, hiduplah sebuah keluarga kecil. Mereka adalah para petani yang setiap harinya mengolah tanah warisan leluhur. Di sanalah, secara turun-temurun, tumbuh sebuah kebiasaan yang bukan sekadar tradisi melainkan denyut nadi kehidupan. Kebiasaan itu bernama Sakay Sambayan.
Dalam bahasa Lampung dialek Api (A), sakay berarti bersama-sama memikul beban, sementara sambayan berarti saling membantu atau tolong-menolong. Jadi, Sakay Sambayan adalah semangat untuk memikul beban bersama-sama, bahu-membahu, tanpa menghitung untung rugi.

Konon, menurut naskah kuno Kuntara Raja Niti yang tersimpan di kediaman Penyimbang Adat Saibatin di Kalianda, disebutkan asal-usul semangat ini. Dalam naskah yang ditulis di atas daun lontar itu, terdapat penggalan yang berbunyi:
“Sakay sambayan ghik ulun lampung, ighang buttekhil, ighang sakei. Tiyan tepanggi mengan, tiyan tepanggi ngupi. Adokni ighang temu dadi, lom mengan saayun, lom ngupi sabidang.”
Artinya, semangat Sakay Sambayan telah mendarah daging dalam diri orang Lampung, baik yang sedang susah maupun senang. Mereka selalu bersama-sama makan, bersama-sama bermimpi (bercita-cita). Bahkan, mereka berjanji untuk selalu bersama, tidak makan sendiri dalam satu ruangan, tidak bermimpi sendiri dalam satu ruang. Ini menunjukkan bahwa kebersamaan telah menjadi inti dari kehidupan sosial mereka.

Dalam masyarakat Saibatin di pesisir, semangat ini dikenal dengan istilah lain namun dengan makna serupa. Di kalangan marga Pesisir Barat, terutama keturunan Ratu di Balik, ada legenda tentang Nenek Tepanggi. Konon, ketika nenek moyang mereka pertama kali mendarat di pantai Krui, mereka menghadapi badai dan perahu mereka hancur. Dalam keadaan lapar dan lelah, mereka berbagi makanan yang tersisa. Dari situlah lahir tradisi nganggung, mengantarkan makanan ke rumah tetangga, sebagai simbol bahwa mereka pernah selamat karena berbagi.
Dalam adat Lampung, baik Saibatin maupun Pepadun, ada satu tradisi indah yang masih bertahan meski mulai tergerus zaman, yaitu nganggung. Biasanya, tradisi ini dilakukan saat ada pesta adat seperti pernikahan, khitanan, atau upacara cakak pepadun.

Di sebuah desa di Lampung Tengah, hiduplah Minak Ratu Di Buay, seorang penyimbang adat yang sudah sepuh. Suatu hari, cucunya yang baru pulang dari kota, Nanda, melihat neneknya sibuk menyiapkan puluhan bungkusan makanan.
“Ninik, buat apa banyak-banyak ini? Kan besok pesta pernikahan tetangga kita cuma satu. Untuk apa masak sampai sebanyak ini?” tanya Nanda heran.
Minak Ratu Di Buay tersenyum. Ia lalu duduk di beranda rumah panggungnya dan mulai bercerita.
“Dulu, Nak, saat umat manusia masih sedikit, nenek moyang kita belajar satu hal: ketika perut kenyang, jangan lupakan yang lapar. Ketika hati senang, jangan lupakan yang sedih. Maka lahirlah nganggung. Setiap orang yang punya hajat, tidak hanya menjamu tamu yang datang, tetapi juga mengirimkan makanan ke rumah-rumah tetangga, terutama mereka yang tidak bisa hadir karena sakit atau tua renta.”
Nanda manggut-manggut, meski matanya masih menunjukkan tanya.
“Tapi Ninik, di kota kami pesan makanan pakai aplikasi. Tinggal klik, antar. Tak perlu repot-repot masak dan antar sendiri. Apa tradisi ini masih relevan?”
Minak Ratu Di Buay menghela napas. “Relevansi bukan soal cara, Nak. Tapi soal makna. Saat kau mengantar makanan dengan tanganmu sendiri, kau mengantar lebih dari sekadar nasi dan lauk. Kau mengantar perhatian, kau mengantar doa. Dan dalam setiap langkahmu menuju rumah tetangga, ada nilai ibadah yang tak ternilai.”

Baca Juga :  Piil Pesenggiri, Marak di Mata, Ikhsan di Hati. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Semangat Sakay Sambayan tak hanya soal nganggung. Dalam membangun rumah pun, orang Lampung memiliki tradisi begawi jama, bekerja bersama. Jika ada keluarga yang hendak mendirikan rumah, seluruh warga kampung akan datang membantu. Ada yang mengangkut kayu, ada yang menggali tanah, ada yang menyiapkan makanan.
Dalam naskah Kuntara Raja Niti yang sama, terdapat kutipan indah tentang kerja bakti ini:
“Tiyan ghik ngelamban ghik ngebangun. Tiyan muay khukhum gawi, tiyan muay khukhum rukun. Wat gawi jak tiyan, wat rukun jak Allah.”
Artinya, mereka berkebun dan membangun bersama. Mereka mengikuti aturan kerja, mereka juga mengikuti aturan kerukunan. Ada kerja dari mereka, ada kerukunan dari Allah.
Kutipan ini sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa kerja bakti bukan sekadar urusan dunia. Ia adalah ibadah yang mendatangkan kerukunan sebagai rahmat dari Allah. Seseorang yang ikut membangun rumah tetangganya, meski hanya mampu membawakan setumpuk bambu, telah menanam benih kebaikan yang akan tumbuh menjadi pohon silaturahmi.
Naskah yang sama juga menuliskan sebuah petuah:
“Mengan sakay lapah, nginum sakay teghas. Adokni ighang temu dadi.”
Makan bersama berjalan, minum bersama berhenti. Itulah tanda kebersamaan sejati. Maksudnya, dalam suka maupun duka, mereka selalu bersama. Saat berjalan (dalam kesusahan), mereka tetap bersama. Saat berhenti (dalam kebahagiaan), mereka pun masih bersama.
Namun, zaman berputar. Era digital datang dengan segala gemerlapnya. Nanda, cucu Minak Ratu Di Buay, adalah representasi generasi milenial yang lebih akrab dengan layar handphone daripada wajah tetangga. Di kampung halamannya, ia merasa asing. Bahkan saat ada tetangga yang meninggal, ia hanya mengirim pesan duka melalui grup WhatsApp.
Suatu hari, tetangga sebelah rumah neneknya, Mak Cik Seneng, jatuh sakit. Biasanya, dalam tradisi Sakay Sambayan, warga akan bergantian menjenguk, membawakan makanan, atau sekadar menemani. Tapi kali ini, banyak yang sibuk dengan urusan masing-masing. Nanda melihat neneknya berjalan tertatih menuju rumah Mak Cik Seneng, membawa sepiring makanan hangat.
“Nenek, biar saya yang antar,” kata Nanda. Hatinya tersentuh melihat perjuangan neneknya.
Saat sampai di rumah Mak Cik Seneng, Nanda melihat wanita tua itu terbaring sendirian. Matanya berkaca-kaca saat menerima makanan. “Terima kasih, Nanda. Sampaikan terima kasih pada ninikmu. Kalian masih ingat pada Mak Cik.”
Seketika, Nanda tersadar. Bahwa Sakay Sambayan bukan sekadar tradisi kuno. Ia adalah jaring pengaman sosial yang tak tergantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Ketika semua orang sibuk dengan dunia maya, justru mereka yang tersisih secara nyata.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan dalam Ingatan Orang Tua Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam perjalanan pulang, Nanda merenung. Ia teringat pelajaran sekolah tentang Pancasila, terutama sila keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Selama ini ia hanya hafal tanpa memahami. Kini ia mengerti, bahwa gotong royong adalah napas dari sila itu. Musyawarah tak akan berjalan jika tak ada kebersamaan. Keputusan bersama tak akan berarti jika tak ada kepedulian.
Ia pun teringat firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 2:

Ya ayyuhal-lazina amanu la tuhillu syaa’irallahi wa lasy-syahral-harama wa lal-hadya wa lal-qala’ida wa la amminal-baital-harama yabtaguna fadlam mir rabbihim wa ridwana(n), wa iza halaltum fastadu, wa la yajrimannakum syana’anu qaumin an saddukum anil- asjidil-harami an tatadu, wa taawanu alal-birri wat-taqwa, wa la taawanu alal-ismi wal-udwan(i), wattaqullah(a), innallaha syadidul-iqab
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”

Ayat ini menjadi fondasi. Sakay Sambayan yang sejati adalah tolong-menolong dalam kebaikan. Membangun rumah tetangga adalah kebaikan. Mengantar makanan ke orang sakit adalah kebaikan. Menjenguk yang sedang berduka adalah kebaikan. Semua ini adalah ibadah yang berpahala.
Dalam falsafah Lampung, semangat ini juga sejalan dengan Nemui Nyimah (menerima dan memberi). Ketika kita memberi, sejatinya kita sedang menerima keberkahan. Dan ketika kita menerima bantuan, kita sedang memberi kesempatan orang lain untuk berbuat baik.
Malam harinya, Nanda duduk di beranda bersama Minak Ratu Di Buay. Angin malam membawa aroma kopi dari dapur. Nanda memberanikan diri bertanya, “Ninik, bagaimana cara kami, anak muda, menghidupkan kembali Sakay Sambayan ini?”
Minak Ratu Di Buay menjawab pelan, “Tak perlu muluk-muluk, Nak. Mulailah dari hal kecil. Kenali tetanggamu. Tanyakan kabarnya. Jika mereka punya hajat, tawarkan bantuan. Jika mereka sakit, jenguklah. Jika mereka lapar, berilah. Dan jika kau tak punya apa-apa, cukup doakan mereka. Karena doa adalah bentuk tolong-menolong yang paling tinggi.”
Ia lalu mengambil selembar kertas lusuh dari sakunya. Di atasnya tertulis sebuah kutipan dari manuskrip tua koleksi keluarga:
“Sakay sambayan ighang ngukhus agama, ighang ngukhus dunia. Sapa sai lupa jama tiyan, Allah lupa jama sai. Sapa sai ingat jama tiyan, Allah ingat jama sai.”
Sakay Sambayan merawat agama, merawat dunia. Siapa yang lupa pada sesama, Allah lupa padanya. Siapa yang ingat pada sesama, Allah ingat padanya.

Baca Juga :  Buku Seri Tradisional daerah Lampung. Seri 6 — Upacara Perkawinan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Kutipan ini bukan ancaman, melainkan pengingat. Bahwa hubungan dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari hubungan dengan sesama. Ibadah vertikal (hablumminallah) harus seimbang dengan ibadah horizontal (hablumminannas). Dan Sakay Sambayan adalah salah satu wujud terindah dari ibadah horizontal itu.

Keesokan harinya, Nanda memulai langkah kecil. Ia membuat grup WhatsApp khusus warga kampung, bukan untuk sekadar kirim stiker, tapi untuk berkoordinasi jika ada yang membutuhkan bantuan. Ketika ada tetangga yang melahirkan, ia mengajak teman-temannya untuk bergantian mengantar makanan. Ketika ada warga yang sedang membangun rumah, ia mengajak anak-anak muda untuk datang membantu di akhir pekan.
Awalnya canggung. Tapi lambat laun, semangat itu menyebar. Para orang tua tersenyum melihat anak-anak muda mulai peduli lagi. Api perapian yang hampir padam, mulai berkobar kembali.
Dalam sebuah acara adat, Minak Ratu Di Buay dengan bangga memperkenalkan cucunya. “Ini Nanda. Ia mungkin tak hapal semua silsilah keluarga. Tapi ia telah menghidupkan kembali Sakay Sambayan di kampung kita. Ia telah mengerti bahwa gotong royong bukan sekadar tradisi, tapi ibadah.”
Nanda tersenyum malu. Ia tahu, perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, ia telah memilih untuk menjadi api, bukan abu. Menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Menjadi penyambung tali yang nyaris putus antara masa lalu yang indah dan masa depan yang penuh harapan.
Karena di tanah Lampung, Sakay Sambayan bukan sekadar kata. Ia adalah denyut nadi. Ia adalah bukti bahwa manusia takdirnya untuk bersama. Ia adalah wujud nyata bahwa gotong royong, jika dilakukan dengan ikhlas, akan menjelma menjadi ibadah yang cahayanya menerangi dunia hingga ke akhirat.
Marak di mata, ikhsan di hati. Sakay sambayan, dunia akhirat berarti.

SUMBER REFERENSI
1. Naskah Kuntara Raja Niti (salinan digital dari koleksi Museum Negeri Lampung “Ruwa Jurai”, Bandar Lampung)
2. Naskah Silsilah Ratu di Balik (koleksi pribadi Penyimbang Adat Saibatin di Kalianda, Lampung Selatan)
3. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Istiadat Lampung. Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung, 1990. (Buku fisik tersedia di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung)
4. Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019. (Dokumen digital tersedia di situs resmi Kemenag RI)
5. Dokumentasi Diskusi Budaya “Merawat Tradisi di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, Tahun 2023. (Arsip Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini