Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan dalam Ingatan Orang Tua Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di pesisir selatan Lampung yang debur ombaknya berbisik tentang masa lalu, hiduplah sepenggal legenda yang tak lekang dimakan zaman. Masyarakat adat Lampung Saibatin, khususnya marga Pemuka, meyakini bahwa asal-usul mereka berpijak dari sebuah batu raksasa yang menyerupai perahu terbalik. Mereka menyebutnya Batu Khaghou.

Alkisah, pada suatu masa ketika kerajaan Sekala Brak masih berjaya di pedalaman, sekelompok keluarga pelaut perkasa memutuskan mengarungi samudra. Dipimpin oleh seorang pemimpin yang digelari Sang Pemuka, mereka berlayar menggunakan perahu besar, membelah ombak Samudera Hindia yang ganas. Mereka mencari tanah baru, tanah yang dijanjikan subur dan penuh berkah.
Setelah berminggu-minggu terombang-ambing, diterpa badai dan dihajar gelombang, cakrawala menunjukkan sebuah daratan. Namun, sebelum kaki menyentuh pasir, peristiwa gaib terjadi. Perahu itu tiba-tiba berhenti. Perlahan, kayu-kokohnya berubah wujud menjadi batu cadas, mengeras menjadi formasi batuan raksasa yang kukuh. Perahu itu membatu.
Sang Pemuka tidak melihat ini sebagai musibah. Ia memandangnya sebagai sakhi, tanda nyata dari Yang Kuasa dan para leluhur. Maka, berdirilah ia di hadapan para pengikutnya dan berseru dalam bahasa Lampung kuno yang kelak tercatat dalam naskah Kuntara Raja Niti: “Disikhi lembaga, ditapai pusaka.” (Di sini kita berlabuh, di sini pusaka kita tegakkan.)

Batu itu bukan sekadar pemberhentian. Ia menjadi sumbu (pusar) peradaban baru. Di sekitarnya, upacara adat pertama digelar. Prosesi Cakak Pepadun, penobatan adat, dilaksanakan, mengukuhkan Sang Pemuka sebagai pemimpin di tanah baru.
Bagi orang tua Lampung dahulu, legenda ini bukan dongeng pengantar tidur. Batu Perahu adalah silsilah yang hidup (tarikh). Setiap lekukannya adalah cerita. Batu besar adalah Sang Pemuka, batu-batu kecil di sekelilingnya adalah anak cucu dan pengikutnya.

Sebelum Ramadhan tiba, para tetua marga Pemuka akan mengajak generasi muda untuk nyetukhukh (ziarah) ke batu tersebut. Mereka membersihkannya, menabur bunga, dan memanjatkan doa sebambangan. Ritual ini mengajarkan asalan, ingatan akan asal-usul. Orang tua dahulu percaya, mereka yang lupa pada asalan-nya akan menjadi lampah luppukh (tersesat jalan).
Batu Perahu yang membatu adalah metafora sempurna tentang hakikat manusia. Perahu yang melambangkan mobilitas dan petualangan, rela “mengorbankan” wujudnya yang cair menjadi padat, agar bisa menjadi fondasi kokoh bagi keturunannya. Begitu pula jiwa orang Lampung: di satu sisi memiliki semangat merantau sai bumi jama, tetapi di sisi lain memiliki komitmen untuk duduk sai khaghou jama, membangun dan mempertahankan tanah yang telah dipilih. Menjelang Ramadhan, batu itu seolah merindukan bulan, menjadi pengingat bahwa setelah sekian lama berkelana, saatnya jiwa berlabuh untuk menyucikan diri.

Di Bandarlampung dan berbagai pelosok Provinsi Lampung, menjelang Ramadhan, udara terasa berbeda. Ada riuh rendah yang membahana, tetapi juga kekhidmatan yang menyelinap di setiap sudut hati. Di sinilah tradisi Blangikhan atau Belangiran digelar, sebuah ritual mandi bersama yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Blangikhan berasal dari kata langir, yang berarti mandi. Namun, ini bukanlah mandi biasa. Ia adalah penyucian diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan penuh ampunan. Dalam bahasa masyarakat Lampung, mereka menyebutnya sebagai upaya untuk membersihkan hati dan jiwa agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan lebih nyaman dan penuh keberkahan.

Baca Juga :  Piil Pesenggiri di Tengah Gempuran Materialisme, Bisakah Martabat Bertahan? Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Prosesinya begitu kaya makna. Berhari-hari sebelumnya, para tetua adat dan Muli-Mekhanai (bujang-gadis) mempersiapkan perlengkapan sakral: air langir yang diambil dari tujuh sungai atau mata air keramat, bunga tujuh rupa, daun pandan, dan setanggi. Air dari tujuh sumber ini bukan sekadar air. Ia adalah representasi dari seluruh elemen alam Lampung yang dipersatukan untuk membersihkan diri.
Puncak acara diawali dengan arak-arakan kereta kencana yang mengangkut sesaji dan perlengkapan mandi. Kemudian, tibalah saat yang paling dinanti: pecah kendi oleh tetua adat. Sebuah kendi atau guci berisi air dari tujuh mata air dipecahkan sebagai tanda dimulainya ritual. Para Muli-Mekhanai lalu menceburkan diri ke sungai atau kolam, menyiramkan air langir yang telah dicampur bunga tujuh rupa ke seluruh tubuh.

Dalam setiap tetesan air Blangikhan, tersirat filosofi yang dalam. Bunga tujuh rupa melambangkan keberagaman sifat dan godaan dunia yang harus dibersihkan. Daun pandan yang harum adalah simbol dari harapan agar setelah mandi suci, seseorang memancarkan akhlak yang wangi dan menyenangkan. Setanggi yang membara adalah doa yang naik ke langit, memohon kesucian.
Orang tua Lampung dahulu mengajarkan bahwa Blangikhan bukan sekadar tradisi, melainkan ikhtiar batin. Mereka percaya, untuk memasuki ruang sakral Ramadhan, seseorang harus datang dalam keadaan suci.

Konsep ini selaras dengan ajaran Islam tentang mandi junub atau mandi sunnah sebelum beribadah, namun dikemas dalam bingkai adat yang agung. Sebagaimana yang diungkapkan dalam salah satu petuah lisan yang dinukil dari naskah tua, meski tidak secara harfiah ada dalam kitab, namun maknanya mengakar:
“Hulun Lampung sai bersih, khani hulun sai diterimo Allah.” (Orang Lampung yang bersih, itulah orang yang diterima Allah.)
Analisis filosofis dari ritual ini menunjukkan betapa leluhur Lampung memahami betul konsep kesiapan spiritual. Mereka tidak ingin memasuki bulan suci dengan hati yang masih dipenuhi dendam, iri, atau dengki. Mandi bersama juga mengikis sekat-sekat sosial. Di sungai yang sama, para penyimbang (bangsawan adat) dan rakyat biasa membersihkan diri bersama. Ini adalah praktik nemui nyimah (saling mengunjungi dan ramah tamah) dan nengah nyampur (membuka diri dalam pergaulan) yang menjadi inti dari falsafah hidup mereka. Air yang sama menyatukan mereka dalam satu niat: menyambut tamu agung dengan jiwa yang putih bersih.

Jika Blangikhan adalah pembersihan diri, maka tradisi Ngepung dan Malamang adalah persiapan menyambut tamu. Di kampung-kampung adat Lampung, sehari sebelum Ramadhan, masjid-masjid mulai “dihidupkan”. Para lelaki bergotong royong membersihkan masjid, mengganti terpal lama, dan memasang lampu-lampu baru. Ini disebut Ngepung Masjid.
Sementara itu, para perempuan sibuk di dapur dengan tradisi Malamang, yaitu membuat lemang. Lemang, ketan yang dimasak dalam buluh bambu, bukan sekadar makanan. Ia simbol dari ketekunan dan kesabaran. Proses memasaknya yang lama di atas bara api mengajarkan bahwa untuk mencapai hasil yang sempurna (ketaqwaan), diperlukan proses yang panjang dan penuh kesabaran. Aroma lemang yang memburu di malam hari menjadi penanda bahwa esok adalah hari pertama puasa.

Baca Juga :  Buku Seri : Sakai Sambayan Filosofi Tolong Menolong yang Tak Pernah Pudar. Seri - 1: Akar Filosofi yang Tertanam Dalam. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Tradisi ini mencerminkan sakai sambaian, semangat gotong royong yang menjadi salah satu pilar utama dalam kitab Kuntara Raja Niti. Tidak ada jurang pemisah antara urusan duniawi (membuat lemang) dan ukhrawi (membersihkan masjid). Keduanya melebur dalam harmoni menyambut Ramadhan.
Memasuki Ramadhan, sesat atau balai adat tidak pernah sepi. Di malam hari, setelah tarawih, para tetua adat dan kaum pria berkumpul di sesat. Bukan untuk bersenda gurau, melainkan untuk ngelunggoh (duduk bersila) sambil membaca kitab kuning atau naskah-naskah tua beraksara Arab dan Lampung. Suara lirih pembacaan Barzanji dan Kitab Maulid bergema di antara ukiran-ukiran khas Lampung.

Di sinilah transfer ilmu dan nilai terjadi secara alami. Generasi muda yang ikut ngelunggoh akan mendengar langsung kisah-kisah para nabi, tafsir Alquran, dan juga petuah adat yang bersumber dari naskah-naskah kuno seperti Kuntara Raja Niti. Di dalam kitab yang menjadi rujukan falsafah hidup orang Lampung ini, dijelaskan tentang tiga pokok hukum yang juga relevan untuk merenungi makna Ramadhan, yaitu Igama, Dirgama, dan Karinah.

Igama adalah yang nyata dan kasatmata, ibarat puasa yang terlihat oleh manusia. Dirgama adalah hati nurani, yaitu esensi puasa yang hanya diketahui oleh Allah dan diri sendiri, apakah diisi dengan kebaikan atau keburukan. Sedangkan Karinah adalah sebab akibat, buah dari puasa yang terlihat dalam perilaku sosial sehari-hari.
Dengan merenungi tiga pokok hukum ini di malam-malam Ramadhan, para tetua mengajarkan bahwa ibadah dan adat adalah dua sisi mata uang yang sama. Keduanya bertujuan menciptakan manusia yang berakhlak mulia, yang dikenal dengan istilah bejuluk beadek, memiliki kepribadian sesuai dengan gelar adat dan ajaran agama yang disandangnya.

Dalam setiap ritual Ramadhan masyarakat Lampung, kita menemukan benang merah yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ada tiga nilai spiritual utama yang secara konsisten diajarkan oleh orang tua Lampung kepada generasinya.
Pertama: Keseimbangan Kosmik (Hubungan Manusia, Alam, dan Tuhan).
Ritual seperti Blangikhan dengan air dari tujuh sumber dan bunga tujuh rupa menunjukkan kesadaran tinggi bahwa manusia adalah bagian dari alam. Menyambut bulan suci, mereka tidak hanya membersihkan diri sendiri, tetapi juga “meminta izin” dan “melibatkan” elemen alam dalam proses penyucian. Ini adalah pengakuan bahwa kesucian batin hanya bisa diraih jika hubungan dengan alam semesta juga harmonis.
Kedua: Penguatan Identitas Komunal (Piil Pesenggiri).
Setiap ritual Ramadhan melibatkan partisipasi aktif seluruh warga, dari yang termuda hingga yang paling dituakan. Ini adalah perwujudan dari piil pesenggiri, harga diri yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Harga diri orang Lampung terletak pada seberapa kuat mereka menjaga adat dan kebersamaan, terutama di bulan suci. Mereka yang tidak ikut serta dalam kegiatan adat Ramadhan dianggap tidak memiliki pesenggiri, sebuah cela sosial yang sangat berat.
Ketiga: Transmisi Pengetahuan Antargenerasi.
Ramadhan menjadi ruang kelas alami bagi masyarakat Lampung. Di masjid, di sesat, atau di dapur saat membuat lemang, para orang tua dengan sabar menuturkan cerita, filosofi, dan nilai-nilai kepada anak-anak mereka. Mereka tidak hanya mengajarkan bagaimana melakukan ritual, tetapi juga mengapa ritual itu harus dilakukan. Seperti yang dicatat oleh para filolog Lampung, manuskrip-manuskrip kuno yang tersimpan rapi di gelumpai (bilah bambu) atau di atas dluwang (kertas kayu), menjadi saksi bisu betapa pentingnya transmisi pengetahuan ini bagi masyarakat Lampung kuno.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Orang Tua sebagai Guru Adat di Bulan Ramadhan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Ramadhan dalam ingatan orang tua Lampung adalah sebuah mahakarya peradaban. Ia adalah titik temu antara kearifan lokal dan universalitas Islam. Di tengah arus modernisasi yang deras, upaya untuk merawat tradisi seperti Blangikhan bukanlah perkara mudah. Namun, seperti Batu Perahu yang tetap kokoh dihantam ombak, nilai-nilai luhur ini akan terus bertahan selama ada ingatan yang dijaga dan diceritakan.
Seperti kata pepatah Lampung, “Yoghuk mak ghai, sinji mak lupa” (Jauh di mata, jangan sampai lupa di hati). Meskipun zaman telah berubah, semangat menyucikan diri, merajut kebersamaan, dan mendekatkan diri kepada Allah yang diajarkan oleh orang tua Lampung harus tetap hidup. Karena pada akhirnya, Ramadhan adalah tentang kembali ke fitrah, dan adat Lampung mengajarkan bahwa fitrah itu berakar dari tanah, leluhur, dan doa yang dipanjatkan di setiap hening malam.
Tabik pun…

DAFTAR PUSTAKA
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Kartodirdjo, Sartono. (1993). Kuntara Raja Niti: Naskah Acuan Adat Lampung. Jakarta: Firma Nusantara.
3. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. (1978). Adat Istiadat Daerah Propinsi Lampung. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
4. Tresiana, Novita. (2020). Masyarakat Adat Lampung Saibatin: Sejarah, Adat, dan Budaya. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press.
5. Tuuk, Herman Neubronner van der. (1868). Les manuscrits Lampongs: en possession de M. le baron Sloet van de Beele. Leiden: Hooiberg & fils.
6. Sari, Indah Purnama. (2016). Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Lampung (Studi pada Masyarakat Adat Saibatin). Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 5(2).
7. Sistowardi, dkk. (2017). Eksistensi Hukum Adat Lampung Pepadun dalam Modernisasi Hukum Nasional. Jurnal Rechts Vinding, 6(2).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini