Buku Seri Lampung Pubian Dalam Komunitas Pepadun. Seri 4: Pubian dalam Konteks Sosial Kontemporer Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Pubian Bukuk Jadi merupakan bagian dari Masyarakat Adat Lampung Pubian yang mengalami perkembangan signifikan dalam struktur sosial dan persebaran wilayah pada era pasca-kolonial.
Kelompok ini awalnya merupakan bagian dari Pubian Telu Suku (Manyarakat, Tambapupus, dan Bukuk Jadi), dan secara historis berasal dari wilayah Lampung Tengah dan sekitarnya.

Namun, sebagai akibat dari mobilitas sosial, transmigrasi lokal, serta pembukaan lahan pertanian dan infrastruktur pasca kemerdekaan, kelompok Bukuk Jadi mengalami relokasi besar-besaran ke wilayah Lampung Selatan.

Nama Bukuk Jadi sendiri memiliki makna adat dan filosofis: “bukuk” (berasal) dan “jadi” (terbentuk atau terbukti). Dengan kata lain, Bukuk Jadi menegaskan identitas sebagai kelompok masyarakat adat yang memiliki akar silsilah dan sejarah, tetapi telah “jadi” atau terbentuk menjadi entitas adat yang berdiri mandiri dan solid, terutama di kawasan Natar dan Tegineneng.

Dari dokumen resmi yang dikompilasi pada 2024, diketahui bahwa Pubian Bukuk Jadi kini memiliki wilayah adat yang tersebar di:
* 14 tiyuh adat
* 12 desa
* Dalam dua kecamatan utama: Tegineneng (Pesawaran) dan Natar (Lampung Selatan).

Berikut adalah 14 Tiyuh Marga Pubian Bukuk Jadi yang ada di Kecamatan Tegineneng dan Natar dari 12 Desa
1. Gedung Gumanti (Tegineneng)
2. Bumi Agung (Tegineneng (
3. Kejadian (Tegineneng)
4. Bandar Agung (Tiyuh yang ada dalam Desa Bumi Agung. Sehingga Desa Bumi Agung ada 2 Tiyuh adat)
5. Kota Agung (Tegineneng
6. Rulung Helok (Natar)
7. Haduyang (Natar)
8. Mandah (Natar)
9. Banjar Negri (Natar)
10. Beranti Raya (Natar)
11. Merak Batin (Natar)
12. Pemanggilan (Natar)
13. Hajimena (Natar)
14. Pakuon Haji (Hajimena)

Baca Juga :  Buku Seri : Cangget, Tarian Penyatu Marga. Seri 4: Puncak Kemuliaan, Cangget dalam Gelar Adat Pepadun. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Pada Desa Hajimena sebenarnya masih ada 2 Tiyuh adat lagi yaitu Kuta Batin dan Negeri Ratu, namun berdasarkan catatan penulis 2 Tiyuh itu adalah Pubian 2 Suku.

Dalam tiap desa terdapat struktur adat yang diketuai oleh Penyimbang Adat, didukung oleh pemangku adat dan keluarga besar suku. Struktur ini bersinergi dengan pemerintahan desa, sehingga tidak jarang penyimbang adat juga memiliki peran dalam lembaga formal seperti BPD atau lembaga adat desa.

Sebagai komunitas yang bermukim di wilayah transisi antara rural (pedesaan) dan urban (perkotaan), Pubian Bukuk Jadi menghadapi tantangan sekaligus peluang. Wilayah seperti Natar dan Tegineneng menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi, pusat transportasi, dan daerah dengan migrasi tinggi.

Namun yang menarik, adat istiadat masih hidup dan dijalankan secara aktif. Prosesi seperti:
* Begawi (upacara naik pepadun)
* Naik gelar adat
* Selamatan suku
* Penyematan juluk-adok masih dijalankan, bahkan menjadi kebanggaan kolektif. Komunitas Bukuk Jadi menjadikan adat sebagai sumber identitas di tengah modernitas, bukan sebagai beban sejarah.

Salah satu kunci bertahannya adat Pubian Bukuk Jadi adalah peran generasi muda dan sinergi antar lembaga. Di beberapa desa, telah terbentuk:
* Sanggar seni adat
* Forum pemuda adat
* Majelis Penyimbang Adat Pubian Bukuk Jadi

Pemuda dilatih untuk mengenal:
* Bahasa Lampung dialek A Pubian
* Struktur gelar dan silsilah keluarga
* Tata upacara dan peran penyimbang
* Nilai-nilai adat: pi’il pesenggiri, nemui nyimah, juluk-adok, dan sakai sambaian

Baca Juga :  Makna “Sakai Sambayan” dalam Gotong Royong Warga Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Bahkan dalam beberapa kesempatan, masyarakat Bukuk Jadi aktif terlibat dalam festival budaya Lampung, menerima tamu adat dari komunitas lain, serta menjadi tuan rumah perhelatan adat berskala kabupaten.
Tantangan:
* Modernisasi dan globalisasi: gaya hidup praktis, dominasi bahasa nasional
* Perubahan tata ruang desa: ekspansi perumahan, zona industri
* Minimnya dokumentasi tertulis: sejarah adat masih dominan lisan
* Fragmentasi identitas suku dan submarga

Harapan:
* Masyarakat tetap memiliki rasa bangga terhadap adat
* Generasi muda menjadi pelaku aktif pelestarian budaya
* Pemerintah daerah mendukung penguatan kelembagaan adat
* Diperkuatnya pendidikan adat melalui muatan lokal sekolah dan forum keluarga

Pubian Bukuk Jadi bukan hanya bentuk pemekaran administratif dari marga Pubian, tetapi juga simbol keberlanjutan identitas adat di tengah tantangan zaman. Mereka adalah komunitas yang mampu menjembatani akar leluhur dari Sekala Brak dan Pugung ke dalam kehidupan kontemporer di Natar dan Tegineneng. Bukuk Jadi membuktikan bahwa adat bukan milik masa lalu, tetapi justru modal untuk menghadapi masa depan dengan jati diri.

Dalam konteks ke-Lampungan, Pubian Bukuk Jadi adalah contoh nyata dari adat yang hidup, tidak kaku, dan tetap relevan—sebuah pelajaran penting bagi masyarakat adat lain di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kuntara Raja Niti. Naskah Hukum Adat Lampung. Terjemahan dan interpretasi lisan oleh penyimbang adat Lampung. Disadur dari berbagai sumber lisan komunitas dan naskah kuno disimpan di Keratuan Skala Brak.
2. Zamzami, A. (2015). Budaya Lampung dalam Dinamika Modernitas. Bandar Lampung: Pustaka Rakyat.
3. Mujib, M. (2019). “Islam dan Kearifan Lokal dalam Adat Pepadun: Studi di Komunitas Pubian.” Jurnal Ilmiah Sosial Keagamaan, Vol. 3(2), 155–174.
4. Nurhidayat, H. (2020). Genealogi dan Struktur Sosial Masyarakat Adat Lampung Pepadun. Jakarta: Balai Adat Indonesia.
5. Medani Bahagianda, M. (2024). Catatan Penyimbang: Tradisi dan Perubahan Sosial dalam Masyarakat Pubian Bukuk Jadi. Natar: Natar Agung Publishing. (Dokumen pribadi dan riset lapangan).
6. Natar Agung.ID. (2025). “Mengenal Masyarakat Adat Lampung Pepadun.” “Pubian Telu Suku di Lampung Tengah.”
7. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. (2024). Islam dan Budaya Lampung. Repository Resmi.
8. Labsejarah FKIP UM Metro. (2023). “Asal Usul Masyarakat Lampung dalam Kitab Kuntara Raja Niti.”
9. Sari, Y. (2022). Tata Gelar dan Struktur Kepemimpinan Adat Pepadun: Studi Lapangan di Lampung Tengah. Tesis. Universitas Lampung.
10. Dokumen Internal Penyimbang Pubian Bukuk Jadi.
a. “14 Tiyuh Marga Pubian Bukuk Jadi di Tegineneng dan Natar.” (2024).
b. Dokumen tidak diterbitkan, disimpan oleh Majelis Adat Pubian Bukuk Jadi.
11. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2018). Kamus Bahasa Lampung Dialek A dan O. Jakarta: Kemdikbud.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Seri - 2. “Siger Mengajarkan Hormat: Tata Krama Membuka Bicara” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini