Penggunaan AI tanpa Aturan, Nezar Patria: Berpotensi Terjadi Disinformasi

0

nataragung.id – Jakarta – Penggunaan AI telah melampaui kesiapan pengaturan, dan berpotensi memicu disinformasi, kebocoran data, hingga ancaman keamanan siber. Kecerdasan artifisial tidak boleh dibiarkan berkembang tanpa tata kelola yang kuat.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria dalam Forum Leadership Awareness Data & AI Governance di Jakarta, Rabu (08/04/2026). Dalam forum ini, pemerintah mengingatkan perkembangan AI telah memasuki fase yang semakin kompleks.

Masyarakat dan industri, kata Nezar telah menggunkan teknologi AI secara luas oleh. Namun, belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan tata kelola dan mitigasi risiko yang memadai. Transformasi digital bergerak dengan kecepatan eksponensial dan pemanfaatan data serta kecerdasan artifisial bukan lagi wacana, bukan lagi sesuatu yang berada di masa depan.

Baca Juga :  Gibran Buka Pintu Aduan Langsung ke Istana dengan Program "Lapor Mas Wapres" - MAJALAH NATAR AGUNG

“AI itu sesuatu yang present, berada dan dihadapi setiap hari di hari-hari ini,” ujarnya.

Ia melihat masifnya penggunaan AI generatif telah merambah berbagai aktivitas masyarakat, termasuk dalam produksi konten digital yang semakin sulit dibedakan antara buatan manusia dan mesin. Sehingga makin lama makin halus, makin smooth, kadang-kadang sulit membedakan asli atau buatan. Masyarakat sulit membedakan antara buatan manusia atau dibuat mesin.

Fenomena ini dikenal sebagai realitas sintetis (synthetic reality). Saat ini menjadi tantangan besar dalam menjaga kualitas informasi publik, termasuk potensi munculnya bias, misinformasi, dan disinformasi.

Baca Juga :  Hasto Kristiyanto Menghilang Pasca di Tetapkan Sebagai Tersangka Oleh KPK

“Ini menjadi tantangan terbesar ke depan dalam melakukan mitigasi. Terutama saat produk-produk generatif AI membawa dampak, misalnya bias ataupun membawa misinformasi dan disinformasi,” uangkapnya.

Nezar mengatakan dalam menghadapi perkembangan itu, AI harus tetap berada dalam kendali manusia, terutama dalam proses pengambilan keputusan. AI harus diposisikan sebagai alat pemberdayaan, empowerment tool, bukan sebagai pengganti peran manusia.

Aspek keamanan siber, kata Nezar menjadi perhatian utama dalam transformasi digital. Pemerintah menilai meningkatnya konektivitas turut meningkatkan kerentanan terhadap serangan siber. Semakin terkoneksi dunia, makin well connected tidak ada tempat yang aman.

Meski begitu, pemerintah tetap melihat AI sebagai penggerak utama ekonomi digital nasional, dengan potensi pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Perkembangan AI dan pemanfaatan data berskala besar merupakan katalisator utama bagi pertumbuhan ekonomi digital.

Baca Juga :  Ajak Anak Jakarta Peduli Lingkungan, Rano Karno Nobar Film Pelangi di Mars

Nezar juga menjelaskan saat ini pemerintah tengah menyiapkan berbagai instrumen regulasi, termasuk peta jalan AI nasional dan etika tata kelola AI. Hal ini untuk memastikan pemanfaatan teknologi berjalan secara aman dan bertanggung jawab. (MMD).

Keterangan Foto: Wamenkomdigi Nezar Patria memberikan keynote speech dalam acara Leadership Awareness Forum Data & AI Governance di Jakarta Selatan, Rabu (08/04/2026). Foto: Anhar/Komdigi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini