nagaragung.id – Bandar Lampung – Belakangan ini sedang tren kegiatan Rihlah yang digelar pengurus masjid, pondok pesantren, dan lembaga Islam lainnya, yakni jalan-jalan bareng menuju ke suatu tempat wisata. Bagi lembaga masjid khususnya, rihlah merupakan momen yang sangat baik untuk membongkar dinding penyekat antara DKM, marbot, jama’ah sekitar masjid agar semua melebur dalam kebersamaan. Dalam konteks ini, ada yang menarik untuk diberi apresiasi dari kegiatan rihlah yang digelar pengurus masjid Al-Mu’awwanah Gedong Meneng, kecamatan Rajabasa Bandar Lampung pada Ahad 26 April 2026 kemarin. Tema yang diusung “Dari masjid ke pantai, menyatu dalam Iman dan menguat dalam kebersamaan.”
Selain tadabbur alam, dimana laut sebagai ayat kauniyah, juga untuk menguatkan ukhuwah pengurus dan jamaah masjid serta masyarakat secara keseluruhan. Dan yang tidak kalah penting adalah melatih empati dan kepedulian sosial lewat safar bareng. Acara rihlah dikemas cukup apik, diawali do’a safar bersama di titik kumpul oleh ustadz Drs. H. Refianto sebelum berangkat. Puluhan kendaraan pribadi berjalan konvoi terpimpin, tidak mencar-mencar. Ada mobil pembuka dan mobil sweeper penutup dengan kecepatan maksimal diatur, tidak ada yang boleh ninggalin. Konsepnya adalah kebersamaan dan saling tolong-menolong, berangkat bareng pulang pun diupayakan bareng.

Sampai di lokasi, diawali pesan khusus ketua takmir masjid Dr. H. Teguh Endaryanto yang didampingi Dr. H. Slameto selaku sekretaris. Tidak ketinggalan bendahara Profesor H. Tugiyono turut membersamai, sambil jaga-jaga kalau ada keperluan dana mendadak. Ada tafakur sejenak, dilanjutkan selfie foto-foto sebelum peserta menjebur ke laut. Juga ada acara makan berjama’ah yang disiapkan panitia dengan gelar tikar, nggak boleh makan sendiri-sendiri.
Ketika masuk waktu dhuhur, semua peserta salat berjama’ah di masjid yang ada di lokasi wisata. Sebelum pulang, ada aksi sosial bersih-bersih pantai. Miftahul Jannah, S.E. yang diberi kepercayaan sebagai ketua panitia dengan nada serius mengingatkan, minimal sampah dari peserta rihlah harus bersih. Aksi bersih-bersih ini merupakan bentuk dakwah bil hal ke diri sendiri dan juga pengunjung pantai yang lain. Inilah kegiatan rihlah yang sesungguhnya.
Dalam tradisi Islam dan lembaga keagamaan, rihlah punya makna khusus, yakni perjalanan yang teroganisir dengan tujuan ilmiah, spiritual, atau dakwah. Bukan sekedar jalan-jalan atau rekreasi. Rihlah punya target, pulang membawa ilmu, iman naik dan ukhuwah semakin kuat.
Jalan-jalan berekreasi hanya sebagai wasilah, bukan tujuan utama. Esensi rihlah yang sesungguhnya justru di kebersamaannya itu. Orang akan melihat rombongan rihlah yang tertib, yang saling menjaga, yang semua berhenti ketika ada kendaraan yang mogok. Ujian prakteknya disini. Ketua lembaga ikut mendorong mobil peserta yang mogok. Rihlah model begini yang bikin orang pulang membawa cerita indah dan berkesan, bukan cuma capek badan dan kepanasan.
Pengurus lembaga terasa dekat dengan jama’ah dan jama’ah pun merasa dimanusiakan. Itu dakwah yang jauh lebih kena daripada bunyi spanduk “indahnya ukhuwah.” Atau spanduknya bertuliskan “Rihlah Tarbiyah”, panitia mengumumkannya sebulan penuh. Peserta rame-rame mendaftar dengan niat mencari berkah safar. Tapi di jalan, pemandangan berubah. Rombongan kendaraan pecah, mobil tua yang mogok ditinggal. Pulang-pulang yang dibawa cuma panasnya pantai dan foto-foto. Lantas, apa bedanya dengan rombongan wisata biasa? Jika hanya namanya yang Islami, tapi ruhnya tertinggal, jangan-jangan kita cuma sedang memoles wisata dengan istilah rihlah.
Logikanya sederhana, kalau untuk menciptakan kebersamaan dalam kegiatan rihlah saja tidak mampu, bagaimana mungkin akan mampu membangun kebersamaan dalam komunitas masyarakat yang lebih besar? Sekali lagi, rihlah bukan sekadar ganti nama dari wisata, biar kelihatan religius. Tanpa pemahaman yang benar, maka rihlah hanya pindah tempat piknik dengan membawa label rihlah. Maka sudah seharusnya setiap lembaga menjadi teladan, karena umat itu tidak akan tergerak hanya dengan mendengarkan ceramah, tapi perlu contoh konkret. Tujuan rihlah bagi lembaga-lembaga Islam bukan cuma menikmati rekreasi, tapi intinya sebagai “laboratorium akhlak.” Maka tidak salah, kalau kita ingin tau pengurus lembaga atau organisasi itu solid atau cuma nampak akur di rapat, ajaklah rihlah. Perjalanan atau safar menjadi tes akhlak bagi semua, termasuk ujian kesabaran. Semua akan terlihat, mana yang memiliki sifat itsar atau mendahulukan orang lain, dan mana yang egois serta bersifat masa bodoh. Termasuk rasa tanggungjawab dan empati akan muncul dengan sendirinya, tanpa pencitraan. Seperti kata Umar bin Khotob, “engkau belum mengenal watak seseorang sampai engkau melakukan safar dengannya. Dalam kisah lain, Imam Ahmad pernah safar dengan rombongan.
Ada seseorang yang suka jalan duluan dan tidak mau menunggu bersama dengan yang lain. Lalu Imam Ahmad menegur keras, “Kita ini safar bersama, atau kamu safar sendiri? Kalau sendiri, silahkan. Kalau bersama, ikuti aturan rombongan.”
Tegas, karena safar jama’i tanpa disiplin memang berbahaya. Jujur harus diakui, kita masih sering menyaksikan acara yang diberi judul rihlah, tapi dalam pelaksanaannya tidak ubahnya seperti rekreasi biasa sehingga terasa hambar. Tidak ada briefing aturan main, tanpa koordinator lapangan yang mengatur perjalanan. Dengan alasan untuk menghindari kemacetan, kendaraan peserta dibiarkan berjalan sesuai selera masing-masing. Kalau itu alasannya, kenapa tidak diumumkan saja agar peserta bertemu di lokasi, pukul berapa? Peserta yang memiliki semangat kebersamaan pun bingung, karena tidak merasa satu rombongan. Ketika terjadi musibah, semua lepas tangan. Padahal harusnya ada kebanggaan tersendiri ketika berjalan konvoi bersama. Maka menjadi kontradiktif bila lembaga Islam sebagai penyelenggara rislah, tapi mengabaikan soal kebersamaan dan kepedulian serta solidaritas sosial. Kita terlalu sering mengaji tentang ukhuwah, bahwa muslim itu ibarat satu tubuh, tapi praktik di lapangan justru sebaliknya.
Rihlah yang benar paling tidak ada 2 hal, yakni berangkat bareng dan pulang pun bareng. Kalau ada salah satu mogok, semua berhenti. Jika rihlah tanpa solidaritas dan kesetiakawanan sosial, maka rihlah tak ubahnya piknik, rugi di pahala dan rugi di makna.
Dalam sebuah kisah, Imam Al-Auza’i rahimahullah kalau safar sengaja pilih unta yang paling lambat. Ketika ditanya kenapa, beliau menjawab: “agar aku tidak mendahului teman-temanku, dan agar yang lemah dapat mengikutiku”. Pada akhirnya, rihlah bukanlah tentang seberapa indah pantai yang kita tuju, tapi seberapa indah akhlak yang kita bawa pulang. Semoga setiap lembaga yang mengusung nama rihlah benar-benar mampu menjaga ruhnya, yakni menyatukan dan menguatkan serta meneladankan. Safar bersama jangan sampai menjadi ajang yang memisahkan, melainkan madrasah untuk mendekatkan. Harapannya, setiap rihlah yang dilaksanakan bukan hanya tertulis di brosur, tapi juga tercatat sebagai amal disisi-Nya. []
*) Penulis adalah Jama’ah masjid Al-Mu’awwanah Gedong Meneng kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung.

