Amien Rais Hapus Jejak Digitalnya. Oleh : Pepih Nugraha

0

nataragung.id – Jakarta – Dunia digital itu berkebalikan dengan jejak di atas air, memang jejak itu tak pernah benar-benar bisa dihapus. Contoh video berdurasi delapan menit yang menampilkan sosok Amien Rais yang memicu kegaduhan.

Anda yang mengikuti tulisan saya sebelumnya tentu tahu, isi video tersebut berupa Amien desakan agar Presiden Prabowo Subianto menjauhkan Teddy Indra Wijaya dari lingkaran kekuasaannya.

Kini, video itu memang telah raib dari kanal aslinya, namun ibarat penyakit sampar mematikan, salinannya telah menyebar ke segala penjuru dengan beragam narasi tambahan dari para pengunggahnya.

Menghilangnya video tersebut menyisakan tanda tanya besar di benak saya. Apakah ini sebuah bentuk “putar balik” karena rasa gentar, ataukah sebuah upaya pertanggungjawaban moral yang dilakukan secara tersirat?

Namun, dalam hukum ruang siber, kita mengenal adagium “the damage has been done”. Sekali tombol “publish” ditekan, pesan itu sudah menjadi milik publik. Fitnah atau prasangka yang dilemparkan mengenai hubungan personal antara Presiden dan asistennya itu telah menyebar bagai virus.

Baca Juga :  Cermin Retak: Pengalihan Masalah. Oleh : Mukhotib MD *)

Ironisnya, di tengah polarisasi yang masih terasa, narasi semacam ini sering kali ditelan mentah-mentah sebagai kebenaran oleh mereka yang menyimpan antipati terhadap pemerintah, tak peduli seberapa tinggi tingkat intelektualitas mereka.

Langkah Amien Rais kali ini ibarat sedang bermain-main di area rawa yang dalam dan berbahaya. Ada risiko besar bahwa manuver politik semacam ini justru akan menenggelamkan reputasi yang telah ia bangun puluhan tahun, hingga yang tersisa hanyalah nama tanpa makna. Amien bisa hilang ditelan rawa-rawa.

Okelah menghina Jokowi yang tanpa risiko karena sudah jadi mantan alias purnatugas. Lha ini menghina dan memfitnah (bukan mengkritik loh ya) Prabowo yang sedang berkuasa apa tidak “vivere pericoloso” alias nyerempet-nyerempet bahaya?

Baca Juga :  Tidak Ada yang Instan: Konsistensi, Proses Belajar, dan ‘Rumah’ dalam Perspektif Psikologi Pendidikan. Oleh : Desy Puspitasari *)

Jangan lupa, Prabowo mungkin diam tanpa reaksi. Tetapi jangan salah, dia punya instrumen segalanya yang bekerja efektif dalam senyap.

Bagaimanapun, ada batas-batas etika yang tampaknya telah dilampaui, seperti marwah kepala negara. Sebagai Presiden dan manusia pribadi, harga diri Prabowo Subianto tentu terusik oleh narasi yang menyerang sisi personalnya secara terbuka.

Pembunuhan karakter terhadap sosok Teddy, yang memiliki rekam jejak karier cemerlang, juga tidak bisa dipungkiri. Teddy harus menghadapi “kematian karakter” akibat prasangka yang dilemparkan tanpa bukti solid. Saya menduga, banyak orang yang percaya atas bualan Amien Rais ini.

Dalam tradisi jurnalisme yang mengedepankan kearifan, sosok yang dituakan biasanya diharapkan menjadi penyejuk atau kompas moral di tengah badai politik. Namun, fenomena ini justru menunjukkan kontradiksi yang tajam. Kebalikannya malah.

Baca Juga :  Cermin Retak: Kekuasaan Ala Kadarnya. Oleh : Mukhotib MD *)

Sulit untuk tidak merasa prihatin ketika sosok yang pernah dielu-elukan sebagai “Guru Bangsa” atau negarawan, kini justru lebih identik dengan lakon Sengkuni dalam pewayangan, sang pengatur siasat yang gemar mengadu domba.

Predikat negarawan bukan sekadar jabatan, melainkan buah dari kematangan berpikir dan kebijaksanaan dalam berucap. Predikat Sengkuni barangkali yang akan lebih diingat orang.

Ketika narasi yang dibangun lebih banyak mengandung kekejian daripada kritik konstruktif, maka saat itulah publik akan memberikan penilaian terakhirnya.

Dan dalam catatan sejarah, tinta yang digunakan untuk menuliskan kebaikan akan sangat mudah luntur oleh setetes racun prasangka yang disebarkan sendiri.

Tetapi Amien Rais mana peduli tentang hal itu.

Yo wisss…

***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini