nataragung.id, Metro – Pemerintah Provinsi Lampung mulai melakukan pembangunan ruas Jalan Pattimura di Kota Metro sepanjang 1,1 kilometer menggunakan konstruksi rigid beton atau cor beton.
Proyek senilai Rp9,355 miliar tersebut ditargetkan selesai lebih cepat pada September 2026 guna mengatasi kerusakan jalan yang selama ini banyak dikeluhkan masyarakat.
Berdasarkan pantauan di lokasi, pengerjaan jalan saat ini memasuki tahap awal berupa pemerataan badan jalan menggunakan batu base dan alat berat.
Sebelumnya, ruas Jalan Pattimura sempat ditinjau langsung oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal pada Februari lalu setelah banyaknya keluhan masyarakat terkait kondisi jalan berlubang dan rusak parah yang kerap menyebabkan pengendara terjatuh hingga mengalami kecelakaan.
Ruas Jalan Pattimura memiliki panjang total 3,517 kilometer. Dari total tersebut, kondisi jalan mantap sebelumnya tercatat sepanjang 2,350 kilometer atau sebesar 66,82 persen, sedangkan kondisi tidak mantap mencapai 1,176 kilometer atau 33,18 persen.
Setelah dilakukan penanganan, tingkat kemantapan jalan diproyeksikan meningkat menjadi 85,30 persen.
Jalan Pattimura sendiri merupakan salah satu ruas strategis penunjang aktivitas perdagangan, jasa, pendidikan, ekonomi, pertanian, UMKM hingga sektor kuliner di Kota Metro.
Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Lampung, M. Taufiqullah mengatakan pembangunan tahun ini difokuskan pada satu jalur terlebih dahulu sepanjang 1.100 meter menggunakan rigid pavement.
Ia menjelaskan nilai pagu proyek sebelumnya mencapai Rp10,4 miliar. Namun setelah proses tender, diperoleh nilai kontrak sebesar Rp9,355 miliar yang dikerjakan oleh CV Putra Gupit Mandiri.
“Didapat jalan panjang 1.100 meter, tapi sebelah kiri saja dulu. Duitnya memang belum cukup untuk kanan kiri karena kalau dihitung total sebenarnya pembiayaan bisa sampai Rp70 miliar,” kata Taufiqullah.
Menurutnya, kerusakan Jalan Pattimura dipicu beberapa faktor, salah satunya kondisi median jalan yang menyebabkan air hujan tertahan sehingga menggenang di tengah ruas jalan.
“Ketika jalannya miring lalu dibuat median, air hujan tidak langsung mengalir ke saluran. Akhirnya air menggenang di tengah jalan dan itu mempercepat kerusakan,” ujarnya.
Selain itu, tingginya volume kendaraan berat juga menjadi penyebab utama jalan cepat rusak. Banyak kendaraan besar dari wilayah Lampung Timur melintasi ruas tersebut sehingga beban jalan meningkat.
“Karena overloading juga jadi penyebab kerusakan. Mobil-mobil besar terlalu banyak lewat sehingga trafik di sini meningkat,” jelasnya.
Taufiqullah menuturkan pembangunan dilakukan secara menyeluruh tanpa sistem tambal sulam agar hasil konstruksi lebih kuat dan rata.
Selain pembangunan rigid beton, proyek tersebut juga mencakup pembangunan drainase guna mengatasi persoalan aliran air yang selama ini menjadi salah satu penyebab kerusakan jalan.
“Kita sudah pelajari aliran airnya supaya ke depan tidak terjadi lagi genangan akibat saluran penuh,” tambahnya.
Pengerjaan proyek ditargetkan berlangsung selama lima bulan dengan percepatan penyelesaian pada September 2026 meski kontrak pekerjaan berlaku hingga Desember.
Sementara itu, Wakil Gubernur Lampung dr. Jihan Nurlela, MM. mengatakan pembangunan Jalan Pattimura menjadi salah satu prioritas pemerintah provinsi karena tingginya aspirasi masyarakat Kota Metro agar ruas tersebut segera diperbaiki.
“Walaupun tingkat kemantapan jalan provinsi di Kota Metro sudah di atas 92 persen, ada beberapa ruas dengan kepadatan kendaraan cukup tinggi dan menjadi perhatian masyarakat, salah satunya Jalan Pattimura,” kata Jihan.
Ia menyebut pada tahun 2026 Pemerintah Provinsi Lampung cukup progresif melakukan pembangunan jalan provinsi di hampir seluruh kabupaten dan kota di Lampung dengan total penanganan mencapai 56 ruas jalan.
Menurut Jihan, prioritas anggaran tahun ini difokuskan pada daerah dengan tingkat kemantapan jalan rendah seperti Lampung Tengah dan Tulang Bawang. Meski demikian, Kota Metro tetap mendapatkan alokasi anggaran penanganan jalan.
Jihan juga meminta kontraktor pelaksana menjaga kualitas pekerjaan rigid beton sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan dan memastikan seluruh anggaran digunakan maksimal untuk pembangunan.
“Jangan sampai ada sisa anggaran yang tidak dikerjakan. Nilai kontrak sekian maka hasil pekerjaannya juga harus sesuai,” tegasnya.
Selain Jalan Pattimura, Pemprov Lampung tahun ini juga menangani ruas Jalan Soekarno-Hatta di Kota Metro dengan alokasi sekitar Rp1 miliar untuk penanganan jalan rusak sepanjang sekitar 100 meter yang saat ini masih dalam proses lelang.
Pembangunan Jalan Pattimura dilakukan secara bertahap. Tahun ini pengerjaan baru dilakukan pada satu jalur terlebih dahulu, sedangkan sisi lainnya direncanakan dilanjutkan pada tahun anggaran berikutnya.
“Kalau semua dikerjakan sekaligus tentu membutuhkan anggaran besar. Jadi kita lakukan bertahap, yang penting titik paling rusak terlebih dahulu ditangani,” ujar Jihan.
Ia berharap proses pembangunan berjalan lancar dan dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat pengguna jalan di Kota Metro.

