Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
nataragung.id – Metro – Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan keummatan yang semakin kompleks. Di satu sisi, umat Islam memiliki potensi besar dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Namun di sisi lain, masih dijumpai berbagai persoalan seperti rendahnya literasi keagamaan yang moderat, polarisasi sosial-politik, maraknya penyebaran hoaks, meningkatnya individualisme, krisis keteladanan, serta tantangan kesehatan mental akibat tekanan kehidupan modern. Dalam kondisi demikian, Hari Asyura tidak cukup dipahami hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi perlu dimaknai sebagai sumber pembelajaran psikologis dan spiritual bagi umat Islam Indonesia. Kisah-kisah para nabi dan tragedi Karbala mengajarkan bagaimana umat menghadapi ujian dengan kesabaran, menjaga persatuan di tengah perbedaan, dan tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran.
Ketangguhan Mental Umat di Tengah Berbagai Krisis.
Kisah Nabi Musa AS yang diselamatkan dari kejaran Firaun mengajarkan bahwa situasi yang tampak mustahil sekalipun masih menyimpan harapan. Nilai ini relevan dengan kondisi sebagian masyarakat Indonesia yang masih berjuang menghadapi kesulitan ekonomi, pengangguran, bencana alam, dan ketidakpastian masa depan. Dalam perspektif psikologi positif, harapan (hope) merupakan faktor penting yang membantu individu dan kelompok bertahan dalam situasi sulit. Umat Islam Indonesia membutuhkan budaya optimisme yang didasarkan pada ikhtiar dan tawakal, bukan sekadar keluhan dan pesimisme.
Kesabaran di Era Media Sosial
Salah satu tantangan terbesar umat Islam Indonesia saat ini adalah derasnya arus informasi melalui media sosial. Tidak sedikit konflik terjadi karena sikap reaktif, mudah tersinggung, dan kurangnya kemampuan mengelola emosi. Kisah Nabi Ayub AS dan Nabi Yunus AS mengajarkan bahwa kesabaran bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan psikologis. Dalam bahasa psikologi modern, kesabaran berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi (emotion regulation), yaitu kemampuan mengendalikan respons emosional agar tetap rasional dan produktif. Nilai Asyura mengingatkan umat agar tidak mudah terprovokasi oleh berita yang belum jelas kebenarannya, ujaran kebencian, maupun perdebatan yang hanya memperuncing perpecahan. Rasulullah SAW bersabda: “Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tragedi Karbala dan Pentingnya Etika Berbeda Pendapat.
Peristiwa syahidnya Sayyidina Husein RA menjadi pelajaran penting tentang keberanian mempertahankan prinsip dan nilai-nilai kebenaran. Namun lebih dari itu, tragedi Karbala juga mengingatkan umat Islam akan bahaya konflik internal yang berkepanjangan. Dalam konteks Indonesia, umat Islam terdiri atas berbagai organisasi, mazhab, tradisi, dan latar belakang sosial. Perbedaan tersebut merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Yang perlu dibangun adalah kedewasaan psikologis dalam menyikapi perbedaan. Teori Identitas Sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel menjelaskan bahwa konflik sering muncul ketika identitas kelompok dipahami secara sempit dan eksklusif. Karena itu, semangat Asyura seharusnya mendorong umat Islam Indonesia untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, bukan mempertajam sekat-sekat perbedaan.
Menghidupkan Kepedulian Sosial.
Tradisi Asyura di Indonesia sering diisi dengan santunan anak yatim, berbagi makanan, dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Dari perspektif psikologi, aktivitas tersebut memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental masyarakat. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa perilaku menolong (prosocial behavior) dapat meningkatkan kebahagiaan, rasa syukur, serta memperkuat hubungan sosial. Di tengah meningkatnya kecenderungan hidup individualistik, semangat berbagi pada bulan Muharam menjadi sarana memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial. Nilai ini sangat relevan bagi masyarakat Indonesia yang selama ini dikenal memiliki budaya gotong royong dan kebersamaan.
Asyura dan Pendidikan Karakter Generasi Muda.
Generasi muda Muslim Indonesia saat ini hidup dalam era digital yang menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan. Mereka membutuhkan figur dan narasi keteladanan yang mampu membangun karakter. Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan keberanian dan integritas. Kisah Nabi Musa AS mengajarkan kepemimpinan. Kisah Nabi Ayub AS mengajarkan ketabahan. Sementara Sayyidina Husein RA mengajarkan keteguhan dalam mempertahankan prinsip kebenaran. Nilai-nilai tersebut penting ditanamkan dalam keluarga, sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi agar lahir generasi Muslim Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.
Asyura sebagai Momentum Memperkuat Persatuan Bangsa.
Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Umat Islam sebagai mayoritas memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga persatuan nasional. Semangat Asyura mengajarkan bahwa ujian terbesar suatu umat sering kali bukan berasal dari luar, melainkan dari perpecahan internal. Oleh karena itu, peringatan Asyura hendaknya menjadi momentum memperkuat persaudaraan, memperbanyak dialog, mengurangi prasangka, dan membangun kerja sama demi kemaslahatan bersama. Sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Penutup
Bagi umat Islam Indonesia, Hari Asyura bukan hanya peringatan sejarah tentang keselamatan para nabi dan tragedi Karbala, tetapi juga momentum memperkuat ketahanan psikologis umat. Di tengah tantangan ekonomi, sosial, budaya, dan digital yang semakin kompleks, Asyura mengajarkan pentingnya harapan, kesabaran, keberanian moral, kepedulian sosial, dan persatuan. Apabila nilai-nilai Asyura mampu diinternalisasikan dalam kehidupan keluarga, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan masyarakat luas, maka umat Islam Indonesia tidak hanya akan menjadi umat yang besar secara jumlah, tetapi juga kuat secara mental, matang secara spiritual, serta mampu menjadi rahmat bagi bangsa dan kemanusiaan. (*)

