Buku Seri: Piil Pesenggiri, Falsafah Kehormatan Orang Lampung dalam Cahaya Islam. Seri 5: Piil untuk Generasi Sekarang. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Matahari pagi itu menyelinap di sela-sela kelambu. Adinda, seorang gadis Lampung keturunan Suku Abung, baru saja menyelesaikan sarapan. Di tangannya, ponsel pintar terus berbunyi. Namun, sebelum berangkat ke kantor, ia menyempatkan diri berpamitan pada ibunya dengan nyuwun sungkem, bukan sekadar basa-basi, tapi sungguhan dari hati.
“Saya berangkat, Mak,” katanya. Sang ibu tersenyum. “Ingat pesenggiri, Nak.”
Adinda tersenyum. Ia tahu betul, di era digital ini, Piil Pesenggiri bukanlah beban. Justru, itulah yang membedakannya dengan teman-teman sejawatnya.
Siapa bilang Piil Pesenggiri hanya cocok untuk urusan adat di kampung?

Coba perhatikan. Di ruang rapat sebuah perusahaan besar di Bandar Lampung, seorang manajer muda bernama Radin Putra tengah memimpin diskusi. Ia tidak pernah memotong pembicaraan orang lain. Ia mendengar dengan saksama. Ketika gilirannya berbicara, ia tegas namun santun. Inilah wujud nemui nyimah dalam dunia profesional.

Cerita anak muda Lampung yang sukses justru karena ia tahu pesenggiri.
Dulu, ada anggapan bahwa Piil Pesenggiri membuat orang Lampung terkesan “kaku” atau “gengsian.” Padahal, jika dipahami dengan benar, justru sebaliknya. Seorang yang berpegang pada Pesenggiri akan memiliki etos kerja keras (nengah), kemampuan bersosialisasi (nyappur), dan jiwa gotong royong (sakai sambayan).

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam Piil Pesenggiri sangat relevan untuk menghadapi tantangan era Revolusi Industri 5.0 Seorang Ulun Lampung yang menjunjung tinggi Pesenggiri tidak akan mudah menyerah, tidak akan bermental peminta-minta, dan selalu berorientasi pada prestasi. Inilah yang membuatnya unggul, baik di ruang kelas maupun di kantor.

Baca Juga :  Bumi Lampung dan Cara Hidup Orangnya. Seri 5 – Makan, Berkumpul, dan Berbagi. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Menurut adat, falsafah nengah mengajarkan bahwa kerja keras dan keterampilan harus diorientasikan untuk kepentingan masyarakat luas, bukan hanya untuk diri sendiri. Ini sejalan dengan nilai sakai sambayan yang mengedepankan kebersamaan.
Dalam konteks bersosial media, Piil Pesenggiri juga menjadi benteng. Rasa malu yang terpuji akan menghalangi seseorang untuk menyebarkan hoaks, berkata kasar, atau pamer kekayaan secara berlebihan. Karena semua itu adalah perbuatan yang memalukan dalam pandangan adat dan agama.
Berbahasa, bersikap, dan berbisnis dengan jiwa piil.

Seringkali kita salah paham. Melestarikan adat bukan berarti harus selalu mengenakan kain tapis, berbicara dalam bahasa Lampung sehari-hari, atau menulis aksara Lampung di setiap kesempatan. Itu semua penting, tapi bukan intinya.
Inti dari Piil Pesenggiri adalah hati Lampung: karakter yang menjunjung tinggi kehormatan, ramah, terbuka, dan gotong royong.

Lihatlah para perantau Lampung di Jakarta atau Surabaya. Mereka mungkin tidak lagi fasih berbahasa Lampung. Namun, ketika bertemu sesama Ulun Lampung, mereka tetap menyapa dengan “Tabik pun”. Ketika ada hajatan, mereka tetap menyumbang secara sukarela (sakai sambayan). Ketika ada tamu yang datang, mereka tetap menyediakan kopi dan camilan (nemui nyimah).
Mempertahankan istilah asli dalam pergaulan modern.

Generasi muda Lampung saat ini mulai akrab dengan istilah-istilah seperti “juluk” (gelar kehormatan) yang mereka sandang setelah menikah. Mereka bangga dipanggil “Raden” atau “Minak” di lingkungan pergaulan. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi sebagai pengingat akan tanggung jawab moral yang melekat pada gelar tersebut.
Dalam berbisnis, seorang Ulun Lampung yang memegang Piil Pesenggiri dikenal sebagai mitra yang dapat dipercaya. Ia tidak akan ingkar janji (pasanggiri), karena itu memalukan. Ia akan bekerja keras dan kompetitif, karena itu adalah tuntutan nengah.
Menurut adat, juok bejuluk beadek adalah puncak dari perjalanan hidup seseorang: meraih cita-cita dan mendapatkan pengakuan masyarakat. Di era modern, ini bisa diartikan sebagai jenjang karir, pencapaian akademik, atau kesuksesan dalam berwirausaha. Namun, semua itu harus diraih dengan cara yang halal dan tidak merendahkan orang lain.

Baca Juga :  Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 9: Antara Adat dan Agama. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Tanda-tanda orang mulai meninggalkan pesenggiri.

Radin Perkasa, tetua yang bijak itu, sering menghela napas. “Anak cucu sekarang, banyak yang sudah lupa pesenggiri,” keluhnya suatu sore.
Apa tanda-tandanya? Menurut pengalaman para tetua, ada beberapa ciri orang yang mulai meninggalkan Piil Pesenggiri:
Pertama, ia mudah tersinggung dan sulit menerima kritik. Padahal, orang yang memiliki pesenggiri sejati justru lapang dada, karena ia tahu kritik adalah jalan untuk memperbaiki diri.
Kedua, ia malas bergotong royong. Lebih asyik dengan ponselnya daripada membantu tetangga yang sedang punya hajatan. Padahal, sakai sambayan adalah nadi kehidupan bermasyarakat.
Ketiga, ia gengsi melakukan pekerjaan yang dianggap “rendah.” Padahal, dalam Piil Pesenggiri, yang memalukan bukanlah jenis pekerjaan, melainkan kemalasan dan ketidakjujuran.
Keempat, ia lebih suka pamer kekayaan daripada berbagi. Padahal, nemui nyimah mengajarkan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Menurut penelitian, kesalahpahaman terhadap Piil Pesenggiri sering terjadi di kalangan muda, mereka mengartikannya sebagai “gengsi” sehingga menjadi malas, kurang menerima kritik, dan gengsi untuk tampil sederhana.

Cara lembut mengingatkan keluarga dan kerabat.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Menjaga Hubungan Bertetangga di Tengah Puasa. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Para tetua dan Punyimbang tidak pernah bosan mengingatkan. Namun, mereka tidak melakukannya dengan kemarahan. Mereka memilih cara halus.
Misalnya, melalui Festival Budaya Putri Nuban, nilai-nilai Piil Pesenggiri dikenalkan dengan cara yang menarik dan kekinian. Melalui lomba Cangget dan Tarian Sigeh Penguten, anak muda diajak mencintai adat tanpa merasa ketinggalan zaman.

Di tingkat keluarga, para orang tua mulai mengajarkan Piil Pesenggiri sejak dini. Tidak hanya melalui cerita, tetapi juga keteladanan. Ketika anak pamit pergi, ia diajarkan untuk nyuwun sungkem dan mencium tangan orang tua. Bukan sekadar formalitas, tapi penghormatan yang sesungguhnya.

Di tingkat masyarakat, para Punyimbang mengaktifkan kembali sesat (balai adat) sebagai pusat pembelajaran adat. Di sini, generasi muda diajarkan tentang sejarah marga, falsafah Piil, dan cara-cara menjaga kehormatan dalam pergaulan modern.

Radin Perkasa menutup ceritanya dengan senyum. “Anak cucuku, Piil Pesenggiri bukanlah tahanan yang membelenggu. Ia adalah sayap yang membuatmu terbang tinggi. Di ruang kelas, jadilah pelajar yang berprestasi dan santun. Di kantor, jadilah pekerja yang profesional dan jujur. Di media sosial, jadilah pribadi yang bermanfaat dan tidak menyebarkan kebencian. Karena di mana pun kau berada, pesenggiri -mu adalah mahkota yang tak pernah pudar, asalkan kau terus menjaganya dalam cahaya iman.”

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini