nataragung.id – Pemanggilan – Allah Ta’ala berfirman:
{ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِینَ }
“…Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan yang indah antara ikhtiar dan tawakal. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk bertawakal tanpa berpikir, dan tidak pula mengajarkan berpikir tanpa akhirnya berserah diri kepada Allah.
Sebelum keputusan diambil, Allah memerintahkan musyawarah. Musyawarah adalah proses mengumpulkan informasi, mendengar pendapat, mempertimbangkan manfaat dan mudarat, serta memikirkan akibat dari setiap pilihan. Seorang mukmin tidak gegabah, tetapi juga tidak tenggelam dalam keraguan yang tiada akhir.
Lalu datanglah satu fase yang sangat penting:
“Apabila engkau telah membulatkan tekad…”
Artinya, setelah keyakinan diperoleh, pertimbangan dilakukan, dan jalan terbaik telah dipilih, jangan terus hidup dalam kebimbangan. Saatnya melangkah. Terlalu lama menunda karena takut gagal juga merupakan penghalang menuju keberhasilan.
Namun setelah melangkah, Allah tidak memerintahkan kita mengendalikan hasilnya. Allah memerintahkan:
“…maka bertawakallah kepada Allah.”
Inilah hakikat tawakal. Ikhtiar adalah wilayah manusia, sedangkan hasil adalah wilayah Allah. Kita diperintahkan memilih jalan yang benar, bukan memastikan hasil sesuai keinginan kita.
Betapa banyak orang yang gagal bukan karena kurang mampu, tetapi karena tidak pernah berani memulai. Sebaliknya, ada yang terus-menerus menyesali hasil setelah keputusan diambil, seolah-olah semua berada di tangannya. Padahal seorang mukmin memahami bahwa setelah ikhtiar maksimal dilakukan, apa pun hasilnya adalah pilihan terbaik yang Allah tetapkan.
Tawakal bukan berarti pasrah sebelum berusaha. Tawakal adalah ketenangan hati setelah usaha terbaik dipersembahkan. Ia membebaskan seseorang dari penyesalan yang berlebihan, dari ketakutan yang melumpuhkan, dan dari kecemasan terhadap sesuatu yang memang berada di luar kendalinya.
Karena itu, bila engkau telah meyakini suatu kebaikan, telah meminta petunjuk kepada Allah, telah memikirkan akibat dan buahnya, serta telah menempuh sebab-sebab yang benar, maka lakukanlah dengan penuh keyakinan. Jangan biarkan keraguan mencuri keberanianmu.
Sesudah itu, serahkan keputusan dan hasilnya kepada Allah. Sebab tidak ada tempat yang lebih aman untuk menitipkan masa depan selain kepada Rabb Yang Maha Bijaksana. Jika hasilnya sesuai harapan, bersyukurlah. Jika berbeda dari harapan, yakinlah bahwa Allah sedang memilihkan sesuatu yang lebih baik menurut ilmu-Nya. Itulah kehidupan seorang mukmin: berpikir dengan matang, bertindak dengan tegas, dan bertawakal dengan hati yang tenang, karena ia yakin bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (*/294).
WaAllahu A’lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

