Mutiara Pagi: Tidak Semua yang Kita Sukai Itu Baik, dan Tidak Semua yang Kita Benci Itu Buruk. (Tadabbur Surat Al-Baqarah Ayat 216). Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Salah satu kelemahan manusia adalah menilai segala sesuatu hanya dari apa yang tampak di hadapan mata. Yang menyenangkan dianggap baik, sedangkan yang menyakitkan dianggap buruk. Padahal, pandangan manusia sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah meliputi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Karena itu, Allah sering kali menetapkan sesuatu yang tidak disukai manusia, padahal di baliknya tersimpan kebaikan yang besar.

Allah Ta’ala berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak kamu sukai. Tetapi boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini turun dalam konteks kewajiban berjihad. Berperang bukanlah sesuatu yang disukai oleh tabiat manusia. Di dalamnya ada rasa takut, kehilangan harta, luka, bahkan kemungkinan kehilangan nyawa. Namun Allah mewajibkannya karena di balik pengorbanan itu terdapat maslahat yang lebih besar: menjaga agama, melindungi kaum yang tertindas, dan menegakkan keadilan.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Kita dan Sesuatu Yang Pasti. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Dari konteks khusus ini, Al-Qur’an memberikan sebuah kaidah yang berlaku untuk seluruh kehidupan.

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”

Betapa sering manusia mengeluhkan musibah, padahal musibah itu menjadi jalan kembalinya ia kepada Allah.

Betapa banyak kegagalan yang justru menyelamatkan seseorang dari kesombongan.

Betapa banyak penyakit yang membuat seorang hamba lebih dekat dengan Rabbnya.

Betapa banyak kehilangan yang mengantarkan kepada nikmat yang lebih besar.

Sebaliknya Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

“Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu.”

Tidak semua yang kita inginkan akan membawa kebahagiaan.

Harta yang melimpah dapat menjadi sebab kesombongan.

Jabatan yang tinggi dapat melalaikan dari zikir kepada Allah.

Popularitas dapat menumbuhkan riya’ dan cinta pujian.

Keinginan yang terkabul tidak selalu menjadi nikmat; terkadang justru menjadi ujian yang paling berat.

Kemudian Allah menutup ayat ini dengan kalimat yang menjadi obat bagi setiap hati yang gelisah.

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Inilah puncak pelajaran ayat ini.

Ilmu manusia sangat terbatas. Kita hanya melihat satu halaman dari sebuah perjalanan hidup, sedangkan Allah melihat keseluruhan kisahnya.

Baca Juga :  RAMADHAN MUBARAK (12) : Doa Orang yang Berpuasa Tidak Tertolak. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Kita hanya mengetahui hari ini, sedangkan Allah mengetahui hari esok.

Kita hanya mengetahui apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui rahasia hati dan akibat dari setiap pilihan.

Karena itu, seorang mukmin belajar untuk ridha terhadap ketentuan Allah. Bukan karena ia memahami semua hikmahnya, tetapi karena ia yakin kepada kesempurnaan ilmu dan kasih sayang Allah

Pendidikan Al-Qur’an sejatinya bertujuan membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu menuju ketundukan kepada kehendak Allah. Ayat ini mendidik seorang mukmin agar tidak menjadikan perasaannya sebagai hakim tertinggi. Yang menjadi hakim adalah wahyu Allah. Sebab perasaan dapat berubah, sedangkan ilmu Allah tidak pernah salah.

Maka, ketika doa kita belum dikabulkan, jangan tergesa-gesa berburuk sangka kepada Allah. Ketika kehilangan sesuatu yang dicintai, jangan langsung menganggap hidup telah berakhir. Ketika menghadapi ujian yang berat, jangan merasa Allah telah meninggalkan kita.

Boleh jadi, justru pada saat itulah Allah sedang menyelamatkan kita dari keburukan yang belum kita ketahui.

Mari merenung sejenak. Seorang mukmin tidak mengukur kasih sayang Allah dari banyaknya nikmat yang diterima, tetapi dari keyakinannya bahwa setiap keputusan Allah pasti mengandung hikmah.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Hati yang Mekar Seperti Mawar. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Ia berusaha sekuat tenaga, lalu bertawakal.

Ia berdoa dengan sungguh-sungguh, lalu ridha terhadap keputusan Allah.

Ia menerima takdir bukan dengan pasrah yang lemah, tetapi dengan iman yang kokoh, karena ia yakin bahwa Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya.

Oleh sebab itu, ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan, ingatlah firman-Nya:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengajarkan kita untuk memandang setiap takdir dengan mata iman. Sebab di balik apa yang tampak tidak menyenangkan, sering kali Allah sedang menyiapkan kebaikan yang jauh lebih besar daripada apa yang pernah kita impikan. (*/299).
WaAllahu A’lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini