Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang. Seri Islam dalam Kehidupan Adat Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, ananda sekalian. Izinkanlah seorang tua ini bercerita di beranda yang sederhana, ditemani angin senja yang berbisik di antara dedaunan. Kita akan menyusuri jejak-jejak lama yang masih membekas di tanah Lampung tercinta, merawatnya agar tak lapuk ditelan zaman.
Dahulu kala, ketika kerajaan Sekala Bekhak masih berdiri megah di kaki Gunung Pesagi, para leluhur kami sering berkumpul di bawah pohon beringin besar di tepian Way Sekampung. Di kampung-kampung seperti Gunung Sugih, Natar, dan Tegineneng, setiap senja selalu diisi dengan cerita tentang Buay, klan keluarga, dan bagaimana para leluhur berlayar menyusuri sungai mencari tanah baru. Saya masih ingat pesan nenek saya, “Nak, kenalilah dari mana kau berasal, karena di situlah kau akan tahu ke mana kau akan melangkah.”

Di tanah Sai Bumi Ruwa Jurai ini, ada dua aliran besar yang mengalir, dua jurai yang menghidupi. Ada Pepadun, mereka yang mendiami daratan dengan singgasana adatnya yang kokoh, dan Saibatin, penghuni pesisir dengan kepemimpinan yang diwariskan secara turun-temurun. Perbedaan itu bagaikan pasang dan surut di lautan, dua hal yang tak bisa dipisahkan dan justru membuat tanah Lampung subur dengan kearifan. Semua hidup rukun, diikat oleh falsafah yang sama, yang kami sebut Piil Pesenggiri.
Namun, ananda sekalian, akhir-akhir ini hati saya resah. Banyak generasi muda yang sudah tak hafal lagi marga keluarganya sendiri, apalagi silsilah leluhurnya. Mereka mungkin cakap mengoperasikan gawai, tetapi lupa bagaimana memberi salam adat yang benar ketika bertemu Punyimbang, tokoh adat yang dihormati dan mewarisi kepemimpinan berdasarkan garis keturunan. Inilah yang kita sebut sebagai gejala kehilangan akar. Padahal, mengenal akar budaya adalah upaya untuk meneguhkan identitas di tengah arus globalisasi yang deras.
Mari kita dengarkan sebuah kisah. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, yang menjadi pegangan para tetua adat dalam menjalankan kebijaksanaan, tersurat ajaran agung. Ada ungkapan yang berbunyi, “Cawa sepuluh sudi cukup, Muli meranai lamon sai ranta sapun, Raji ni sabar, Anak buwoh maka kakira”. Kurang lebih artinya, untuk mencapai ketenteraman kampung, cukuplah berbicara sepuluh kata yang bermakna; para pemuda pemudi harus santun; pemimpinnya sabar; dan rakyatnya berhati-hati. Inilah nilai yang mengajarkan bahwa kekayaan budaya bukan sekadar seremonial, melainkan perekat sosial yang kuat.
Saya teringat sebuah cerita yang sering dituturkan oleh Dalom Putekha Jaya Makhga tentang Sumpah Uppu-Tuyuk, sebuah ikrar perdamaian abadi antara Buay Beliuk dan Pubian Bukuk Jadi. Konon, ritualnya dilakukan .dengan melemparkan batu besar ke lubuk ..sungai Way Sekampung. Batu yang tenggelam melambangkan .janji yang takkan pernah diingkari; sungai yang ,mengalir melambangkan kehidupan yang terus berkesinambungan. Ini adalah wujud nyata dari Nengah Nyappur dan Sakai Sambayan yang menjadi fondasi kerukunan antar kelompok. Sumpah perdamaian antar .marga adalah manifestasi dari ajakan untuk saling ,,mengenal, bukan saling membenci.
Nilai-nilai luhur inilah yang kemudian kami jaga dan selaraskan dengan ajaran suci yang kami imani.

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 6 – Bahasa dan Rasa Hormat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sebagai orang Lampung yang beriman, kami percaya bahwa adat dan syarak bagaikan dua sisi mata uang. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13,
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja’alnaakum shu’uubanw wa qabaaa’ila lita’aarafuu inna akramakum ‘indal laahi atqookum innal laaha ‘Aliimun khabiir
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa”. Ayat ini, yang turun untuk mengajarkan persamaan derajat, selaras sekali dengan semangat Sakai Sambayan dan Nengah Nyappur. Ajaran ini menegaskan bahwa harga diri (Pesenggiri) bukanlah untuk saling meninggikan diri, tetapi untuk saling memuliakan karena ketakwaan.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 9: Harmoni Adat dan Agama dalam Keluarga Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Selaras pula dengan Pancasila, ananda. Sakai Sambayan, semangat gotong-royong, mencerminkan sila ketiga dan kelima, Persatuan Indonesia dan Keadilan Sosial. Nemui Nyimah yang mengajarkan keramahan adalah perwujudan dari sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Begitulah, adat Lampung mengalir seirama dengan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman.
Tidak ada satu pun upacara adat kami yang bertentangan dengan syariat. Ambil contoh Upacara Begawi atau Cakak Pepadun, penobatan gelar kehormatan (Juluk-Adok). Di dalamnya terkandung nilai keikhlasan, tolong-menolong, dan ajakan kepada kebaikan yang merupakan inti dari dakwah Islam. Tidak ada unsur kemusyrikan, yang ada hanyalah penghormatan kepada leluhur dan penguatan ikatan sosial. Ini semua adalah perwujudan dari Piil Pesenggiri itu sendiri.
Maka, merawat jejak hidup Lampung adalah tugas kita semua.

Kita bisa memulainya dari hal kecil: mengajak anak-anak bercerita tentang asal-usul keluarga, mengunjungi makam leluhur, atau sekadar mengenalkan lagu-lagu daerah dan tarian Cangget yang sarat makna.
Jangan biarkan mereka menjadi generasi yang keblinger, tidak mengenal dirinya sendiri. Dengan mengenal dan mencintai nilai-nilai budaya sendiri, mereka akan memiliki benteng kokoh untuk menghadapi segala tantangan zaman. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki Pesenggiri, hormat pada Juluk-Adok, santun dalam Nemui Nyimah, terbuka dalam Nengah Nyappur, dan solider dalam Sakai Sambayan.
Saya tutup dengan petuah: “Hilangnya ingatan tentang leluhur adalah musnahnya peradaban. Ajarilah anak-anakmu, karena mereka adalah pewaris marwah kita”.

Baca Juga :  Adat Istiadat Lampung di Kabupaten Pesawaran : Kondisi Terkini dan Dinamika Sosial Budaya. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Semoga jejak hidup Lampung tetap terawat, dan generasi mendatang tak pernah kehilangan arah untuk pulang ke rumah budayanya.
Tabik pun, semoga tulisan ini bermanfaat. (*)

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, M.M. (2026). Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang. Menjadi Generasi yang Tidak Kehilangan Akar. Portal Berita Natar Agung.
2. Bahagianda, M.M. (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2025). Sejarah Asal-Usul Marga Pubian Bukuk Jadi di Lampung [Buku].
3. Direktorat Jenderal Kebudayaan. (1992). Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Daerah Lampung. Repositori Kemdikbud.
4. Riadi, B. (2023). The Values of Local Wisdom in Lampung Folklore: A Piil Pesenggiri Perspective. Uluslararası Kıbrıs Üniversitesi.
5. NU Online. (2021). Mengenal Sai Bumi Ruwa Jurai, Moto Provinsi Lampung.
6. Bahagianda, M.M. (2025). Raja Terakhir Sekala Bekhak. Hatipena.
7. Raafita, D. (2022). Analisis Nilai-Nilai Dakwah Dan Komunikasi Islam Dalam Tradisi Begawi Cakak Pepadun. IAIN Metro Repository.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini