nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para penyimbang, saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Marilah kita duduk sejenak di beranda yang sama, seperti duduk di lamban adat tempo dulu, sambil menyeruput kopi pahit yang harum, mendengar suara angin berbisik di antara pepohonan.
Hari ini, kita akan mengawali seri perjalanan kita mengenal adat istiadat Lampung. Bukan sebagai pelajaran yang kering, tetapi sebagai cerita hidup yang mengalir dalam darah kita. Sebab, memahami adat adalah memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan melangkah. Sebagaimana falsafah orang tua kita, tando non ulun Lampung, wat Piil Pesenggiri. Di situlah marwah kita berdiri.
Izinkan saya mengisahkan sesuatu. Di sebuah tiyuh di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang pemuda bernama Gading. Ia dikenal gagah dan pemberani, namun hatinya panas dan seringkali meremehkan orang lain. Suatu hari, tiyuhnya kedatangan rombongan dari marga tetangga yang hendak melamar gadis pilihan.
Rombongan itu datang dengan membawa seserahan dan diiringi tabuh rebana, penuh keramahan. Namun, Gading, yang tidak suka dengan salah seorang anggota rombongan, malah menyambut mereka dengan dingin dan kata-kata pedas. Ia merasa harga dirinya lebih tinggi, sehingga tidak perlu bersikap ramah pada orang yang dianggapnya “selevel” di bawahnya.
Peristiwa itu sontak membuat malu rombongan tamu. Mereka pun pulang dengan perasaan kecewa dan hubungan antara kedua marga pun merenggang. Para tetua di kedua tiyuh pun gelisah. Mereka tahu, jika dibiarkan, perselisihan ini bisa berlarut-larut. Hingga akhirnya, seorang Punyimbang tua, memanggil Gading.
Dengan suara lirih namun berwibawa, beliau berkata, “Anakku Gading, harga diri yang sejati bukanlah seperti batu karang yang menghalangi aliran sungai. Itu adalah kebodohan, bukan kehormatan. Harga diri kita adalah seperti air yang mengalir, yang memberi kehidupan pada siapapun yang mendekatinya. Kau telah mencoreng nama baik keluargamu sendiri.”
Beliau melanjutkan dengan sebuah petuah yang menggema hingga kini, “Juluk-adok kham pegung, nemui nyimah muakhi, Nengah-nyampukh mak ngungkung, sakai-sambayan gawi”. Punyimbang itu menjelaskan bahwa kita memiliki Juluk Adok bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk lebih bijak. Kita diajarkan Nemui Nyimah (keramahan dan memberi), Nengah Nyappur (keterbukaan dan bergaul), serta Sakai Sambayan (gotong-royong).
Semua itu adalah pilar dari harga diri sejati. Gading pun menangis, menyadari kesalahannya. Atas bimbingan para tetua, ia akhirnya pergi sendiri ke marga tetangga untuk meminta maaf, membawa sirih dan pinang sebagai simbol permohonan maaf yang tulus.
Pertemuan itu pun berakhir dengan damai, bahkan kemudian terjalin pernikahan yang mempererat hubungan kedua marga. Dari kisah Gading, kita belajar bahwa adat bukanlah aturan kaku yang menghakimi, tetapi tuntunan hidup yang membawa kedamaian dan kemuliaan.
Kisah Gading tadi baru satu contoh kecil. Sebenarnya, apa itu adat istiadat? Dalam pemahaman kita, adat bukanlah sekadar serangkaian aturan yang diwariskan turun-temurun. Lebih dari itu, adat adalah nafas kehidupan, falsafah yang mengatur hubungan kita dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitar.
Masyarakat Lampung, yang kita kenal dengan semboyan Sai Bumi Ruwa Jurai (satu tanah tumpah darah yang dihuni oleh dua jurai besar), memiliki sistem nilai yang sangat luhur. Dua jurai itu adalah masyarakat Pepadun dan Saibatin. Meskipun berbeda dalam beberapa tatanan, namun keduanya bersatu dalam satu falsafah utama: Piil Pesenggiri.
Saya sering mengingatkan generasi muda, bahwa Piil Pesenggiri adalah “harga diri” dan “kehormatan”. Namun, jangan keliru! Harga diri dalam adat Lampung bukanlah kesombongan atau keengganan untuk berbaur.
Justru sebaliknya, Piil Pesenggiri terwujud dalam empat pilar yang kita kenal. Mari kita hayati bersama:
- Bejuluk Beadek (Juluk-Adok): Ini adalah gelar kehormatan yang disandang seseorang. Gelar ini bukan sekadar nama tambahan, tetapi sebuah amanah besar. Seseorang yang telah menyandang gelar harus menjadi teladan dalam moral dan tindakan.
Seperti dalam sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” Gelar adat harus membuat seseorang semakin rendah hati dan bermanfaat bagi masyarakat. - Nemui Nyimah: Ini adalah sikap ramah, saling memberi, dan penuh keterbukaan. Dalam Islam, sifat ini sangat mulia.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan puasa?” Para sahabat menjawab, “Tentu saja, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus…” (HR. Bukhari Muslim).
Sungguh, bukankah Nemui Nyimah adalah cerminan dari silaturahmi yang diajarkan oleh agama kita? Budaya ini sangat kental terlihat saat kita melaksanakan acara adat, seperti Begawi, di mana seluruh kampung datang bergotong royong, bukan hanya untuk memeriahkan, tetapi juga untuk menunjukkan tali persaudaraan yang erat. - Nengah Nyappur: Artinya keterbukaan dan suka bergaul dalam masyarakat. Orang Lampung tidak boleh menjadi individu yang tertutup. Kita diajarkan untuk “nyappur”, berbaur dan bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah.
Ini sejalan dengan nilai musyawarah dalam Pancasila dan juga Islam, yang mengajarkan bahwa urusan mereka (umat) diputuskan dengan musyawarah di antara mereka. - Sakai Sambayan: Inilah jiwa gotong-royong, saling tolong-menolong, dan bekerja sama dalam kepentingan bersama. Sering kita lihat, ketika ada kematian, pernikahan, atau bahkan membangun rumah, seluruh warga akan bahu-membahu, tanpa pamrih. Nilai ini sangat luhur dan menjadi perekat sosial yang kuat, selaras dengan ajaran Islam tentang ukhuwah (persaudaraan).
Untuk memahami adat ini lebih dalam, kita harus menilik sejarahnya. Asal-usul orang Lampung banyak ditelusuri dari dataran tinggi Sekala Brak di kaki Gunung Pesagi. Dari sanalah, nenek moyang kita menyebar ke berbagai penjuru, mengikuti aliran sungai-sungai besar seperti Way Tulang Bawang, Way Seputih, dan Way Sekampung, hingga terbentuklah marga-marga yang kita kenal sekarang.
Dalam catatan kuno, seperti yang tertuang dalam Kitab Kuntara Raja Niti, kita bisa melihat betapa teraturnya sistem pemerintahan dan hukum adat pada masa lampau, yang menjadi cikal bakal falsafah Piil Pesenggiri. Seperti tertulis dalam sebuah petuah tua, “Ulah nou bejuluk you beadek, iling mewari negiuk ngaku nemuai nyimah…” yang artinya, karena lebih utama besar dan bergelar, suka bersaudara dan terbuka tangan. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan nilai-nilai luhur telah tertanam sejak zaman kerajaan.
Sejalan dengan masuknya Islam di tanah Lampung, nilai-nilai adat ini tidak bertentangan, justru diperkuat dan diselaraskan. Syariat Islam menjadi ruh yang menghidupkan tata cara adat.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13:
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja’alnaakum shu’uubanw wa qabaaa’ila lita’aarafuu inna akramakum ‘indal laahi atqookum innal laaha ‘Aliimun khabiir
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini turun (Asbāb al-nuzūl) untuk menegaskan bahwa kemuliaan sejati bukanlah karena keturunan atau kekayaan, melainkan ketakwaan. Inilah yang menjadi landasan utama dari Piil Pesenggiri.
Seorang penyimbang tidak dihormati karena kekayaannya, tetapi karena kebijaksanaannya dan ketakwaannya kepada Allah, yang tercermin dalam perilaku sehari-hari yang menjunjung tinggi adat.
Di tengah arus modernisasi yang begitu deras, kita sering dihadapkan pada pertanyaan: masih relevankah adat istiadat ini? Sebagai orang Lampung yang hidup di bumi yang kaya ini, saya yakin, adat bukanlah penghalang kemajuan, melainkan benteng kokoh yang menjaga identitas dan karakter kita.
Nilai-nilai dalam Piil Pesenggiri selaras dengan sila-sila dalam Pancasila. Sakai Sambayan adalah gotong-royong yang menjadi inti dari sila kelima; Nengah Nyappur adalah perwujudan dari musyawarah untuk mufakat dalam sila keempat; dan Nemui Nyimah adalah cermin dari kemanusiaan yang adil dan beradab.
Nilai-nilai inilah yang harus kita rawat bersama. Jangan biarkan generasi muda kita kehilangan akar budaya, karena di dalam adat istiadat terkandung kebijaksanaan yang tak ternilai. Sebagaimana petuah dari Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, bahwa kebudayaan adalah pendorong utama pembangunan dan perekat sosial yang memperkuat solidaritas masyarakat.
Jadi, saudara-saudaraku, marilah kita jaga marwah adat Lampung ini. Bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai panduan hidup untuk masa depan. Piil Pesenggiri adalah cahaya yang menerangi jalan kita. Di dalamnya terdapat kehormatan, keramahan, keterbukaan, dan gotong-royong. Itulah jati diri kita. Sekian dulu cerita dan renungan kita pada kesempatan ini.
Semoga ada manfaatnya dan semoga Allah SWT meridhoi langkah kita dalam menjaga warisan luhur ini. Tabik pun….
Daftar Pustaka
- Hadikusuma, H. Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju, 1990.
- Mustika, I Wayan. Sekilas Budaya Lampung Dan Seni Tari Pertunjukan Tradisionalnya. Buana Cipta, 2011.
- Martiara, Rina. Nilai Dan Norma Budaya Lampung: Dalam Sudut Pandang Strukturalisme. Badan Penerbit Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2012.
- Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 02 Tahun 2019 tentang Pelestarian Adat Istiadat dan Seni Budaya Lampung.
- Saibani, Ahmad, et al. Mengenal Budaya Lampung Dalam 4 Bahasa. Ad-Print Mitra Pustaka, 2013.
- Sholihin, Bunyana. “Menyingkap Jiwa Dan Rasa Keadilan Hukum Bangsa Indonesia Dalam Naskah Klasik Beraksara Lampung (Undang-Undang Kuntara Rajaniti Dan Jugulmuda).” Jurnal Asas, Vol. 11 No. 01, 2019.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Tinggalkan Balasan