Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat LampungJejak Sejarah yang Membentuk Adat LampungOleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman. Izinkanlah saya, sebagai salah seorang yang diberi amanah menjaga marwah adat, membawa kita menyusuri jejak nenek moyang. Bukan dengan gaya yang kaku, melainkan seperti kita duduk bersama di beranda sembari minum kopi dan mendengar cerita dari para tetua.
Mari kita mulai dari sebuah kisah yang pernah bergema di tanah sekala bekhak, di kaki Gunung Pesagi yang disegani.

Dahulu kala, di dataran tinggi Sekala Brak, hiduplah sebuah komunitas yang dikenal sebagai Suku Tumi. Konon, mereka memuja sebatang pohon bernama Lemasa Kepampang, sebuah pohon nangka yang memiliki dua cabang. Satu cabang berbuah nangka, dan satu cabang lagi adalah jenis kayu bergetah yang disebut sebukau.
Keistimewaannya, jika terkena getah sebukau akan timbul penyakit, namun getah cabang nangka dipercaya menjadi penawarnya. Itulah kepercayaan turun-temurun mereka, jauh sebelum cahaya Islam menyinari tanah ini.
Kemudian datanglah empat orang Umpu dari Pagaruyung, yang membawa perubahan besar. Mereka adalah Umpu Bejalan di Way, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong, yang kemudian dikenal sebagai Paksi Pak Sekala Brak, empat bersaudara yang menjadi cikal bakal masyarakat Lampung.
Bersama Putri Bulan, mereka menyebarkan ajaran Islam dan menggantikan kepercayaan lama. Pohon Lemasa Kepampang yang dikeramatkan itu pun ditebang dan diolah menjadi sebuah singgasana yang disebut Pepadun. Sejak saat itulah, pengaruh animisme mulai terkikis, dan Islam menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
Dari Sekala Braklah, keturunan mereka menyebar ke berbagai penjuru, mengikuti aliran sungai-sungai besar seperti Way Komering, Way Tulang Bawang, dan Way Seputih. Inilah cikal bakal dari Sai Bumi Ruwa Jurai, satu tanah yang dihuni oleh dua kelompok besar adat: Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin.

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, sebuah naskah perundang-undangan adat yang sangat tua, diceritakan dengan jelas silsilah para Umpu ini. Disebutkan bahwa Indra Gajah menurunkan orang Abung, Belunguh menjadi cikal bakal orang Pesisir, dan Pak Lang menurunkan orang Pubian.
Kitab ini menjadi salah satu rujukan utama kita, sebuah bukti bahwa leluhur telah menyusun aturan hidup yang begitu teratur. Naskah-naskah seperti ini, yang berisi undang-undang adat Krui atau kitab hukum adat lainnya, adalah saksi bisu betapa adat Lampung telah lama menjadi pedoman hidup yang kokoh.
Mengenal “Piil Pesenggiri”, Jati Diri Orang Lampung
Kita semua tentu sering mendengar falsafah ini. Tapi, apa sebenarnya makna Piil Pesenggiri? Dalam bahasa sehari-hari, ini adalah tentang harga diri dan kehormatan. Sebuah petuah tua dalam dialek ‘O’ berbunyi: “Tando nou ulun Lappung, wat pi’il pesenggiri, you balak pi’il ngemik malou, igo dighi, ulah nou bejuluk you beadek, iling mewari negiuk ngaku nemuai nyimah ulah nou pandai you nengah you nyappur, ngubali jejamo, begaway balak, sakai sambayan.”
Yang kurang lebih berarti, tanda orang Lampung adalah memiliki Piil Pesenggiri, berjiwa besar, menjaga malu, dan menghargai diri. Ia memiliki gelar yang terhormat, suka bersaudara, ramah, dan pandai bergaul. Semua itu disatukan dalam semangat gotong-royong.

Falsafah ini kemudian terurai dalam empat pilar utama:

  1. Bejuluk Beadek (Juluk-Adok): Ini adalah tentang memiliki nama dan gelar kehormatan. Bukan sekadar untuk kebanggaan, tetapi sebuah tanggung jawab. Seseorang yang telah menyandang gelar adat dituntut untuk menjadi teladan, berperilaku terpuji, dan menjaga nama baik keluarganya.
    Ini mengajarkan kita untuk terus berjuang meningkatkan kualitas diri, sejalan dengan firman Allah dalam Surat Ar-Rad ayat 11,
    لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهٖ يَحۡفَظُوۡنَهٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوۡمٍ سُوۡۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهٖ مِنۡ وَّالٍ
    Lahuu mu’aqqibaatum mim baini yadaihi wa min khalfihii yahfazuunahuu min amril laah; innal laaha laa yughaiyiru maa biqawmin hattaa yughaiyiruu maa bianfusihim; wa izaaa araadal laahu biqawmin suuu’an falaa maradda lah; wa maa lahum min duunihiiminw waal
    “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
  2. Nemui Nyimah: Keramahan dan sikap saling memberi. Ini adalah jiwa orang Lampung dalam menyambut tamu atau sesama. Dalam setiap hajatan, dari pernikahan hingga acara adat Begawi, semangat ini selalu terpancar. Kita diajarkan untuk tidak datang dengan tangan hampa dan menerima dengan lapang dada.
    Nilai ini sangat selaras dengan ajaran Islam tentang silaturahmi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa menyambung tali persaudaraan dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan umur.
  3. Nengah Nyappur: Keterbukaan dan kemampuan bersosialisasi. Orang Lampung diajarkan untuk pandai bergaul, bermusyawarah, dan menyelesaikan masalah bersama. Tidak ada ruang untuk sikap eksklusif, karena kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Inilah cermin dari Pancasila, sila ke-4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
  4. Sakai Sambayan: Gotong-royong. Ini adalah pilar yang paling terlihat dalam keseharian, terutama saat ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan bersama, seperti membangun rumah atau mengadakan pesta adat. Semangat ini adalah kekuatan sosial yang luar biasa, mengajarkan kita bahwa beban akan terasa ringan jika dipikul bersama.

Begitulah, cerita tentang kita, tentang asal-usul yang sarat makna. Dari pohon keramat yang ditebang, lahirlah Pepadun yang menjadi lambang persatuan. Dari empat Umpu, lahir beragam marga yang tersebar. Dan dari semua itu, terukir dengan indah falsafah Piil Pesenggiri yang membentuk karakter kita.
Nilai-nilai ini bukanlah penghalang bagi modernitas, melainkan perekat bagi identitas. Semangat Nemui Nyimah mengajarkan kita untuk tetap ramah, Nengah Nyappur mengajak kita untuk terbuka, dan Sakai Sambayan mengingatkan kita untuk selalu membantu.
Marwah adat Lampung adalah marwah kita bersama, yang harus kita jaga agar tetap berdiri tegak, seirama dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila yang kita junjung. <>

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *