Blog

  • Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat Lampung. Dua Pilar Adat Lampung: Saibatin dan Pepadun. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat Lampung. Dua Pilar Adat Lampung: Saibatin dan Pepadun. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat Lampung.
    Dua Pilar Adat Lampung: Saibatin dan Pepadun.
    Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman. Saya kembali lagi di beranda ini untuk melanjutkan cerita tentang dua pilar adat Lampung yang megah. Kali ini, izinkan saya mengajak Anda menyelami lebih dalam, seperti kita duduk lama di bawah rindangnya pohon beringin di halaman kampung, ditemani secangkir kopi tubruk dan kue sagon, sementara angin sore membawa wewangian dari dapur yang sedang memasak.
    Mari kita buka kembali lembaran kisah Arsil dan Jaya, dua sahabat yang dulu hampir berselisih karena perbedaan adat.
    Setelah perbincangan hangat di bawah pohon beringin, Arsil dan Jaya memutuskan untuk saling mengunjungi kampung masing-masing. Arsil, si anak pesisir dari kampung Pugung Tampak di Krui, datang ke kampung Jaya di Bumi Dipasena Abung, Way Kanan.
    Betapa terkejutnya ia melihat prosesi Cakak Pepadun yang diadakan untuk menghormati seorang sesepuh yang baru saja memperoleh gelar adat. Di hadapannya, terhampar sebuah singgasana kayu berukir indah yang disebut Pepadun. Sang calon pemimpin adat, dengan pakaian serba hitam dan Siger sembilan lekuk di kepalanya, didampingi oleh Punyimbang marga, naik ke atas singgasana itu diiringi tabuhan gendang dan puja-puji dari masyarakat.
    Jaya menjelaskan, “Ini adalah Cakak Pepadun, sahabatku. Bukan semua orang bisa naik ke sini. Harus melalui musyawarah, harus sudah dianggap layak oleh tetua adat, dan harus siap memikul tanggung jawab besar.” Arsil termangu, hatinya menghangat melihat semangat gotong royong yang begitu kental.
    Ia teringat di kampungnya, tradisi memang berbeda.

    Gelar Punyimbang di adat Saibatin didapat bukan melalui upacara seperti ini, melainkan melalui warisan keturunan. Namun di kedua tempat itu, ia melihat hal yang sama: pengabdian kepada masyarakat, pengorbanan untuk sesama, dan kesucian niat untuk menjaga marwah adat.
    Bulan berikutnya giliran Jaya yang berkunjung ke kampung Arsil di pesisir Krui, tepatnya di kampung Negeri Ratu Ngaras. Di sana, ia menyaksikan upacara perkawinan adat Saibatin yang begitu sakral. Ia melihat prosesi bejujukh, di mana pihak mempelai pria menyerahkan jujukh atau maskawin kepada pihak mempelai wanita.
    Ada pula yang disebut semanda, di mana anak cucu akan tetap diakui sebagai keturunan dari garis pihak ayah namun dengan beberapa keistimewaan tertentu. Begitu rumit dan terstruktur, namun di setiap langkahnya, terlihat jelas penghormatan yang mendalam terhadap leluhur dan nilai-nilai kekeluargaan.

    Kisah Arsil dan Jaya hanyalah cerminan kecil dari perjalanan panjang dua sistem adat ini. Menurut naskah kuno Kuntara Raja Niti yang menjadi rujukan utama masyarakat adat Lampung, yang disusun oleh para Punyimbang terdahulu sebagai pedoman hidup dan perundang-undangan adat, disebutkan bahwa sistem dua jurai ini berakar dari kedatangan empat Umpu dari Pagaruyung ke Sekala Brak.
    Dalam tulisannya, Mohammad Medani Bahagianda gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, menjelaskan bahwa keempat Umpu ini adalah tokoh sentral yang menyebarkan ajaran Islam sekaligus membangun tatanan adat yang kita kenal sekarang.
    Dalam lembaran naskah Kuntara Tulang Bawang, yang saya pernah lihat di rumah seorang Punyimbang di kampung tua Bumi Jaya, tertulis dalam aksara Lampung kuno yang diterjemahkan oleh para ahli: “Mula jadi Umpu di Sekala Brak, empat jurai jadi di bumi, bepencar ke way-way, jadi tiyuh di hulu-hilir, bedoa sistem adat, bukannya jadi bercerai, malah jadi kekuatan Sai Bumi Ruwa Jurai.”
    Yang kurang lebih berarti, “Bermula dari Umpu di Sekala Brak, empat kelompok menghuni bumi, menyebar ke sungai-sungai, berdiam di hulu dan hilir, memiliki dua sistem adat, bukan untuk bercerai, melainkan menjadi kekuatan Satu Bumi Dua Jurai.”
    Kutipan ini begitu dalam maknanya. Ia mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah sumber perpecahan, melainkan sebuah rahmat yang menguatkan.
    Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 13:
    يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
    Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja’alnaakum shu’uubanw wa qabaaa’ila lita’aarafuu inna akramakum ‘indal laahi atqookum innal laaha ‘Aliimun khabiir
    ” Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

    Ayat ini turun (asbāb al-nuzūl) sebagai teguran kepada kaum Muslimin di Madinah yang terkadang merasa lebih unggul dari suku lain, dan menjadi dasar bagi kita untuk menghormati perbedaan sebagai bagian dari sunnatullah.
    Mari kita telaah lebih dalam perbedaan strukturnya berdasarkan kajian para ahli adat. Dalam masyarakat Saibatin, terdapat tingkatan yang cukup kaku dan hierarkis. Seorang Punyimbang adalah pemimpin adat tertinggi yang memegang gelar Sutan atau Raden, dan kedudukannya diperoleh melalui garis keturunan. Ada istilah Anak Dalom, Anak Ratu, dan Anak Jukku yang menggambarkan tingkatan kebangsawanan.
    Ini mirip dengan sistem aristokrasi, di mana darah biru menjadi penentu status. Dr. Hasan Basri, dalam penelitiannya tentang sistem sosial Lampung, mencatat bahwa struktur ini sangat kuat di wilayah pesisir karena pengaruh kerajaan-kerajaan Melayu dan Banten di masa lalu.
    Sementara dalam sistem Pepadun, struktur sosialnya lebih egaliter. Kita mengenal Punyimbang marga yang dipilih berdasarkan musyawarah dan kemampuan. Ada juga Kepala Adat, Batin, dan Mantri yang memiliki tugas masing-masing. Yang menarik, seseorang yang berasal dari keturunan biasa pun bisa menjadi Punyimbang jika ia telah memenuhi syarat dan melalui upacara Cakak Pepadun.
    Hal ini dijelaskan secara rinci oleh Dalom Putekha Jaya Makhga dalam bukunya, bahwa sistem ini lahir dari kebutuhan masyarakat pedalaman yang lebih mengutamakan kepemimpinan berdasarkan prestasi dan pengabdian, bukan semata keturunan. Ini mengajarkan kita bahwa prestasi dan pengabdian lebih utama daripada keturunan semata. Nilai ini sangat selaras dengan semangat Pancasila sila ke-5, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Berbicara tentang upacara, keduanya memiliki kekayaan ritual yang tak terhingga. Dalam bukunya “Mengenal Budaya Lampung”, Dalom Putekha Jaya Makhga menjelaskan perbedaan mendasar dalam perlengkapan adat. Masyarakat Saibatin memiliki Siger dengan bentuk yang berbeda, biasanya berlekuk tujuh. Pakaian adatnya juga lebih dipengaruhi oleh budaya pesisir Melayu, dengan penggunaan kain songket dan hiasan emas yang mewah.
    Masyarakat Pepadun juga memiliki Siger dengan sembilan lekuk yang melambangkan sembilan marga Abung asal. Upacara Cakak Pepadun yang menjadi ciri khasnya tidak dikenal dalam adat Saibatin, sebagaimana masyarakat Saibatin memiliki tradisi bejujukh dan semanda yang tidak umum di Pepadun.
    Meskipun berbeda, semuanya mengandung nilai-nilai luhur yang tidak bertentangan dengan Islam. Dalam setiap upacara, selalu ada pembacaan doa dan dzikir kepada Allah, dan tidak ada unsur syirik atau menyekutukan Tuhan.
    Meskipun banyak perbedaan, kita tidak boleh melupakan persamaan yang jauh lebih fundamental. Baik Saibatin maupun Pepadun sama-sama menganut sistem kekerabatan patrilineal, di mana garis keturunan ditarik dari pihak ayah. Keduanya juga sama-sama menjunjung tinggi falsafah hidup Piil Pesenggiri yang terdiri dari Pesenggiri (harga diri), Bejuluk Beadek (gelar kehormatan), Nemui Nyimah (keramahan), Nengah Nyappur (keterbukaan), dan Sakai Sambayan (gotong royong). Nilai-nilai inilah yang menjadi inti dari identitas orang Lampung, dari pesisir Krui hingga pedalaman Way Kanan.

    Sebagaimana dijelaskan oleh Dalom Putekha Jaya Makhga dalam tulisannya, kelima pilar ini adalah fondasi moral yang diajarkan turun-temurun. Sakai Sambayan, misalnya, adalah cerminan dari semangat gotong royong yang diajarkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam rasa cinta, kasih sayang, dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak dapat tidur.” Nilai ini juga sangat selaras dengan sila ke-3 Pancasila, Persatuan Indonesia.
    Kembali ke kisah Arsil dan Jaya, setelah saling memahami adat masing-masing, persahabatan mereka menjadi semakin erat. Mereka menyadari bahwa meskipun sistem berbeda, nilai-nilai dasarnya sama: menghormati leluhur, menjaga martabat, dan mengabdi kepada masyarakat.
    Sebuah petuah dari tetua di kampung mereka berbunyi: “Bagi butik di hulu, bagi butik di hilir, minum air dari way yang sama, Sai Bumi Ruwa Jurai.”
    Artinya, “Meskipun bercocok tanam di hulu dan di hilir, kita minum air dari sungai yang sama, Satu Bumi Dua Jurai.” Petuah ini mengingatkan kita bahwa perbedaan hanyalah permukaan, sedangkan akar kita tetap satu.
    Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan sebuah nasihat dari para tetua yang saya dengar langsung dari Punyimbang di kampung Bumi Dipasena: “Adat tidak pernah mengajarkan perpecahan. Adat mengajarkan kita untuk saling memahami. Karena yang membedakan hanyalah cara, tetapi tujuan kita sama: menjaga kehormatan, mengabdi pada masyarakat, dan mendekatkan diri kepada Allah.”
    Begitulah, para pembaca yang saya hormati. Adat Saibatin dan Pepadun adalah dua pilar yang menopang bumi Lampung. Janganlah kita terpaku pada perbedaan yang tampak, tetapi lihatlah persamaan yang mendasar. Marilah kita jaga kedua pilar ini agar tetap kokoh.
    Karena selama Saibatin dan Pepadun masih berdiri tegak, selama itu pula marwah adat Lampung akan tetap bersinar. Saya titipkan pesan ini kepada kita semua, agar anak cucu kita kelak masih bisa merasakan hangatnya adat yang kita warisi. Tabik pun, semoga Allah meridhoi langkah kita semua. <>

    Daftar Pustaka:

    1. Bahagianda, Mohammad Medani, gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. Adat Istiadat Lampung dan Perkembangannya. Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung, 1998.
    2. Bahagianda, Mohammad Medani, gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. Mengenal Budaya Lampung. Jakarta: Balai Pustaka, 2003.
    3. Naskah kuno Kuntara Raja Niti (koleksi pribadi adat Pepadun, kampung Bumi Dipasena, Way Kanan).
    4. Naskah kuno Kuntara Tulang Bawang (koleksi pribadi adat Saibatin, kampung Negeri Ratu Ngaras, Krui).
    5. Hasan Basri, Dr. Sistem Sosial Masyarakat Lampung: Kajian Antropologis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005.
    6. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Surat Al-Hujurat ayat 13.
    7. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim tentang perumpamaan tubuh kaum mukmin.

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • Cekhita Lappung – Nasihat Mehayu: Jukuk Jak Tetangga Tenah-han Lebih Hujau.Tulisan: Mang Kumir *)

    Cekhita Lappung – Nasihat Mehayu: Jukuk Jak Tetangga Tenah-han Lebih Hujau.Tulisan: Mang Kumir *)

    nataragung.id – Teginenong – Pagi mehayu di-khani Ahad tekhasa sejuk nihan. Sekhadu begawi Sakai-sambayan ngedawakko lingkungan, pikha-pikha jelema sing-ngah di wakhung kupi Bu Ijah. Secak-kekh kupi halom khik putti gukhing jadi khik bekicik’an. Anjak ngebalah ko sai happang-happang, tiba-tiba balahan mehili guk tema sai khadik jama kehukhi’an kaban kha-gah.

    Ahmad umokh 45 tahun, ngalah-ngaduh, ngehela hang-ngas tijang suwa cawa. “

    “Pusing nihan nyak weh, lamon diajak kebayan guk pasakh. Susah temon ngejaga pengenahan.”

    Anwar sai mejjong di sapping ni ngangguk suwa nyengih pahik menimpali. ” Layin cuma guk pasakh, Mad. Dipa-dipa gegoh-gawoh. Di mall, di halte, di parkiran, malahan di ngan olahraga. Khasa ni mata sa tekhus di uji.”

    Sanusi sai paling tuha nutuk bebalah.

    ” Yu, haga gohpa lagi. Zaman kak gohiji. Dipa-dipa aurat ditut-tunko. Picawi solusi ni Ustadz?”

    Anjak jeno Ustadz Munawar cuma nengisko gawoh. Beliau ngeppik ko cakkekh kupi ni suwa cawa lalun.

    “Allah khadu nyediakon khanglaya luwah ni. Sai pertama, tundukkon pengenahan.”

    Beliau tekhus ngebaca ko firman Allah:

    «قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

    Khat-ti ni: “Cawako jama kaban kha-gah sai beriman tagan tiyan menunduk ko pengenahan tiyan khik ngejaga kemaluan tiyan. Sai gegoh na lebih suci bagi tiyan. Sesungguh ni Allah Maha mengetahui api sai tiyan kekhaj-ja ko.” (QS. An-Nur: 30).

    Lamun mak sengaja mata ngenah sai hakham. Dang di ulang. Geluk lingos ko pudak anjak ngenah ni, nayah-nayahko istighfar.”

    Beliau tekhus ngebacako hadist Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

    «يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ…»

    Khat-ti ni: “Wahai Ali, dang niku nutuki pengenahan mu sai pertama jama pengenahan bekhikut ni. Pengenahan pertama di mah-haf ko, sedongko sai ke-khua jadi tanggung-jawab mu.” (HR. Abu Dawud khik Tirmidzi)

    “Tekhus geluk-geluk ingok wat kebayan mu di mahan.”

    Beliau tekhus ngebacako hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu tentang Rasulullah ﷺ sai mulang ngekhatongi kebayan ni ketika khatong kege-khingan ni jama bubay bakhih, tekhus bersabda:

    “Mula lamun wat diantakha kuti ngenah bubay tekhus luwah kege-khingan, hendaklah ia ngekhatongi kebayan ni, ulah sai demikian ina dapok ngelebonko gejolak sai ngedok delom dikhi ni.” (HR. Muslim no. 1403).

    Ahmad ngekuy hulu ni suwa sengah-sengih.

    “Nah…, sina lah masalah ni, Ustadz. Api sai wat di mahan ternyata bida jama sai wat di khanglaya. Sai di luwah tenahan lebih bening.”

    Sanusi lalang lalun.

    “Ha-ha-ha…. sangun temon, Ustadz. Jukuk tetangga sangun ge-khing tenahan lebih hujau.”

    Ustadz Munawar nyengih bijak.

    “Sinalah tipu daya belis. Belis selalu ngehias bakhang sai layin jak kham, tagan tenahan lebih hallaw. Padahal sai halal jawoh lebih ngusung ketenangan anjak sai hakham.

    Beliau tekhus ngebacako firman Allah:

    وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

    Khat-ti ni: “Dang niku nunjuk ko pengenahan mu jama kenikmatan sai kak Ikam juk ko jama pikha-pikha golongan diantara kuti sebagai bunga kehukhi’an dunia.” (QS. Thaha: 131)

    Anwar nutuk nyappai ko isi hati ni. “Yu Ustadz…
    andai kebayan-kebayan Ikam munih faham. Ikam mekhattok tiyan tampil rapi, mekh-khum, mukhah senyum, bangik di ten-nah. Layin guway kha-gah bakhih, tapi guway mengiyan ni pesai.”

    Ahmad langsung nim-mbal suwa lalang.

    “Hahaha…, temon cawa jelema Pelim-mbang, ‘wat khupa wat khag-ga.’ Siap awat Pak Anwar ngebeliko skincare, baju hallaw, minyak mekh-khum jama kebutuhan layin ni?”

    Unyin sai ngedok di wakhung lalang.

    Ustadz Munawar nutuk nyengih. Tekhus cawa. “Nah… sina munih tanggung-jawab mengiyan.”

    Beliau tekhus ngebacako hadist:

    خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

    Khat-ti ni: “Sebetik-betik ni kuti adalah sai paling betik jama keluarga ni, Nyak adalah ulun sai paling betik jama keluarga ku.” (HR. Tirmidzi)

    “Ngeguway kebayan ngekhasa di khag-ga’i, dibahagiako, dijuk nafkah sai betik, kaway sai layak, perhatian, kasih-sayang, ina bagian anjak akhlak mengiyan.”

    Beliau tekhus ngelanjutkon.

    “Tapi ingok, kebahagiaan rumah tangga mak ditegi ko hanya jama pudak sai sikop atau kaway sai hallaw. Sai paling penting ialah syukur. Dang sibuk ngitung kekukhangan pasangan, tapi nayah-nayahko ingok kelebihan ni. Sebab mak ngedok jelema sai sempurna.”

    Beliau tekhus ngebacako hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :

    لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ»

    Khat-ti ni: “Dang lah ulun mukmin ngebet-ji kebayan ni. Lamun ia mak ge-khing sai kelakuan ni, tattu wat kelakuan ni sai bakhih sai di ge-khingi ni.” (HR. Muslim)

    Suasana jadi hening. Masing-masing hanyuk delom renungan.

    Matakhani tam-mbah khang-ngal. Han-ndop ni mulai te-khasa. Cak-kekh kupi khadu kosong. Unyin tiyan pekhadda salaman, tekhus mulang guk mahan masing-masing.

    Dihati tiyan tetanom sai pelajakhan:

    Jukuk tetangga sangun tenahan lebih hujau ulah ditinuk anjak jawoh. Tapi jukuk di tekhabbah mahan pesai, jawoh lebih hallaw lamun di rawat jama khasa syukur, kasih-sayang khik ketakwaan guk Allah Subhanahu wa Ta’ala. (*)


    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair
    📚 Cekhita Lappung

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Terinspirasi Oleh Instruksi Gubernur Mirza Tentang Kamis Beradat, nataragung Cetak Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Bahasa Lampung

    Terinspirasi Oleh Instruksi Gubernur Mirza Tentang Kamis Beradat, nataragung Cetak Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Bahasa Lampung

    nataragung.id – Natar – Terinspirasi oleh instruksi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal tentang Kamis Beradat, nataragung akan mencetak buku kumpulan Khutbah Jum’at Bahasa Lampung.

    Menurut pemimpin redaksi nataragung H. SyahidanMh, SAg., gelar Buay Sakti, akan dicetaknya kumpulan buku Khutbah tersebut dalam rangka mengimplementasikan Instruksi Gubernur Lampung Bapak Rahmat Mirzani Djausal Nomor : 4 Tahun 2025 tanggal 30 Desember 2025 tentang hari Kamis BERADAT yaitu sebagai upaya memperkuat pelestarian Bahasa Daerah dan Budaya Lampung dilingkungan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan lingkungan pendidikan se-provinsi Lampung.

    Lebih lanjut dikatakannya, meski masjid bukan bagian yang diatur dalam instruksi tersebut, namun tidak ada salahnya warga masyarakat Lampung khususnya para khatib shalat Jum’at turut serta melestarikan bahasa Lampung dengan kegiatan nyata yaitu membacakan khutbah Jum’at dalam bahasa Lampung.

    Selain itu masih menurut Syahidan, pada wilayah tertentu di provinsi Lampung, sudah banyak saudara-saudara kita warga masyarakat suku Jawa yang membaca khutbah dalam bahasa Jawa, bahkan buku-buku Khutbah berbahasa Jawa sudah beredar luas dan sudah dijual di toko-toko yang tersebar di kota-kota besar di provinsi ini.

    Dikatakan Syahidan, Khutbah Jum’at Bahasa Lampung yang akan dicetak memakai dialeg A, yang biasa di pakai oleh Lampung Pesisir atau Saibatin dan Lampung Pubian khususnya Pubian Marga BukkukJadi yang tersebar di Kecamatan Natar Lampung Selatan dan Kecamatan Tegineneng, Pesawaran.

    Dirinya menyadari naskah (dialeg) yang disajikan dalam buku Khutbah masih jauh dari kata sempurna, namun prinsip kami “Lamon Mak Gatta Kapan Lagi, Lamon Mak Kham Sapa Lagi,” ujar Syahidan yang juga bertindak sebagai editor Bahasa Lampung dalam buku Khutbah tersebut.

    Syahidan menguraikan, khutbah Jum’at Bahasa Lampung ini bisa dibaca para Khatib di masjid pada tiyuh atau desa yang jama’ahnya orang Lampung pribumi, sehingga apa yang disampaikan oleh khatib, jama’ahnya akan nyambung dan faham. “Kan banyak masjid yang berdiri di kampung-kampung orang Lampung pribumi, apalagi di kampung orang Lampung Pesisir dan Pubian Marga BukkukJadi, maka disitulah khutbah Jum’at Bahasa Lampung ini sebaiknya di baca,” kata Syahidan.

    “Perlu diketahui bahwa kumpulan khutbah ini seluruh materi atau isinya sudah di terbitkan di nataragung, yang diupload setiap hari Kamis,” tambah Syahidan.

    Selain Khutbah Bahasa Lampung, dalam buku itu juga disajikan khutbah versi Bahasa Indonesia, agar para khatib ada alternatif dalam membacakan Khutbah, apakah akan mempergunakan Bahasa Lampung atau tetap pakai Bahasa Indonesia. “Materi atau isi khutbah tetap sama, hanya bahasa saja yang berbeda yaitu bahasa Lampung dan bahasa Indonesia,” pungkas Syahidan.

    Sementara itu penulis khutbah Jum’at Bahasa Lampung H. Komiruddin Imron, Lc., menambahkan; dirinya menulis khutbah Jum’at Bahasa Lampung berawal dari diskusi di group WA yang berisi para khatib shalat Jum’at berjumlah lebih dari 70 orang yang berasal dari lintas kabupaten/kota se-provinsi Lampung. Beberapa anggota group mengusulkan agar selain bahasa Indonesia ada juga khutbah yang berbahasa Lampung. Usulan tersebut kami diskusikan dan didukung penuh oleh H. Syahidan yang juga adalah penanggung jawab WA group khatib shalat Jum’at.

    Ustadz Komiruddin yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan 2 periode ini mengatakan bahwa rincian bahasan dalam Khutbah disesuaikan dengan kegiatan hari besar agama dan hari besar nasional. “Dalam kumpulan khutbah Jum’at ini juga ada Khutbah Idul Adha dan Khutbah Idul Fitri, serta dilengkapi dengan khutbah kedua, baik untuk khutbah Jum’at maupun khutbah Idul Adha dan Idul Fitri,” ucap Ustadz Komir seraya mengatakan bahwa kumpulan khutbah tersebut ada 28 judul dan 316 halaman.

    “Bagi Khatib yang tetap ingin membacakan Khutbah versi Indonesia, tidak usah khawatir, karena dalam buku yang akan terbit kami juga sajikan materi khutbahnya. Materi sama hanya beda bahasa saja,” tambah Komir.

    Dirinya berharap kumpulan buku khutbah Bahasa Lampung ini dapat menambah khasanah budaya khususnya dalam bidang berbahasa yang saat ini sepertinya ada keengganan bagi warga suku Lampung pribumi untuk berbicara mempergunakan bahasa Lampung khususnya dari kalangan milenial dan Gen-Z.

    Tak lupa Ustadz Komir berharap kepada para pembaca, untuk turut serta mengoreksi isi (dialeg) yang tersaji, agar bisa menjadi bahan evaluasi bagi dirinya dan jajaran redaksi nataragung. “Kami sadar bahwa dialeg yang kami sajikan masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran, amat kami harapkan,” pungkas Ustadz Komir. (SMh)

    BIODATA PENULIS KHUTBAH BAHASA LAMPUNG


    Komiruddin Imron lahir di desa Batang Hari Ogan, tanggal 4 Juli 1967, sebuah desa di kecamatan Tegineneng, Pesawaran, Lampung.

    Menghabiskan masa remajanya di Pesantren Darussalam, desa Banjar Negeri, kecamatan Natar.

    Dari kecil sudah hobi membaca buku buku Islam terutama cerita cerita nabi dan kepahlawanan para sahabat Nabi SAW.

    Setelah menamatkan aliyah di pesantren tersebut tahun 1986 ia mendapatkan beasiswa untuk studi di Universitas Islam Muhammad ibnu Sa’ud, Jakarta, salah satu cabang universitas yang ada di Saudi Arabia, yang lebih dikenal dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Dan Arab (LIPIA).

    Lulus dari LIPIA tahun 1992 dan langsung mengabdikan diri di PPM Daarul Hikmah Lampung sampai tahun 2017.

    Pernah menjadi anggota DPRD Lampung Selatan priode 2004 – 2009 dan 2009 – 2014.

    Pernah bekerja sebagai Dewan Pengawas Syariah di BPRS Kotabumi Lampung Utara tahun 2019 – 2023.

    Aktif di organisasi sosial di GMI dan DDII

    Istri : Fajar Andriyani

    Anak anak : Asma Nida UlHaqq (Alumni Al Azhar, Cairo, Mesir), Athiyyah Al Habibah ( Alumni UPI, Bandung), Ikrimah Al Basil (Alumni UNJ,Jakarta), Thoriq Al Muntashir (Mahasiswa Universitas Darmajaya, Bandarlampung) dan Qutaibah Al Muharrir (Mahasiswa UNJ, Jakarta)

    Aktivitas sehari harinya sebagai da’I di berbagai kegiatan Islam, konsultan syariah, dan tutor pada pelatihan syari’ah.

    Buku-buku yang ditulis : Aqidah Seorang Muslim (1991), Paket Khusus Para Da’I (1992), Satu Menit Saja ( Juni 2015), Mari Bercermin (Oktober 2015), Ayahku Murabbiku (Januari 2016), Mata air Kebaikan (April 2016), Semua Dipergilirkan (Januari 2017), 30 Nasihat Ramadhan (April 2017), Semua Ada Jalan (Desember 2017), Jiwa-jiwa Merdeka (Juni 2018), Agar Bahtera Terus Berlayar (Desember 2018), Jalan Panjang Dakwah (September 2019), Melawan Kezaliman (April 2020)

    Alamat : Jl Kartini, Dusun Serbajadi, desa Pemanggilan, Kecamatan Natar. Lampung Selatan.

  • Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat LampungJejak Sejarah yang Membentuk Adat LampungOleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat LampungJejak Sejarah yang Membentuk Adat LampungOleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman. Izinkanlah saya, sebagai salah seorang yang diberi amanah menjaga marwah adat, membawa kita menyusuri jejak nenek moyang. Bukan dengan gaya yang kaku, melainkan seperti kita duduk bersama di beranda sembari minum kopi dan mendengar cerita dari para tetua.
    Mari kita mulai dari sebuah kisah yang pernah bergema di tanah sekala bekhak, di kaki Gunung Pesagi yang disegani.

    Dahulu kala, di dataran tinggi Sekala Brak, hiduplah sebuah komunitas yang dikenal sebagai Suku Tumi. Konon, mereka memuja sebatang pohon bernama Lemasa Kepampang, sebuah pohon nangka yang memiliki dua cabang. Satu cabang berbuah nangka, dan satu cabang lagi adalah jenis kayu bergetah yang disebut sebukau.
    Keistimewaannya, jika terkena getah sebukau akan timbul penyakit, namun getah cabang nangka dipercaya menjadi penawarnya. Itulah kepercayaan turun-temurun mereka, jauh sebelum cahaya Islam menyinari tanah ini.
    Kemudian datanglah empat orang Umpu dari Pagaruyung, yang membawa perubahan besar. Mereka adalah Umpu Bejalan di Way, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong, yang kemudian dikenal sebagai Paksi Pak Sekala Brak, empat bersaudara yang menjadi cikal bakal masyarakat Lampung.
    Bersama Putri Bulan, mereka menyebarkan ajaran Islam dan menggantikan kepercayaan lama. Pohon Lemasa Kepampang yang dikeramatkan itu pun ditebang dan diolah menjadi sebuah singgasana yang disebut Pepadun. Sejak saat itulah, pengaruh animisme mulai terkikis, dan Islam menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
    Dari Sekala Braklah, keturunan mereka menyebar ke berbagai penjuru, mengikuti aliran sungai-sungai besar seperti Way Komering, Way Tulang Bawang, dan Way Seputih. Inilah cikal bakal dari Sai Bumi Ruwa Jurai, satu tanah yang dihuni oleh dua kelompok besar adat: Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin.

    Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, sebuah naskah perundang-undangan adat yang sangat tua, diceritakan dengan jelas silsilah para Umpu ini. Disebutkan bahwa Indra Gajah menurunkan orang Abung, Belunguh menjadi cikal bakal orang Pesisir, dan Pak Lang menurunkan orang Pubian.
    Kitab ini menjadi salah satu rujukan utama kita, sebuah bukti bahwa leluhur telah menyusun aturan hidup yang begitu teratur. Naskah-naskah seperti ini, yang berisi undang-undang adat Krui atau kitab hukum adat lainnya, adalah saksi bisu betapa adat Lampung telah lama menjadi pedoman hidup yang kokoh.
    Mengenal “Piil Pesenggiri”, Jati Diri Orang Lampung
    Kita semua tentu sering mendengar falsafah ini. Tapi, apa sebenarnya makna Piil Pesenggiri? Dalam bahasa sehari-hari, ini adalah tentang harga diri dan kehormatan. Sebuah petuah tua dalam dialek ‘O’ berbunyi: “Tando nou ulun Lappung, wat pi’il pesenggiri, you balak pi’il ngemik malou, igo dighi, ulah nou bejuluk you beadek, iling mewari negiuk ngaku nemuai nyimah ulah nou pandai you nengah you nyappur, ngubali jejamo, begaway balak, sakai sambayan.”
    Yang kurang lebih berarti, tanda orang Lampung adalah memiliki Piil Pesenggiri, berjiwa besar, menjaga malu, dan menghargai diri. Ia memiliki gelar yang terhormat, suka bersaudara, ramah, dan pandai bergaul. Semua itu disatukan dalam semangat gotong-royong.

    Falsafah ini kemudian terurai dalam empat pilar utama:

    1. Bejuluk Beadek (Juluk-Adok): Ini adalah tentang memiliki nama dan gelar kehormatan. Bukan sekadar untuk kebanggaan, tetapi sebuah tanggung jawab. Seseorang yang telah menyandang gelar adat dituntut untuk menjadi teladan, berperilaku terpuji, dan menjaga nama baik keluarganya.
      Ini mengajarkan kita untuk terus berjuang meningkatkan kualitas diri, sejalan dengan firman Allah dalam Surat Ar-Rad ayat 11,
      لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهٖ يَحۡفَظُوۡنَهٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوۡمٍ سُوۡۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهٖ مِنۡ وَّالٍ
      Lahuu mu’aqqibaatum mim baini yadaihi wa min khalfihii yahfazuunahuu min amril laah; innal laaha laa yughaiyiru maa biqawmin hattaa yughaiyiruu maa bianfusihim; wa izaaa araadal laahu biqawmin suuu’an falaa maradda lah; wa maa lahum min duunihiiminw waal
      “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
    2. Nemui Nyimah: Keramahan dan sikap saling memberi. Ini adalah jiwa orang Lampung dalam menyambut tamu atau sesama. Dalam setiap hajatan, dari pernikahan hingga acara adat Begawi, semangat ini selalu terpancar. Kita diajarkan untuk tidak datang dengan tangan hampa dan menerima dengan lapang dada.
      Nilai ini sangat selaras dengan ajaran Islam tentang silaturahmi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa menyambung tali persaudaraan dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan umur.
    3. Nengah Nyappur: Keterbukaan dan kemampuan bersosialisasi. Orang Lampung diajarkan untuk pandai bergaul, bermusyawarah, dan menyelesaikan masalah bersama. Tidak ada ruang untuk sikap eksklusif, karena kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Inilah cermin dari Pancasila, sila ke-4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
    4. Sakai Sambayan: Gotong-royong. Ini adalah pilar yang paling terlihat dalam keseharian, terutama saat ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan bersama, seperti membangun rumah atau mengadakan pesta adat. Semangat ini adalah kekuatan sosial yang luar biasa, mengajarkan kita bahwa beban akan terasa ringan jika dipikul bersama.

    Begitulah, cerita tentang kita, tentang asal-usul yang sarat makna. Dari pohon keramat yang ditebang, lahirlah Pepadun yang menjadi lambang persatuan. Dari empat Umpu, lahir beragam marga yang tersebar. Dan dari semua itu, terukir dengan indah falsafah Piil Pesenggiri yang membentuk karakter kita.
    Nilai-nilai ini bukanlah penghalang bagi modernitas, melainkan perekat bagi identitas. Semangat Nemui Nyimah mengajarkan kita untuk tetap ramah, Nengah Nyappur mengajak kita untuk terbuka, dan Sakai Sambayan mengingatkan kita untuk selalu membantu.
    Marwah adat Lampung adalah marwah kita bersama, yang harus kita jaga agar tetap berdiri tegak, seirama dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila yang kita junjung. <>

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • Mutiara Pagi: Ketika Seekor Burung Mengajarkan Rendah Hati.Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    Mutiara Pagi: Ketika Seekor Burung Mengajarkan Rendah Hati.Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Dalam Al-Qur’an surah An-Naml: 22 Allah SWT berfirman:

    فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍۭ بِنَبَإٍ يَقِينٍۢ

    “Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui, dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita yang meyakinkan.’” (QS. An-Naml: 22)

    Betapa agung kerajaan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Angin tunduk kepada perintahnya. Jin, manusia, dan burung berhimpun dalam barisan tentaranya. Kekuasaan yang dianugerahkan Allah kepadanya hampir tidak pernah diberikan kepada seorang pun selain beliau.

    Namun, di tengah keluasan kerajaan itu, Allah mengajarkan sebuah pelajaran yang tak lekang oleh zaman: seluas apa pun ilmu seorang manusia, tetap ada pengetahuan yang belum ia miliki.

    Seekor burung Hud-hud datang membawa kabar yang belum diketahui oleh seorang nabi sekaligus raja. Bukan karena kedudukan Hud-hud lebih tinggi, melainkan agar seluruh manusia memahami bahwa ilmu adalah milik Allah semata. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, kapan pun Dia kehendaki, dan melalui siapa pun yang Dia kehendaki.

    Betapa sering manusia merasa telah mengetahui segala sesuatu hanya karena sedikit pengalaman, beberapa lembar buku, atau sepotong jabatan yang disandangnya. Padahal, di balik langit yang ia pandang setiap hari masih terbentang samudra ilmu yang belum pernah disentuh oleh pikirannya.

    Allah sengaja menjadikan seekor burung sebagai pembawa berita, agar runtuh kesombongan orang-orang yang mengukur kebenaran berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Sebab hikmah tidak selalu datang dari tempat yang kita sangka, dan nasihat tidak selalu lahir dari lisan orang yang lebih tinggi kedudukannya.

    Orang yang hatinya dipenuhi tawaduk tidak akan malu belajar dari siapa pun. Ia memetik hikmah dari anak kecil, mengambil pelajaran dari orang sederhana, bahkan membaca tanda-tanda kebesaran Allah dari seekor burung yang terbang di angkasa. Karena baginya, yang dicari bukanlah kemuliaan diri, melainkan cahaya kebenaran.

    Semakin dalam ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa luas lautan yang belum diselaminya. Semakin dekat ia kepada Allah, semakin kecil ia memandang dirinya di hadapan kebesaran-Nya. Itulah akhlak para nabi, para ulama, dan orang-orang yang diberi cahaya ilmu.

    ﴿وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ﴾

    “Dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada Yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76) <•/309>
    WaAllahu A’lam


    ✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
    ☀️ Shobahul Khair
    📚 Mutiara Pagi

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Hadiri Wisuda ke-15 IAI Darul Fattah Lampung, Gubernur Mirza Ajak Para Alumni Untuk Berkontribusi Membentuk SDM Adaptif, Berkarakter, dan Mampu Menjawab Tantangan Perubahan Zaman

    Hadiri Wisuda ke-15 IAI Darul Fattah Lampung, Gubernur Mirza Ajak Para Alumni Untuk Berkontribusi Membentuk SDM Adaptif, Berkarakter, dan Mampu Menjawab Tantangan Perubahan Zaman

    nataragung.id – Bandar Lampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengajak Institut Agama Islam (IAI) Darul Fattah Lampung turut berkontribusi dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang adaptif, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan perubahan zaman dengan berlandaskan nilai-nilai agama.

    Hal itu disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Wisuda ke-15 IAI Darul Fattah Lampung di Ballroom Hotel Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (1/8/2026). Sebanyak 191 wisudawan dan wisudawati program Sarjana (S-1) mengikuti prosesi wisuda tersebut.

    Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, Gubernur Mirza mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi.

    “Keberhasilan hari ini merupakan buah dari kerja keras, doa orang tua, bimbingan para dosen, serta pertolongan Allah SWT,” ujarnya.

    Gubernur Mirza, menyampaikan bahwa dunia saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat, ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), perubahan struktur dunia kerja, hingga tantangan sosial yang semakin kompleks. Kondisi tersebut menuntut lahirnya SDM yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai moral.

    Ia menilai kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga diiringi perubahan perilaku masyarakat yang perlu menjadi perhatian bersama.

    “Kalau daerah ingin maju, maka yang harus dibangun terlebih dahulu adalah kualitas sumber daya manusianya. Ketika SDM baik, peradaban juga akan baik,” katanya.

    Lanjut, Gubernur Mirza mengatakan Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara maju melalui visi Indonesia Emas 2045. Selain didukung kekayaan sumber daya alam, Indonesia juga termasuk negara yang akan menikmati bonus demografi sehingga memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar.

    Kondisi tersebut harus diimbangi dengan pembangunan karakter dan kualitas SDM melalui pendidikan, khususnya pendidikan yang memperkuat nilai-nilai keagamaan.

    “Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, budaya, dan peradaban bangsa. Karena itu, penguatan agama menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas,” ujarnya.

    Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada IAI Darul Fattah Lampung yang dinilai telah berkontribusi dalam mencetak generasi muda berlandaskan nilai-nilai Islam.

    Ia berharap 191 lulusan IAI Darul Fattah mampu berkiprah di berbagai bidang profesi, baik sebagai pendidik, ulama, aparatur, pengusaha, maupun profesi lainnya, dengan tetap menjadikan nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan.

    “Kalian mungkin akan menempuh profesi yang berbeda-beda, tetapi kalian sudah memiliki pondasi yang kuat, yaitu agama. Jadikan setiap pekerjaan, jabatan, dan aktivitas sebagai ladang amal serta mengajak masyarakat kepada kebaikan,” pesannya.

    Karena itu, ia berharap lembaga pendidikan Islam, termasuk IAI Darul Fattah, terus memperluas kontribusinya dalam membangun karakter generasi muda di Lampung.

    “Pemerintah Provinsi Lampung siap memberikan dukungan dan akses seluas-luasnya agar pendidikan berbasis nilai-nilai agama dapat menjangkau lebih banyak generasi muda,” jelasnya.

    Sementara itu, Rektor Institut Agama Islam (IAI) Darul Fattah Lampung, Ahmad Hadi Setiawan, menyampaikan pada wisuda tahun akademik 2026, IAI Darul Fattah meluluskan sebanyak 191 mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah yang berasal dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, dan Pendidikan Agama Islam.

    Dari 191 wisudawan ini, Lanjut Ahmad Hadi Setiawan, sebanyak 85 persen lulusan tahun ini telah terserap di dunia kerja. Capaian tersebut didukung oleh peran Career Center kampus yang melakukan proyeksi karier serta memfasilitasi penempatan mahasiswa menjelang kelulusan.

    “Hal ini menjadi salah satu keunggulan IAI Darul Fattah dibandingkan perguruan tinggi lain, karena mahasiswa telah dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja sejak menjelang akhir masa studi,” jelasnya.

    Kepada para wisudawan, Hadi berpesan bahwa prosesi wisuda bukan sekadar penanda selesainya pendidikan strata satu, tetapi menjadi awal pengabdian lulusan sebagai agen perubahan, penggerak kebaikan, dan pribadi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Ia mengingatkan para lulusan untuk menjaga sanad keilmuan, memelihara silaturahmi dengan almamater, serta terus membawa keberkahan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan. (*/SMh)

  • Diikuti 1.000 Lansia, Purnama Wulan Sari Mirza Lepas Jalan Sehat Lansia di Lampung

    Diikuti 1.000 Lansia, Purnama Wulan Sari Mirza Lepas Jalan Sehat Lansia di Lampung

    nataragung.id – Bandar Lampung – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, melepas sekaligus mengikuti kegiatan Jalan Sehat Lansia bertema “Tua Itu Pasti, Bahagia Itu Pilihan” di Lapangan Korpri, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Sabtu (1/8/2026).

    Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 peserta lanjut usia (lansia) tersebut turut dihadiri Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi Lampung, Agnesia Bulan Marindo, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Lampung Meiry, perwakilan Happily Harlena, serta perwakilan Sekar Indonesia Rahma.

    Dalam sambutannya, Purnama Wulan Sari Mirza yang kerab disapa Batin Wulan mengapresiasi antusiasme para peserta yang hadir sejak pagi. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ajang untuk meningkatkan semangat hidup sehat, mempererat kebersamaan, serta menghadirkan kebahagiaan bagi para lansia di Provinsi Lampung.

    “Kegiatan Jalan Sehat Lansia ini diharapkan dapat menambah semangat para lansia agar tetap sehat, aktif, panjang umur, dan bahagia,” ujarnya.

    Batin Wulan juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, sehingga dapat berjalan dengan baik dan diikuti oleh ribuan peserta.

    Usai memberikan sambutan, Batin Wulan secara resmi melepas peserta Jalan Sehat Lansia sebagai tanda dimulainya kegiatan.

    Selain jalan sehat, acara juga dirangkai dengan berbagai kegiatan, seperti talkshow kesehatan, hiburan dari Moluccan Soul, serta pembagian doorprize kepada para peserta. (*/SMh)

  • Gubernur Mirza ajak HKTI Lampung turut berperan dalam memperkuat Hilirisasi dan wujudkan kesejahteraan Petani Lampung

    Gubernur Mirza ajak HKTI Lampung turut berperan dalam memperkuat Hilirisasi dan wujudkan kesejahteraan Petani Lampung

    nataragung.id – Bandar Lampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berharap Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menjadi organisasi yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi petani sekaligus menjadi penghubung antara pemerintah, dunia usaha, dan petani dalam membangun sektor pertanian di Provinsi Lampung.

    Hal tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Pelantikan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HKTI se-Provinsi Lampung dan Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HKTI Provinsi Lampung, yang berlangsung di Balai Keratun Lantai III, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jumat (31/7/2026).

    Dalam kegiatan itu, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI, Abdul Kadir Karding, melantik pengurus 15 DPC HKTI Kabupaten/Kota di Lampung untuk masa bakti 2026–2031.

    Gubernur Mirza menegaskan, HKTI memiliki peran strategis dalam mendukung agenda swasembada pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun sektor pertanian sehingga membutuhkan organisasi yang mampu menjembatani kepentingan petani dengan dunia usaha.

    “HKTI harus hadir melalui kerja nyata yang terukur untuk menjawab kebutuhan petani. Pemerintah membutuhkan HKTI sebagai jembatan antara petani, dunia usaha, dan pemerintah agar dapat tumbuh bersama,” ujar Mirza.

    Ia mengatakan, arah pembangunan pertanian di Lampung tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong hilirisasi komoditas agar memberikan nilai tambah bagi petani. Menurutnya, potensi pertanian Lampung masih sangat besar dan perlu didukung kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

    Gubernur Mirza berharap HKTI dapat menjadi motor penggerak pengembangan hilirisasi komoditas seperti padi, jagung, dan singkong melalui penguatan kelembagaan petani, kemitraan usaha, hingga peningkatan daya saing produk.

    “Program-program unggulan HKTI ke depan akan menjadi bagian dari program prioritas Pemerintah Provinsi Lampung. Kita ingin pertanian tidak hanya menghasilkan bahan baku, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan petani,” katanya.

    Selain itu, ia menilai HKTI juga harus mengambil peran dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui penerapan teknologi, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta mendorong regenerasi petani agar sektor pertanian tetap berkelanjutan.

    Lanjut, Gubernur Mirza juga menyampaikan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung untuk memperkuat sektor pertanian melalui berbagai program pendukung, termasuk pengembangan infrastruktur pascapanen, pembangunan fasilitas pengering (dryer), silo penyimpanan hasil panen, hingga pemberian beasiswa bagi anak-anak petani.

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPN HKTI Abdul Kadir Karding mengajak seluruh jajaran HKTI di Lampung memanfaatkan momentum ketika sektor pertanian menjadi prioritas nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

    Menurutnya, pemerintah saat ini tengah mempercepat berbagai program strategis, mulai dari optimalisasi lahan, pembangunan sawah baru, revitalisasi irigasi, pengembangan benih unggul, hingga modernisasi pertanian berbasis teknologi.

    “Peran HKTI akan diuji. Organisasi ini harus menjadi mitra pemerintah dalam mengawal kebijakan pertanian di lapangan demi tercapainya swasembada pangan dan meningkatnya kesejahteraan petani,” ujar Abdul Kadir.

    Ia menilai Lampung memiliki potensi besar sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan komoditas unggulan seperti jagung, gula, dan tapioka. Karena itu, HKTI diharapkan mampu memperkuat pemberdayaan petani, memperluas akses pasar, mengembangkan kelembagaan ekonomi petani, serta mendorong ekspor komoditas pertanian.

    Abdul Kadir juga menegaskan HKTI harus bertransformasi menjadi organisasi yang memberikan manfaat langsung bagi petani melalui advokasi kebijakan, pendampingan usaha tani, regenerasi petani, serta penguatan daya saing pertanian.

    “HKTI harus mampu menunjukkan perannya. Bendera HKTI harus berkibar untuk kesejahteraan petani, khususnya di Provinsi Lampung,” tegasnya. (*/SMh)

  • APKASI 2026 Perkuat Sinergi Pusat-Daerah, Bupati Radityo Egi Dorong Kebijakan yang Memajukan Kabupaten

    APKASI 2026 Perkuat Sinergi Pusat-Daerah, Bupati Radityo Egi Dorong Kebijakan yang Memajukan Kabupaten

    nataragung.id – Bandung – Sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi salah satu kunci percepatan pembangunan di kabupaten.

    Berangkat dari semangat itu, Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menghadiri Rapat Dewan Pengurus III APKASI Tahun 2026 di Hotel Grand Sunshine Resort & Convention, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (31/7/2026).

    Forum yang diikuti jajaran Dewan Pengurus APKASI bersama para bupati dari berbagai daerah di Indonesia menjadi strategi ruang untuk memperkuat koordinasi, menyamakan langkah, serta membangun kolaborasi antarpemerintah kabupaten dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan daerah.

    Bupati Egi mengatakan, kehadirannya dalam rapat tersebut merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan untuk terus memperluas jejaring kerja sama sekaligus memperkuat komunikasi dengan pemerintah kabupaten lainnya demi mendorong pembangunan yang lebih berkualitas.

    “Hari ini saya mengikuti Rapat Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) Tahun 2026 di Kabupaten Bandung bersama jajaran pengurus dan para bupati dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Bupati Egi.

    Menurutnya, APKASI memiliki peran penting sebagai wadah para kepala daerah dalam bertukar gagasan, pengalaman, dan pandangan untuk memperkuat tata kelola pemerintahan daerah sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

    Dalam rapat itu, sejumlah isu strategis menjadi pembahasan utama, di antaranya penguatan otonomi daerah, evaluasi program kerja APKASI, hingga kebijakan fiskal daerah yang dinilai berperan penting dalam mendukung percepatan pembangunan di tingkat kabupaten.

    “Kami membahas sejumlah isu strategi, mulai dari penguatan otonomi daerah, evaluasi program kerja APKASI, hingga kebijakan fiskal daerah agar pembangunan di kabupaten dapat berjalan lebih optimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Egi.

    Bupati Egi berharap, hasil pembahasan yang lahir dalam forum APKASI dapat semakin memperkuat hubungan kemitraan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

    Menurutnya, kolaborasi yang solid akan menjadi kunci dalam menghadirkan kebijakan yang adaptif terhadap kebutuhan daerah sekaligus mampu mempercepat pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia.

    “Semoga hasil pertemuan ini dapat memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah serta melahirkan kebijakan yang semakin mendukung kemajuan kabupaten di seluruh Indonesia,” kata Bupati Egi. (mara-kmf)

  • Hujan Tak Surutkan Semangat Warga, Bupati Radityo Egi Hadir Menguatkan Tradisi Sedekah Bumi yang Mengakar 206 Tahun

    Hujan Tak Surutkan Semangat Warga, Bupati Radityo Egi Hadir Menguatkan Tradisi Sedekah Bumi yang Mengakar 206 Tahun

    nataragung.id – Kalianda – Guyuran hujan yang sempat membasahi Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, Jumat pagi (31/7/2026), tak mampu mengurangi semangat masyarakat untuk mengikuti tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan.

    Bahkan kehadiran Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, yang membersamai warga sejak pagi hingga seluruh rangkaian acara selesai, semakin menambah semarak perayaan tradisi adat yang telah bertahan selama 206 tahun sejak 1820.

    Meski cuaca sempat mendung disertai hujan, warga dari berbagai kalangan tetap memadati lokasi kegiatan. Setelah hujan reda dan matahari kembali bersinar, antusiasme masyarakat justru semakin terasa. Mereka mengikuti setiap proses sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan hasil bumi sekaligus bentuk kecintaan terhadap tradisi warisan leluhur yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

    Suasana semakin hangat ketika Bupati Radityo Egi Pratama tiba di lokasi. Orang nomor satu di Kabupaten Lampung Selatan itu disambut penuh keakraban oleh masyarakat yang sejak pagi bergotong royong mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.

    Kehadiran Bupati Egi dinilai menjadi bentuk perhatian sekaligus dukungan nyata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan terhadap pelestarian budaya lokal.

    Bagi masyarakat Desa Sumur Kumbang, momentum tersebut memiliki makna tersendiri. Selain menjadi tradisi tahunan yang penuh dengan nilai religius dan kebersamaan, kehadiran kepala daerah memberikan semangat baru untuk terus menjaga budaya yang telah diwariskan selama lebih dari dua abad.

    Kepala Desa Sumur Kumbang, Armad, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bupati Lampung Selatan beserta jajaran dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, dukungan pemerintah daerah menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus melestarikan tradisi yang menjadi identitas desa.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada Bupati Lampung Selatan beserta seluruh jajaran. Kegiatan ini bukan sekedar seremonial, tetapi merupakan tradisi turun-temurun yang harus terus dijaga. Bagi kami, Sedekah Bumi adalah wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat rezeki, hasil panen, dan kesehatan yang telah diberikan,” ujar Armad.

    Rasa syukur dan kebahagiaan juga dirasakan warga. Salah seorang masyarakat, Nur Astuti, mengaku terharu karena untuk pertama kalinya tradisi Sedekah Bumi di Desa Sumur Kumbang dihadiri langsung oleh Bupati Lampung Selatan.

    “Alhamdulillah tahun ini Pak Bupati hadir. Kami sangat berterima kasih karena Pak Bupati telah memberikan dukungan dan semangat kepada masyarakat untuk terus melestarikan tradisi Sedekah Bumi ini,” kata Nur Astuti.

    Menurut Nur Astuti, tradisi Sedekah Bumi yang rutin dilaksanakan setiap bulan Muharam bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan wujud rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas hasil panen, kesehatan, dan rezeki yang diterima. Oleh karena itu, tradisi tersebut telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga Desa Sumur Kumbang.

    Hal senada disampaikan salah seorang pemuda desa, Agus. Ia menilai kehadiran Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menjadi dorongan moral bagi generasi muda untuk terus menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur.

    “Kami senang dan bangga karena Pak Bupati bisa hadir langsung di tengah masyarakat. Kehadirannya menjadi motivasi bagi kami sebagai generasi muda untuk terus menjaga tradisi ini agar tidak hilang dan tetap dikenal oleh anak cucu nanti,” ujar Agus.

    Masyarakat berharap perhatian dan dukungan Pemkab Lampung Selatan terhadap pelestarian budaya lokal dapat terus berkelanjutan. Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, tradisi Sedekah Bumi di Desa Sumur Kumbang diharapkan tetap lestari serta menjadi kebanggaan daerah yang terus diwariskan kepada generasi mendatang. (mara-kmf)